Seburuk-Buruknya Pencuri Ialah Mencuri Dalam Shalat!

Sumber Foto Dari: klenan.wordpress.com

HIJAZ.ID – Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yang sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani menyatakan, “Manusia paling buruk pencuriannya adalah orang yang mencuri dari sholat”. Mereka (para sahabat) berkata, “Bagaimana ia mencuri sholatnya?” Beliau bersabda, “Dia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya”, atau beliau bersabda, “Dia tidak meluruskan punggungnya ketika rukuk dan sujud”.

Berkaitan degan pemaknaan terhadap hadist di atas, adalah sebuah renungan bagi siapa pun kita tentang kualitas ibadah shalat yang selama ini dikerjakan. Sudahkah benar-benar sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam? Atau shalat yang gerakannya tergesa-tesa, mengerjakan sekadarnya tanpa dibarengi dengan upaya untuk terus melakukan perbaikan.

Betapa seorang sahabat yang hidup di massa Nabi, secara langsung bertemu dengan Nabi, setiap kali waktu shalat berjamaah dengan Nabi, masih dinilai bermasalah dalam shalatnya oleh Nabi. Bagaimana dengan kita yang sejak diajarkan shalat hingga saat ini tidak kunjung belajar pada tuntunan sunnah Nabi. Melaksanakan shalat hanya didasarkan pada pengetahuan yang tidak jelas sumbernya. Kemudian teramat percaya diri bila akan diterima?

Ketahuilah bahwa mempelajari dan mengamalkan agama ini merupakan pekerjaan seumur hidup. Tiada batasan dan tiada pernah berhenti. Semestinya sebagai seorang hamba yang dekat dengan kesalahan, kita selalu berupaya untuk belajar memperbaiki setiap amalan-amalan yang dilakukan. Janganlah terlampau percaya diri. Bukankah agama mengajarkan kita untuk selalu introspeksi? Sebab sangat terbuka peluang salah dan dosa.

Baca Juga: Siapakah yang Paling Bernilai di antara Kita?

Hadist di atas merupakan sebuah teguran keras bagi tiap-tiap muslim dan muslimah, bahwa seburuk-buruknya pencuri ialah yang mencuri dalam shalatnya. Yaitu orang-orang yang tidak sempurna dalam rukuk dan sujudnya. Ketahuilah bahwa Rasulullah mengajarkan kepada kita sebuah gerakan ruku’ yang benar. Sebagaimana tertuang jelas dalam hadist yang diriwayatan oleh Ibnu Majah, Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat. Ketika ruku’, punggungnya rata sampai-sampai jika air dituangkan di atas punggungnya, air itu akan tetap diam.”

Maksud dari hadist tersebut ialah, saat ruku’ punggung Rasulullah lurus dan tidak membungkuk. Hingga diibaratkan, bila ada air di atasnya, maka air itu akan tetap diam dan tidak akan tumpah. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah, apakah kita sudah mengupayakan ruku’ yang demikian? Atau selama ini justeru ada ruku’ versi lain yang menghiasi setiap pelaksanaan shalat kita?

Kemudian tentang sujud yang sesuai ajaran Rasulullah, dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dijelaskan, “Sebuah shalat tidak sah di dalamnya seseorang tidak menegakkan punggungnya di dalam ruku’ dan sujud”. Mari perhatikan, betapa kerasnya peringatan tentang kesungguhan menegakkan punggung saat sujud. Bahwa ada sebagian muslim yang di saat sujud, punggungnya seperti membungkuk dan tidak lurus. Dalam fiqh shalat dijelaskan, untuk mengukur lurus – tegak atau tidaknya punggung saat sujud dapat dilihat melalui lurusnya bagian lutut hingga pangkal paha. Bila sudah lurus, maka jarak antara lutut dengan dahi bisa dipastikan membuat punggung kita tegak dan lurus.

Maka mari dari dua gerakan shalat itu (ruku’ dan sujud), apakah kita termasuk ke dalam golongan yang disebut pencuri atau tidak? Jika masih ragu, sempurnakanlah terus di setiap waktu. Jangan memilih untuk meneruskan kebiasaan yang belum tentu ada dasarnya. Jangan memilih untuk memberatkan tradisi dari sunnah Rasulullah.

Sebab teramat berat ancaman yang disampaikan oleh baginda Nabi, terkisah dalam sebuah peristiwa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan At-Thabrani, Pada suatu hari Rasulullah melihat seseorang sedang sholat dengan gerakan yang cepat, tanpa menyempurnakan posisi sujud dan ruku’-nya, maka Rasulullah SAW bersabda, (Kalau dia mati dalam kondisi sholat model begini, maka dia mati bukan di atas (petunjuk) agama Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Baca Juga: Inilah Pahala Sunnah yang Bisa Didapatkan di Masjid dan Seringkali Diabaikan!

Originally posted 2017-08-28 10:01:01.