Menjual Kulit Hasil dari Hewan Qurban, Diperbolehkan?

Sumber foto dari blog.act.id
HIJAZ.ID Idul Adha merupakan salah satu hari besar umat muslim yang mana di dalamnya terdapat kesempatan untuk saling memberi serta saling menguatkan tali silaturrahmi. Membagikan daging qurban kepada saudara yang berhak menerimanya dan saling berbagi kebahagiaan. Namun terkadang, yang dibagikan hanya pada bagian daging, dan sangat jarang untuk membagi kulit. Lantas bagaimana jika kulit dari qurban tersebut dijual? Apakah diharamkan? Berikut simak ulasannya.

Berdasarkan hadits, dijelaskan bahwasanya menjual daging atau bagian lain dari hewan qurban, maka hukumya dilarang. Pada riwayat lain disebutkan, Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam memerintahkanku agar aku mengurusi onta-onta kurban beliau, menshadaqahkan dagingnya, kulitnya dan jilalnya. Dan agar aku tidak memberikan sesuatupun (dari kurban itu) kepada tukang jagalnya. Dan beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Kami akan memberikan (upah) kepada tukang jagalnya dari kami” (HR Muslim No. 348, 1317)

Dari Abu Hurairah, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

 “Barangsiapa menjual kulit hasil sembelihan qurban, maka tidak ada qurban baginya.” (HR. Al Hakim. Beliau mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adz Dzahabi mengatakan dalam hadits ini terdapat Ibnu ‘Ayas yang didho’ifkan oleh Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib No. 1088)

Salamah bin Al Akwa’ Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

”Barangsiapa di antara kalian berqurban, maka janganlah ada daging qurban yang masih tersisa dalam rumahnya setelah hari ketiga.” Ketika datang tahun berikutnya, para sahabat mengatakan,”Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?” Maka beliau menjawab,”(Adapun sekarang), makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami paceklik sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu.”( HR. Bukhari No. 5569 dan Muslim No. 1974)
Baca Juga: Meminjam Barang Hanya Sebentar Namun Tanpa Izin, Haramkah?

Menurut pendapat para ulama berkaitan dengan hukum menjual kulit qurban, Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata :

“Jika seseorang telah menetapkan binatang kurban, wolnya tidak dicukur. Adapun binatang yang seseorang tidak menetapkannya sebagai kurban, dia boleh mencukur wolnya. Binatang kurban termasuk nusuk (binatang yang disembelih untuk mendekatkan diri kepada Allah), dibolehkan memakannya, memberikan makan (kepada orang lain) dan menyimpannya. Ini semua boleh terhadap seluruh (bagian) binatang kurban, kulitnya dan dagingnya. Aku membenci menjual sesuatu darinya. Menukarkannya merupakan jual beli”.

Dijelaskan pula oleh Syeikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam bahwasanya:

“Di antara faidah hadits ini menunjukkan, bahwa kulit binatang kurban tidak dijual. Bahkan penggunaan kulitnya adalah seperti dagingnya. Pemilik boleh memanfaatkannya, menghadiahkannya atau menshadaqahkannya kepada orang-orang fakir dan miskin. (Lihat Taudhihul Ahkam Min Bulughul Maram 6/70)

Dengan demikian, maka menjual kulit dari hasil hewan qurban merupakan hal yang tidak dianjurkan, masih banyak saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita untuk memberi, untuk saling membahagiakan, maka dari padanya menyedekahkan adalah jalan yang lebih baik daripada menjualnya.

Wallahu A’lam Bisshawab

Baca Juga: Memajang Foto atau Lukisan Makhluk Bernyawa, Haramkah?

Originally posted 2017-08-27 08:54:27.