Bagaimana Kedudukan Hati Sebagai dalam Setiap Amal Manusia?

Sumber Foto Dari : kajian.afahrurroji.net
HIJAZ.ID Bagian diri dari manusia yang tak terjamah oleh panca indera manusia, namun kehadirannya sangat berpengaruh bagi seluruh anggota tubuh manusia.

Ketika hati manusia berada dalam kegelisahan, maka seluruh anggota tubuh akan menampakan kecemasan. Begitupun sebaliknya, ketika hati sedang merasa penuh dengan rasa syukur maka seluruh anggota tubuh akan menampakkannya dengan caranya.

Karena sifatnya yang tak terjamah oleh panca indera manusia, hati tergolong ke dalam sifat yang ghaib, sama seperti nyawa. Sebagaimana pendapat Imam al-Ghazali yang menempatkan hati serupa dengan ruh. (al Ghazali dalam kitab Kimiya as Sa’adah).

Para ulama mengatakan hati merupakan tempatnya akal (fikiran), dan hati memiliki cahaya sebagai daya yang karenanya akal bisa berfikir. (Dalam Kitab Jauhar at-Tauhid, Ibrahim al-Baijuri, hal-99).

Baca Juga : Perlu Diperhatikan Tentang Amanah yang Bisa Menyebabkan Munafik

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan hati bagi manusia sebagai sumber menerima pengetahuan yang telah Allah tebarkan di muka bumi. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala  :

  وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.” (QS An-Nahl [16] : 78).

Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah (segumpal daging) itu ialah hati..” (HR. Muslim).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan:

الأعمال الظاهرة لاتكون صالحة مقبولة إلا بواسط أعمال القلب، فإن القلب ملك واﻷعضاء جنوده، فإذا خبث الملك خبثت جنوده

“Amalan badan tidak akan diterima tanpa perantara amalan hati. Karena hati adalah raja, sedangkan anggota badan ibarat prajuritnya. Bila Sang Raja buruk, maka akan buruk pula seluruh prajuritnya. ” (Majmu’ Al Fatawa, 11/208).

Oleh karena itu, kedudukan hati sangat berperan penting dalam menentukan sesorang dapat menerima pelajaran atau tidak. Seseorang dapat khusyu dalam ibadahnya atau tidak. Hati juga dapat menjadi penentu seseorang akan menjadi pribadi yang baik atau buruk. Hati dapat memburuk karena perbuatannya sendiri. Sebagaimana telah Allah abadikan di dalam Al-Quran:

خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka (musyrikin) dan penglihatan mereka di tutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. Al-Baqarah [2] : 7)

 

Seorang ulama mengatakan, “Hati adalah raja. Ketika yang merawatnya bagus maka rakyatnyapun bagus.” (Lihat Kitab Syarah Arba’in Nawawi, Yahya bin Syarafuddin, hal-29, hadis keenam)

Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Sa’id Al-Khudri R.A, Rasulullah bersabda :

“Sepasang mata adalah petunjuk. Sepasang telinga adalah corong. Lisan adalah juru bicara. Kedua tangan adalah sayap. Perut adalah kasih sayang. Limpa adalah senyuman. Paru-paru adalah jiwa. Kedua pinggang adalah tipu daya. Dan hati adalah raja. Ketika rajanya bagus, maka rakyatnya pun bagus. Dan jika rajanya rusak maka rakyatnya pun rusak.” (HR Ibnu Hibban, Abu syaikh dan Abu Nu’aim).

Seorang ulama mengatakan, “Penglihatan, pendengaran dan indera pencium laksana daya kekuatan yang dilihat dan di pertimbangkan oleh jiwa. sedangkan hati adalah rajanya. Jika yang merawatnya baik maka baik pula rakyatnya.“ (Lihat Kitab Syarah Arba’in Nawawi, Yahya bin Syarafuddin, hal 29).

Maka dari uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kedudukan hati dalam ibadah manusia adalah sebagai raja yang sangat mempengaruhi setiap amal ibadah yang dikerjakan. Oleh karena itu, mari hidupkan hati dengan iman, zikir, dan senantiasa bermuhasabah diri.

Wallahu A’lam Bisshowab

Baca Juga : Hati-Hati dengan Bahaya Ambisi Ini!

Originally posted 2017-09-06 04:05:50.