Adakah Sifat Ciri-Ciri Cinta Dunia dalam Diri Kita? Cek disini!

Sumber Foto Dari : mozaik.inilah.com
HIJAZ.ID Setiap manusia berawal dari ketiadaan menjadi ada di dunia, dan kelak akan kembali pada keadaan tidak ada. Oleh karena itu, kehidupan manusia di dunia ini hanyalah sementara. Kelak manusia akan ditempatkan di tempat kekal abadi selamanya itu disebut dengan akhirat.
Percaya tentang kehidupan ini sementara dan adanya akhirat kelak merupakan bukti keimanan seseorang. Sebagaimana firman Allah disebutkan dalam surah al-Baqarah ayat 4, yang berisi tentang salah satu ciri-ciri orang beriman.
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
“Dan mereka yang beriman kepada kitab (al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat.”
Setiap orang-orang yang beriman kelak akan ditempatkan di tempat terbaik yakni surga selamanya. Sedangkan orang-orang yang membangkang dan tidak ada iman dalam hatinya, maka mereka akan ditempatkan di tempat terburuk yakni neraka selamanya atau sesuai dengan keridha’an Allah.
Namun, jalan menuju kebaikan dan menjadi golongan orang-orang yang beriman tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak rintangan yang dilalui, baik berupa cobaan maupun ujian.
Seluruh manusia diberikan karunia berupa tertarik pada kehidupan dunia, sekaligus dijadikan dunia itu ujian bagi mereka. Sebagaimana Allah berfirman dalam surah Ali-Imran ayat 14;
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, iaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang terbaik.”

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munaafiqun: 9).

Oleh karena itu di sini Allah SWT berfirman, “Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” Ibnu Zaid berkata, “Artinya berhati-hatilah terhadap mereka, jangan sampai mengorbankan agama kalian.”

Ada pula Rasulullah saw bersabda;
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah beramal soleh, sebelum datang fitnah-fitnah yang banyak. Seseorang di waktu pagi masih beriman, namun di petang hari dia kafir. Atau seseorang di petang hari dia beriman, dan di pagi hari dia kafir. Dia menjual agamanya dengan secebis kesenangan dunia.” (Riwayat Muslim)

Penyakit ini sangat berbahaya sebagaimana Rasulullah saw bersabda,
يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“Nyaris-nyaris umat terdahulu (kalangan kafir) menyerbu kalian (orang beriman) seperti halnya orang-orang yang menyerbu hidangan. Seseorang berkata; Apakah karena sedikitnya kami waktu itu? Baginda bersabda; Bahkan kalian waktu itu ramai sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit al-wahn. Seseorang bertanya; Apakah wahn itu? Baginda menjawab; Cinta dunia dan takut mati.” (Riwayat Abi Dawud)
Berikut ini ciri-ciri penyakit cinta dunia yang harus dihindari antara lain;
  1. Malas beribada, jika mengerjakan ibadah itu kerena terpaksa, dan dikerjakan dengan terburu-buru.
  2. Bersifat pelit, dan khawatir hartanya berkurang karena sedekah
  3. Sering berbica dusta (berbohong)
  4. Menyepelekan amanah bahkan ingkar janji.
  5. Rela mengadaikan imannya untuk kepentingan dunia (harta).
  6. Enggan beramar ma’ruf dan nahi munkar.
  7. Merasa sombong dengan harta yang dimilikinya.

Originally posted 2017-09-02 08:57:04.