Apakah Boleh Seseorang Ber-aqiqah dengan Uang Hasil Pinjaman?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Melahirkan seorang anak baik laki-laki ataupun perempuan merupakan sebuah anugerah terbesar yang harus disyukuri. Namun, selalu ada saja yang terjebak ke dalam kufur nikmat karena anak yang lahir itu tidak sesuai keinginannya dalam hal jenis kelamin ataupun mengenai fisiknya. Bagi seorang muslim, hal tersebut tidak boleh dilakukan.

Dalam Islam, setelah seorang anak lahir, maka orangtua mempunyai kewajiban untuk melaksanakan aqiqah. Hukum aqiqah adalah sunnah mu’akkad. Aqiqah bagi anak laki-laki dengan dua ekor kambing, sedangkan bagi wanita dengan seekor kambing. Apabila mencukupkan diri dengan seekor kambing bagi anak laki-laki, itu juga diperbolehkan.

Namun, mengenai aqiqah, tidak semua orangtua mempunyai rezeki yang sama, ada yang terbilang mampu ada juga yang tidak, maka sering terjadi orangtua yang kemudian melakukan pinjaman untuk melaksanakan aqiqah, mengenai hal ini, bagaiamana hukumnya dalam Islam? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Seorang muslim dituntut untuk menghidupkan sunnah-sunah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aqiqah hukumnya sunnah muakkadah dan tidak wajib menurut pendapat yang kuat, dan hendaknya orang yang memiliki kemampuan melaksanakan sunnah ini.

Adapun orang yang belum mampu saat itu maka jika dia memiliki sumber penghasilan yang dia berharap bisa membayar hutang dengannya di kemudian hari maka tidak mengapa dia berhutang

Imam Ahmad rahimahullahu berkata:

إذا لم يكن عنده ما يعق فاستقرض رجوت أن يخلف الله عليه إحياء سنة

“Kalau dia tidak memiliki harta untuk aqiqah kemudian berhutang maka aku berharap Allah menggantinya karena dia telah menghidupkan sunnah.” (Al-Mughny, Ibnu Qudamah 13/395)

Baca Juga : Benarkah Main Games Termasuk Menyekutukan Allah Subhanahu Wata’alaa?

Namun kalau tidak memiliki penghasilan tetap maka jangan dia berhutang karena nanti akan memudharati dia dan orang yang menghutanginya. (Lihat Kasysyaf Al-Qina’ ‘an Matnil Iqna’, Manshur bin Yunus Al-Bahuti 2/353)

Allah ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ)(التغابن: من الآية16)

“Bertaqwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian.”

Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu:

وأما الاستقراض من أجل العقيقة فينظر، إذا كان يرجو الوفاء كرجل موظف، لكنه صادف وقت العقيقة أنه ليس عنده دراهم، فاستقرض من شخص حتى يأتي الراتب، فهذا لا بأس به، وأما إذا كان ليس له مصدر يرجو الوفاء منه، فهذا لا ينبغي له أن يستقرض

“Dan adapun meminjam uang untuk keperluan aqiqah maka dilihat, kalau dia berharap bisa mengembalikan seperti seorang pegawai misalnya, akan tetapi ketika waktu aqiqah dia tidak memiliki uang, kemudian dia meminjam uang sampai datang gaji maka ini tidak mengapa, adapun orang yang tidak punya sumber penghasilan tetap yang dia berharap bisa membayar hutang dengannya maka tidak selayaknya dia berhutang.” (Liqa Al-Babil Maftuh, Al-Maktabah Asy-Syamilah)

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Ghibah Termasuk Dosa Besar, Inilah Ancaman Allah Ta’alaa Bagi yang Melakukannya!

Originally posted 2017-08-27 05:36:39.