Inilah Sebab Yang Membuat Rasulullah Marah!

Sumber Foto Dari: konveksihemo.wordpress.com

HIJAZ.ID – Tidak ada yang patut diragukan dari betapa sabarnya Rasulullah Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa sallam. Dengan segala karunia dan kemuliaan yang dilimpahkan Allah kepadanya, kesabaran sungguh menyatu pada pribadinya. Menghiasi dalam setiap jejak perjalanan dakwah dan syiar keagungan Islam. Tiada satu di antara kita yang bisa menjadi penanding tingkat kesabaran beliau. Hingga para sahabat pun terkoyak hatinya melihat bagaimana Rasulullah dizalimi, beliau tetap tenang dan membalasnya dengan doa-doa baik. Hingga malaikat Jibril menawarkan untuk membalikkan gunung, Rasulullah menahannya dan justeru dibalas dengan permohonan hidayah kepada Sang Pemilik Kehidupan.

Sungguh sabarnya Rasulullah yang membuat kemuliannya menyebar hingga ke berbagai penjuru dunia. Betapa baginda teramat mampu menahan amarahnya bila kedzaliman tertuju pada dirinya. Tetapi tidak begitu saat berkenaan dengan penistaan terhadap ajaran dan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Rasulullah akan dengan tegas berkata dan bertindak. Betapa tauhid dan keagungan Islam tak pernah membuatnya gentar pada musuh-musuh Islam.

Telah diceritakan oleh ibunda kaum muslimin, Aisyah radhiallahu ‘anhu, suatu ketika beliau pernah bertanya kepada Nabi, “Apakah engkau menghadapi suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?”

Hari Uhud ialah saat di mana Rasulullah menderita luka luar biasa. Wajah beliau terluka akibat hantaman pedang hingga pelindung kepalanya rusak, bengkok menusuk wajah. Gigi baginda pun patah pada peperangan itu. Nyawa beliau amat terancamnya. Banyak pula dari para sahabat yang harus gugur menghadap Ilahi.

Tak disangka, Rasulullah menjawab pertanyaan istrinya dengan mengatakan bahwa ada yang lebih berat dibandingkan peristiwa Uhud. Beliau berkata, “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat di Aqabah…” 

Yakni saat beliau pergi berdakwah ke Thaif. Mensyiarkan Islam dan mengajak penduduk Thaif untuk hijrah menyembah Allah. Namun apa yang terjadi, penduduk Thaif justeru membalas niat mulia baginda dengan cara-cara hina. Mereka mengajak anak-anak dan para budak untuk melempari Nabi dengan batu. Hingga beliau pingsan menahan luka yang parah. Kemudian setelah kembali sadar, beliau ditawari Malaikat untuk menggulingkan gunung agar menimpa para orang-orang itu. Apa jawabnya Rasulullah, beliau menolaknya. Manusia paling mulia ini kemudian menengadahkan kedua tangannya dan memohonkan kebaikan untuk penduduk Thaif. Dalam kutipan perkataan baginda, “Bahkan aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang rusuk mereka orang-orang yang menyembah Allah….”

Baca Juga: Jangan Sampai Dinilai Sombong Oleh Allah, Betapa Mengerikan Ancamannya!

Bila peristiwa Uhud dan Aqabah tidak membuat baginda marah, maka yang dapat menyebabkan marahnya Rasulullah sudah tentu lebih besar daripada keduanya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Aisyah radhiallahu ‘anhu, “Pada hari ke-4 atau ke-5 Dzulhijjah, Rasulullah datang menemuiku dalam keadaan marah. Aku berkata, ‘Siapa yang membuatmu marah wahai Rasulullah? Semoga Allah memasukkannya ke neraka’. Beliau menjawab, ‘Apakah pendapatmu ketika aku memerintahkan orang-orang dengan suatu perintah, lalu bereka bimbang (ragu dalam melaksanakannya?)'”.

Sebagaimana telah disampaikan di atas, bahwa Rasulullah sangat bisa bersabar bila kedzaliman menimpa langsung kepada dirinya. Tetapi betapa beliau marahnya ketika melihat ada orang-orang yang saat ditunjukkan kebenaran kepadanya, lalu mereka bimbang untuk melaksanakannya.

Sekarang coba kita perhatikan bersama, kehidupan manusia di akhir masa ini. Tidakkah semakin hari, semakin nampak orang-orang yang dengan bangganya memperlihatkan perilaku menyimpang. Meski sudah datang kepadanya syiar kebenaran, telah diketahuinya mana yang benar dan mana yang tidak. Tetapi nafsu duniawi nyatanya lebih mampu menguasai sebagian besar sisi kehidupannya. Mulai dari gaya berpakaiannya, bertutur katanya, memperlakukan sesamanya, kuantitas dan kualitas ibadahnya.

Telah paham ia bahwa shalat menjadi kewajiban tanpa keringanan meninggalkan, tetapi tetap saja dengan santainya mengabaikan. Telah mengerti ia bahwa menutup aurat ialah wajib hukumnya, tanpa keringanan menampakkannya. Tetapi masih saja terus-menerus enggan memperbaiki diri, terbuka auratnya pada yang bukan mahramnya. Bahkan dengan sengaja ditampakkan dihadapan khalayak ramai.

Sungguh betapa marahnya Rasulullah, melihat ada orang-orang yang ketika disampaikan kepada mereka jalan yang benar, justeru hadir di dalam hatinya keraguan dan kebimbangan. Bila Rasul marah pada kita, lantas siapa yang akan kita harapkan syafaat dan pertolongannya kelak di hari-hari paling berat. Di saat bekal belum tentu cukup, dosa masih menumpuk, hisab membuat takut. Ketika Rasulullah sudah marah pada kita, lantas kepada siapa kita mengharapkan akan dikumpulkan kelak di akhirat? Bukankah kemuliaan menjadi pengikut sang baginda teramat istimewanya. Hingga tiada yang berhak memasuki surga sebelum Muhammad dan para pengikutnya yang terlebih dulu masuk?

Mari terus mengoreksi diri, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang ragu menjalankan perintah dan tuntunan-Nya? Jika masih sulit mengerjakan, minimal hadir keyakinan bahwa yang benar adalah benar. Usir jauh-jauh kebimbangan yang datangnya pasti dari syaitan. Mohonkanlah perlindungan pada Allah agar senantiasa dimudahkan dalam memperbaiki diri, meningkatkan ketaataan serta ketaqwaan kepada-Nya.

Baca Juga: Amalan Yang Paling Disukai Rasulullah!

 

 

Originally posted 2017-09-05 03:28:24.