Hati-Hati, Ada Motif Yang Dirancang Untuk Merusak Keutuhan Umat Islam!

Sumber Foto Dari: ndopales.blogspot.co.id/

HIJAZ.ID – Belakangan barisan muslimin seperti tidak hentinya mendapat tekanan dari banyak aspek. Di beberapa belahan bumi, muncul kejadian-kejadian yang tak ubahnya seperti sayatan pedih di tubuh umat ini. Suriah dengan tragedi Alleponya, kekejaman tentara Yahudi yang terus-menerus membantai warga Palestina, hingga muslim Rohingya di Myanmar yang setiap hari harus mendera kekejian dan pembantaian.

Tubuh umat seperti sedang dikuliti satu demi satu. Kejayaan Islam memang tidak pernah diinginkan oleh musuh-musuh yang menginginkan kebebasan. Menghendaki kekuasaan yang tanpa berlandaskan pada ajaran-ajaran ke-Tuhanan. Menyerang yang tidak sependapat, membantai yang tidak se-keyakinan. Dengan semena-mena menghabisi nyawa manusia. Berharap akan berkuasa dengan cara-cara keji dan sama sekali jauh dari rasa kemanusiaan.

Dulu Islam pernah meminpin peradaban, hingga kemudian dijatuhkan. Akhir-akhir ini tanda kemunculan generasi pembangkit peradaban Islam semakin menguat. Namun pada saat bersamaan, kekuatan yang tidak menginginkan Islam kembali berjaya juga semakin menyiapkan diri. Mereka menyerang dari berbagai sisi kehidupan, hingga banyak hal yang luput dari sadarnya kita bahwa yang terjadi ialah bibit dari para musuh Islam. Agar umat disibukkan dengan urusan pribadi masing-masing, tanpa peduli dengan nasib saudaranya. Hingga umat saling bercerai-berai, terpecah kekuatan. Agar solidnya barisan ini runtuh dan terbagi dalam kelompok-kelompok yang saling menyerang satu sama lain.

Bila sudah demikian, apalagi yang bisa kita andalkan dari kekuatan Islam yang teramat agungnya. Di antara kita sibuk pada urusan pribadinya, orang-orang berkuasa tak ubah sebagaimana budak tak berdaya. Antara satu pemahaman saling menjatuhkan, bahkan mengkafirkan sesama saudaranya. Kita terlalu sibuk pada hal-hal yang tidak perlu diperdebatkan. Habis waktu dan tenaga untuk memikirkan yang sesungguhnya sudah selesai. Hingga musuh dengan leluasa menyerang dari sudut yang luput dari perhatian. Saudara kita di Myanmar, Suriah dan Palestina sedang menjerit kesakitan. Muslim-muslim di pedalaman desa sedang berhadapan dengan kejamnya godaan pemurtadan. Sedang kita masih sibuk dengan cara mengangkat tangan saat takbiratul ihram?

Satu persoalan yang sedang gencar-gencarnya di hembuskan oleh musuh Islam ialah diangkatnya isu perbedaan cara pandang. Ikhtilaf yang terjadi di sekitar kita seperti dijadikan bola api, hingga antara yang satu dengan yang lain saling membakar dan menghanguskan persaudaraan.

Perhatikanlah, bahwa di dalam memahami suatu tuntunan, sudah sewajarnya ada perbedaan dalam pemahaman. Sebagaimana yang terjadi sejak sepeninggal Rasulullah, bahwa memang tidak ada yang benar-benar dapat memastikan siapa dan dari golongan apa paling benar. Tidak ada jaminan satu golongan akan masuk ke dalam surga, sedang golongan lain tidak? Jika pun pintu surga hanya untuk satu pemahaman di antara kita, maka belum pasti juga pintu itu diperuntukkan bagi golongan yang kita yakini benar ini.

Baca Juga: Hati-Hati, Beberapa Dosa Besar Banyak Dilakukan Tanpa Sadar!

Cara memahami sebuah persoalan ialah mengembalikan pada sumber-sumber utama yang sudah diamanahkan oleh Rasulullah di akhir masa kehidupannya. Bahwa beliau mewasiatkan dua senjata utama bagi umat, ialah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Artinya segala sesuatu sewajibnya kita kembalikan pada keduanya. Apa pun dan bagaimana pun masalahnya. Jangan bersumber pada selain keduanya. Bila sebuah hukum tidak ada di dalam sumber yang pertama, Al-Qur’an, maka carilah pada sumber setelahnya, hadist-hadist Rasulullah. Jangan mendahului yang lainnya, jangan mengedepankan logika manusia. Bila Al-Qur’an dan Sunnah telah menetapkan hukum, tidak ada lagi alasan untuk membantah keharusannya.

Bila pada keduanya belum didapatkan kejelasan pada hukum, maka barulah merujuk pada ijtihad pada ulama. Bagaimana para ulama menjelaskan sebuah hukum yang belum dinyatakan jelas pada Qur’an dan Sunnah. Demikianlah urutan sumber hukum, dan sudah semestinya menjadi rujukan bagi setiap persoalan yang terjadi. Bukan sebaliknya.

Berkaitan dengan perbedaan cara pandang dalam memahami dan mengamalkan, tidak perlu disikapi dengan terlalu berlebihan. Cukup kerjakan apa yang diyakini benar, tanpa ada hasrat untuk merasa paling benar dan menyalah-nyalahkan. Selagi tidak bertentangan dengan dua sumber utama, maka lihatlah sebagai rahmat untuk bisa saling memahami. Fokuslah pada kesamaan tauhid dan ketataan kepada Allah, bukan mengedepankan selisih yang sesungguhnya tidak perlu lagi dipersoalkan.

Sebab begitulah cara musuh Islam merusak keutuhan dari dalam tubuh umat ini. Dihembuskannya isu-isu yang bisa membuat setiap kelompok di antara kita berselisih dan rusaklah barisan. Umat jadi terpecah berserakan, kekuatan semakin kecil dan dapat dengan mudah ditaklukan.

Sebagai pribadi, lebih baik kita fokus pada perbaikan diri. Meningkatkan ibadah fardhu, belajar menjalankan yang sunnah. Hindari perdebatan yang tidak perlu. Shalat fadhu masih susah di awal waktu, dhuha belum terealisasi, tahajut apalagi. Puasa masih rencana, sedekah baru dalam hati. Silaturahmi berantakan, musuh berserakan.

Malulah kita dengan para orang baik yang terus meninggikan taqwanya. Hinalah kita dengan para pendosa yang terus berusaha memperbaiki diri. Sedang kita masih sibuk mendebatkan mana benar mana salah. Sedang di saat bersamaan shalat masih bolong, maksiat jalan terus. Jangan sia-siakan waktu untuk mempermasalahkan yang tidak perlu. Jalankan saja apa-apa yang jelas dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hindari yang tidak, bahkan jauhi yang subhat. InsyaAllah dengan cara demikian lebih aman bagi kita memperloleh surga Allah, daripada terus sibuk dengan perdebatan yang Rasulullah pun memerintahkan untuk menjauhkan diri darinya.

Baca Juga: Agama Ialah Sesuatu yang Diturunkan atau Ditemukan?

Originally posted 2017-09-04 07:24:12.