Urgensi Dakwah, Tanggung Jawab Siapa?

Sumber foto dari caramudahkebaitullah.com
HIJAZ.ID Dakwah merupakan suatu istilah yang tidak asing lagi bagi kaum muslim. Menyeru kepada kebaikan serta menghindari dari suatu keburukan (amar makruf nahi munkar) adalah inti dari dakwah. Zaman semakin berkembang pesat, begitu pula fitnah akhir zaman semakin dahsyat, dengan demikian diperlukan seseorang yang mau menyeru di jalan Allah, sebagai pengingat bagi kaum disekelilingnya. Lantas, berdakwah tugas dan tanggung jawab siapa? Berikut simak ulasannya.
  • Seruan untuk Berdakwah

Banyak firman Allah yang menjelaskan tentang urgensi dakwah serta seruan kepada seluruh kaum muslim untuk senantiasa berdakwah. Dalam beberapa ayat, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr :1-3).

“Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf, melarang yang mungkar. Mereka itulah sebenarnya orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali-‘Imran: 104)

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imron: 110).

Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Luqman: 17).

“Orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar,” (Qs. At-Taubah: 71)

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”. (QS. An Nahl: 125)

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru menuju Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. Fushshilat: 33)

“Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka ke (jalan) Rabb-mu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb”. (QS.Al Qashshash:87)

“Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al Qur`an)”. Al Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat.” (QS. Al An’am: 90)

  • Berdakwah sesuai kemampuan

Allah tidak pernah membebani makhluk-Nya suatu hal yang tidak bisa dilaksanakannya, begitu pula dengan dakwah, Allah menganjurkan untuk melakukan sesaui dengan kemampuan masing-masing individu untuk berdakwah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya” (QS. Al A’raf: 42).

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al Baqarah: 286).

Dalam suatu hadits, dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, maka ingkarilah dengan hatinya. Ini menunjukkan serendah-rendahnya iman” (HR. Muslim No. 49).

Menurut pendapat ulama, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menyatakan bahwasanya:“Dan dengan ini telah menjadi jelas, dakwah menuju (agama) Allah wajib atas setiap muslim. Akan tetapi kewajiban itu adalah fardhu kifayah. Dan sesungguhnya, hal itu menjadi wajib ‘ain atas seseorang yang dia mampu, jika tidak ada orang lain yang melakukannya. Inilah urusan amar ma’ruf (memerintahkan kebaikan), nahi mungkar (melarang kemungkaran), tabligh (menyampaikan) yang dibawa oleh Rasul, jihad fii sabilillah, mengajarkan iman dan Al Qur`an”. (Majmu’ Fatawa (15/166)

Baca Juga: Tidak Sekedar Materi, Sedekah Sederhana ini Terkadang Dilupakan!
  • Keutamaan Dakwah

Pentingnya dakwah menjadikan dakwah itu sendiri memiliki banyak keutamaan. Beberapa hadits telah menyebutkan keutamaan dari dakwah. Antara lain sebagai berikut.

Hadits dari Abu Umamah Al Bahili Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Sesungguhnya para malaikat, serta semua penduduk langit-langit dan bumi, sampai semut-semut di sarangnya, mereka semua  bershalawat (mendoakan dan memintakan ampun) atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (HR. Tirmidzi No. 2685. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Pun juga hadits dari Ibnu Katsir Rahimahullah yang menyebutkan riwayat dari Abu Ja’far Al-Baqir, bahwasanya:

Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang dimaksud kebaikan itu adalah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah-ku.” (HR. Ibnu Mardawaih) (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, jilid 2 hal. 66)
Tentang kondisi jika seseorang tidak saling menasihati orang yang berbuat kemaksiatan sedangkan ia tahu kebenarannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Telah dilaknati orang-orang kafir dari kalangan Bani Isra’il melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu dikarenakan kemaksiatan mereka dan perbuatan mereka yang selalu melampaui batas. Mereka tidak melarang kemungkaran yang dilakukan oleh sebagian di antara mereka, amat buruk perbuatan yang mereka lakukan itu.” (QS. Al-Ma’idah: 78-79)

 “Dan ingatlah ketika suatu kaum di antara mereka berkata, ‘Mengapa kalian tetap menasihati suatu kaum yang akan Allah binasakan atau Allah akan mengazab mereka dengan siksaan yang amat keras?’ Maka mereka menjawab, ‘Agar ini menjadi alasan bagi kami di hadapan Rabb kalian dan semoga saja mereka mau kembali bertakwa’.” (Qs. Al-A’raaf: 164)

Dan Sungguh, Allah benar-benar akan menolong hamba-Nya yang senantiasa berjalan menuju-nya dan memperjuangkan jalan menuju agama-Nya. Dalam suatu ayat Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan sungguh Allah benar-benar akan menolong orang yang membela (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Mereka itu adalah orang-orang yang apabila kami berikan keteguhan di atas muka bumi ini, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. Dan milik Allah lah akhir dari segala urusan.” (Qs. Al-Hajj: 40-41)

Dan tentunya semua harus diniati dengan ikhlas karena Allah, bukan karena niat dan tujuan lainnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni (ikhlas) untukNya dan untuk mencari wajahNya.” (HR Nasa’i, No. 3140. Lihat Silsilah Ash Shahihah, No. 52; Ahkamul Janaiz, hlm. 63)

Dan tegaskan dalam diri bahwa berdakwah itu perlu, berdakwah itu sangat perlu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Katakanlah, Inilah jalanku; aku menyeru kepada Allah di atas landasan ilmu yang nyata, inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…” (Qs. Yusuf: 108)
Dengan demikian, maka dakwah merupakan tugas dan tanggung jawab seluruh umat Islam, untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari yang munkar. Meskipun sangat banyak hambatan dan godaan yang saat ini justru dihadapkan bagi para pejuang dakwah, mulai dari diacuhkan hingga fitnah yang dirasakan. Dibalik besarnya hambatan tersebut terdapat keutamaan yang besar pula yang Allah berikan. Sungguh hanya kepada-Nya lah kita bertawakkal.

Wallahu A’lam Bisshawab

Baca Juga: Menuntut Ilmu Termasuk Bagian Jihad Fii Sabilillah?

Originally posted 2017-09-02 05:41:00.