Agama Ialah Sesuatu yang Diturunkan atau Ditemukan?

Sumber Foto Dari: nspirasimu-motivasiku.blogspot.co.id/

HIJAZ.ID – Dalam sebuah hadist Rasulullah pernah mengingatkan, bahwa setiap kita terlahir dalam keadaan fitrah. Kemudian orangtualah yang membawa keyakinan kita pada Islam, Nasrani, atau keyakinan lain yang pada intinya ditentukan oleh apa agama orangtua kita. Maka bersyukurlah kita yang lahir dari keluarga muslim, hingga tidak perlu bersusah payah mencari hidayah dan jalan menemukan Allah.

Tersebab itulah tidak bisa dipungkiri jika hampir semua agama di dunia menyebar akibat keturunan. Agama yang turun temurun. Tidak terkecuali Islam. Generasi muslim era kini adalah objek turunan dari keyakinan para orangtua. Begitu seterusnya hingga generasi-generasi awal. Lalu apa yang keliru dari persepsi diturunkan?

Agama merupakan jiwa bagi kehidupan. Dalam ajaran Islam, agama adalah kebutuhan. Tuntunan dan pedoman bagi sekalian manusia yang ingin selamat hidup di dunia, terlebih hingga kelak di akhirat. Sempurna agama memberikan pencerahan kepada sekalian manusia. Hanya tersebab keengganan belajar dan rendahnya semangat memperdalam pemahaman, begitu banyak manusia menyimpang dan berjalan jauh dari nilai-nilai ke-Tuhanan.

Sangat jelas bisa disaksikan, betapa di zaman ini perilaku manusia semakin beragam jenisnya. Kemaksiatan menjamur di masyarakat, kedzaliman mengakar kuat. Nurani tertutupi oleh hasrat membabi buta, akal sehat habis dimakan ketamakan berkuasa. Norma agama dengan mudah dilanggar diabaikan, keseharian penuh dengan dosa dan keburukan.

Tidak perlu jauh mengukur yang luas, cukup sajalah tengok pada diri masing-masing kita. Sudahkah kita dengan benar meresapi makna shalat? Atau masih mengerjakan sebatas rutinitas penggungur kewajiban? Sudahkah kita dengan hakiki memaknai takdir kehidupan? Atau masih terus sibuk menumpuk harta hingga jumlah yang tak terhitungkan? Sudahkah kita menjadikan Islam sebagai benar-benar pedoman, bukan sebatas identitas kependudukan?

Sudah sampai mana kita memahami Islam sebagai jalan kebenaran? Sudah sejauh mana kita mampu memaknai setiap amal ibadah yang dijalankan? Bila belum benar-benar khusyu’, shalat masih terpaksa, sedekah seadanya, puasa hanya yang fardhu, berangkat haji karena nafsu, maka ada banyak hal yang mestinya diperbaiki dari kita.

Tidakkah kita pernah menyaksikan, betapa seorang mualaf yang baru saja menemukan Islam dengan begitu gigihnya belajar dan mengamalkan setiap yang diajarkan? Betapa seorang yang pernah hidup dalam suramnya kegelapan ingin membalas sisa waktunya di dunia untuk sebaik-baiknya menghamba pada Dia? Lantas bagaimana dengan kita yang sejak lahir sudah dinisbatkan sebagai seseorang yang memeluk agama ini?

Bila agama hanya sebatas diturunkan, maka kita akan selamanya berada pada ketidaktahuan. Lemahnya barisan muslimin zaman ini, mungkin disebabkan oleh salah satunya girah Islam yang tidak sampai pada lubuk hati. Islam hanya tertinggal di masjid, mushala-mushala. Ajaran Islam hanya dipahami sekelumit, yang dengan lemahnya pemahaman itu kemudian bersikap seolah teramat paham. Menyebar dakwah yang tidak berdasar pada Qur’an, menyalahkan yang tidak sepandangan.

Baca Juga: Siapa Sangka, Ternyata Amalan-Amalan Sederhana Ini Pembuka Jalan Menuju Surga!

Kesungguhan menjalankan agama ini tidak cukup jika hanya lahir dalam keadaan Islam. Setiap kita yang lahir dalam kefitrahan semestinya lebih bersyukur dan giat mempelajari Islam, dari mereka yang baru-baru merasakan hidayah sehingga memutuskan untuk memeluk agama ini. Kesungguhan kita menghamba sewajibnya beriringan dengan lamanya waktu dan usia. Sebab kesempatan semakin sedikit dan menipis.

Dengan usia yang saat ini, mari bersama introspeksi. Sudah sejauh mana kita mementingkan akhirat dari urusan-urusan duniawi? Sudah sejauh mana kita bisa memahami shalat sebagai pondasi paling dasar, penentu semua aspek kehidupan. Sedalam apa kita paham tentang tiap ajaran yang telah jelas dituntunkan, dari bangun hingga tidur kembali. Dari lahir hingga nyawa sudah dikerongkongan.

Sudah seberapa kualitas ibadah kita sebagai seorang hamba? Sudahkah kita menjalankan segala yang diperintahkan Allah dan menjauhi semua yang dilarang? Sudahkah kita selalu berusaha menjadi lebih baik di setiap harinya? Sudahkah kita menempatkan Rasulullah sebagai sebaik-baiknya suri teladan? Sudahkah kita paham ajaran dan tuntunannya?

Jawaban dari sederet pertanyaan itu bisa didapatkan ketika kita menemukan agama di dasar hati. Mesranya pertemuan dengan Allah di saat shalat tidak bisa seketika waktu datang. Ada proses yang harus dilakukan, ada serangkaian kesungguhan yang mesti diupayakan. Jika masih melaksanakan sebagai penggugur kewajiban, maka sungguh shalat tidak akan membawa dampak apa-apa dalam kehidupan.

Maka teruslah belajar, teruslah memperbaiki diri. Sebab agama Islam yang saat ini tertera jelas di KTP tidak akan pernah bisa menyelamatkan diri kita dari siksa api neraka. Kecuali dengan keyakinan itu dapat mendekatkan kita pada Allah dalam satu derajat ketaqwaan yang terbaik.

Jadi temukanlah esensi dan nilai-nilai agama dalam hati setiap kita, agar dalam perjalanannya kita mampu senantiasa menjadikannya sebagai tuntunan dalam melakukan segala sesuatu. Agar ianya selalu menjadi penuntun hati kita agar semakin dekat dengan Allah. Hingga kelak saat dipanggil pulang dalam keadaan yang sudah kembali fitrah.

Islam bukan hanya soal identitas di KTP, tapi implementasi tiada henti yang pengerjaannya seumur hidup. Temukanlah Allah dalam hati kita, dan libatkan Dia dalam setiap sisi kehidupan kita.

Baca Juga: Hati-Hati, Beberapa Dosa Besar Banyak Dilakukan Tanpa Sadar!

Originally posted 2017-09-01 17:54:08.