Berapa Bagian Daging Bagi Pihak yang Berqurban?

Sumber foto dari inovasee.com

HIJAZ.ID Qurban merupakan salah satu dari ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan bagi muslim yang mampu melaksanakannya. Selain sebagai ibadah kepada Allah, qurban juga merupakan sarana menyambung ukhuwah dengan yang lain. Berkaitan dengan hal tersebut, lantas bagaimana dengan pembagian daging hasil qurban? Apakah pihak yang berqurban boleh ikut memakan hasil qurbannya serta berapa banyak bagiannya? Berikut simak ulasannya.

Berkaitan dengan qurban, Allah Subhanahu wata’ala berfirman, bahwasanya:

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al Hajj: 28)
Berkaitan dengan hukum pembagian daging hasil qurban, terdapat penjelasan bahwasanya:

“Adapun daging hasil sembelihan qurban, maka lebih utama sepertiganya dimakan oleh shohibul qurban, sepertiganya lagi dihadiahkan pada kerabat, tetangga, dan sahabat dekat, serta sepertiganya lagi disedekahkan kepada fakir miskin. Namun jika lebih atau kurang dari sepertiga atau diserahkan pada sebagian orang tanpa lainnya (misalnya hanya diberikan pada orang miskin saja tanpa yang lainnya), maka itu juga tetap diperbolehkan. Dalam masalah ini ada kelonggaran.” ( Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’, soal ketiga dari Fatwa No. 1997, 11/424-425, Mawqi’ Al Ifta’)

Baca Juga: Membagikan Daging Kurban, Sebaiknya Mentah atau Matang?

Terdapat pula hadit yang menjelaskan, yaitu dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ’anhu, bahwasanya:

“Nabi Shalallahu ’alaihi wassalam memerintahkan dia untuk mengurusi unta-unta hadyu. Beliau memerintah untuk membagi semua daging qurbannya, kulit dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin) untuk orang-orang miskin. Dan beliau tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun dari qurban itu kepada tukang jagal (sebagai upah). (HR. Bukhari no. 1717 dan Muslim no. 1317) (Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, 2/378, Al Maktabah At Taufiqiyah)

Dalam fatwa lain dijelaskan bahwasanya:

“Hasil sembelihan qurban dianjurkan dimakan oleh shohibul qurban (orang yang berqurban). Sebagian lainnya diberikan kepada faqir miskin untuk memenuhi kebutuhan mereka pada hari itu. Sebagian lagi diberikan kepada kerabat agar lebih mempererat tali silaturahmi. Sebagian lagi diberikan pada tetangga dalam rangka berbuat baik. Juga sebagian lagi diberikan pada saudara muslim lainnya agar semakin memperkuat ukhuwah”. (Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’, soal kesembilan dari Fatwa No. 5612, 11/423-424, Mawqi’ Al Ifta’)

Terkait dengan hukum bagian hasil qurban, Abdullah bin Wahb menyatakan bahwa Imam Malik pernah berkata bahwasanya:

 “Saya senang jika shohibul qurban makan daging kurbannya. Karena Allah berfirman, yang artinya: ‘Makanlah bagian hewan kurban’.” Ibnu Wahb mengatakan, Saya bertanya kepada Al-Laits dan ia menjawab dengan jawaban yang sama. (Tafsir Ibn Katsir, 5:416)

Dengan demikian, berdasarkan uraian diatas, maka hukum pihak yang berqurban atas daging hasil qurbannya yaitu diperbolehkan untuk ikut memakannya. Berkaitan dengan hukum memakan daging hasil qurban sendiri ada pendapat yang menyebutkan bahwa hal tersebut sunnah, namun juga ada yang mengharuskan. Untuk jumlah pembagian daging, ada pendapat yang menganjurkan maksimal sepertiga bagian untuk shohibul qurban (orang yang berqurban), namun terdapat pendapat lain juga yang menyebutkan hukum lain. Intinya, dalam hal ini adalah bersedekah, saling memberi, dan saling menguatkan satu sama lain, serta ikhlas Lillahi ta’ala.

Wallahu A’lam Bisshawab

Baca Juga: Menjual Kulit Hasil dari Hewan Qurban, Diperbolehkan?

Originally posted 2017-09-01 14:04:14.