Hati-hati dengan Pengucapan Kata “Seandainya”, Bisa Jadi Diharamkan!

Sumber foto dari penadeni.com
HIJAZ.ID Manusia, merupakan makhluk yang senantiasa tidak pernah merasa puas terhadap sesuatu, ketika suatu keiginan tercapai, maka pada umumnya akan timbul suatu keinginan yang lain. Dan pada saat timbul suatu keinginan tersebut seringkali seseorang mengucapkan kata “Seandainya” atau “Andaikata” dalam menginginkan sesuatu atau harapan tertentu, tau bahkan penyesalan. Lantas bagaimana dengan hukum mengatakan kata “Seandainya” dalam hukum Islam? Berikut imak ulasannya.

Berkaitan dengan hal tersebut Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf: 21)

Dijelaskan pula berdasarkan hadits bahwasanya Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)

Pun terkadang seseorang terkesan membenci sesuatu atau menyesali sesuatu atas perkara yang lain, padahal segala sesuatu yang terkesan kita sesali bisa jadi hal tersebut merupakan seseuatu yang terbai bagi kita. Sebagaimana Allah Subahanahu wata’ala berfirman, bahwasanya:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 216)
Pun juga dalam ayat lain bahwasanya:

Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.”(QS. Huud: 107)

Dari Umar bin Al Khoththob Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah No.310)

Pun juga dikatakan bahwa Allah akan memudahkan jalan kita seiring dengan ikhtiar yang kita lakukan, daripada hanya sekedar mengandai-andaikan sesuatu. Al Munawi mengatakan bahwasanya:

”Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakkal tidak harus meninggalkan sebab, akan tetapi dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rizki dengan usaha sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rizki. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8)

Baca Juga: Istiqomah Sholat Rawatib, akan dibangunkan Istana di Surga

Dalam pernyataan lainnya, penggunan kata “seandainya” dibagi menjadi beberapa kondisi, sesuai konteks digunakannya kata tersebut.

Dijelaskan oleh Syeikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin dalam Qoulul Mufid (2/220-221), juga oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam Bahjatul Qulub (Hal. 28) tentang hukum mengatakan “Seandainya”, yaitu sebagai berikut.

  1. Jika perkataan “Seandainya” untuk menentang syariat agama

Dalam hal ini maka berkata “Seandainya” dihukumi haram. Seperti yang dijelaskan dalam suatu ayat bahwasanya Allah Subhahanahu wata’ala berfirman:

“(Orang munafik) merekalah yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “anadaikan mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh”. Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Ali Imran: 168).

Misalnya: Jika minum khamr itu tidak dilarang pasti kita bisa menjualnya

  1. Jika perkataan “Seandainya” untuk menentang takdir

Dalam hal ini maka berkata “Seandainya” dihukumi haram. Seperti yang dijelaskan dalam suatu ayat bahwasanya Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Mereka (orang-orang munafik) berkata: ‘Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?’. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (QS. Ali Imran: 154).

  1. Jika perkataan “Seandainya” untuk penyesalan

Dalam hal ini maka berkata “Seandainya” dihukumi haram. Seperti yang dijelaskan dalam suatu ayat bahwasanya Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Insan: 30)

Semangatlah dalam menggapai apa yang manfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jangan pula mengatakan: ‘Andaikan aku berbuat demikian tentu tidak akan terjadi demikian’ namun katakanlah: ‘Ini takdir Allah, dan apapun yang Allah kehendaki pasti Allah wujudkan’ karena berandai-andai membuka tipuan setan.” (HR. Muslim 2664)

4. Jika perkataan “Seandainya” untuk menjadikan takdir dalih berbuat maksiat

Dalam hal ini maka berkata “Seandainya” dihukumi haram. Seperti yang dijelaskan dalam suatu ayat bahwasanya Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Dan mereka berkata: “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat)”.” (QS. Az Zukhruf: 20)

  1. Jika perkataan “Seandainya” untuk berangan-angan

Dalam hal ini hukum berkata “seandainya” dihukumi sesuai dengan apa yang dibayangkan, apabila yang dibayangkan tentang kemaksiatan maka tentu dilarang dan berdosa

  1. Jika perkataan “Seandainya” untuk pemberitaan

Dalam hal ini hukum berkata “seandainya” dibolehkan.

Dalam hal ini, maka seorang makhluk dianjurkan untuk berikhtiar, sebagaimana dalam firman Allah yang menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum tersebut berikhiar untuk mengubah keadaan pada mereka sendiri. Dengannya juga terdapat banyak doa yang mampu menguatkan ikhtiar seseorang, daripada hanya sekedar penyesalan atau pengandaian.

Wallahu A’lam Bisshawab

Baca Juga: Bagi Makmum, Perlu Memperhatikan Hal ini Ketika Imam Sholat Melakukan Kesalahan

Originally posted 2017-08-28 08:31:09.