Tidur Sambil Terlentang, Bolehkah?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Malam adalah waktu yang tepat untuk istirahat. Sebagai seorang muslim, kita harus faham betul dalam mengenai hak-hak badan itu apa saja. Salah satunya adalah istirahat di malam hari, dalam arti tidak melakukan aktivitas pekerjaan yang menuntut energi terlalu banyak, dalam hal ini yaitu tidur.

Lalu, dalam Islam, tidur seorang muslim tentu ada adab-adabnya. Seperti membaca do’a, berwudhu terlebih dahulu dan lain sebagainya. Pun, berkaitan dengan hal kesehatan, posisi tidur pun diatur dalam Islam dmana harus sesuai dengan sunnah-sunnah yang dianjurkan. Salah satu posisi tidur yang biasa dilakukan adalah terlentang, namun apakah boleh? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal.

Perhatikanlah hadits berikut ini,

 

عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ أَنَّهُ رَأَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُسْتَلْقِيًا فِى الْمَسْجِدِ وَاضِعًا إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الأُخْرَى.

Dari ‘Abbad bin Tamim, dari pamannya bahwa ia pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur terlentang di masjid dalam keadaan meletakkan satu kaki di atas lainnya. (HR. Bukhari no. 475 dan Muslim no. 2100).

Imam Nawawi rahimahullah ketika membawakan hadits di atas dalam kitab Riyadhus Sholihin, beliau menyatakan dalam judul bab bahwa boleh tidur dalam keadaan terlentang. Demikian pula beliau nyatakan bolehnya dalam Al Majmu’, 4: 472.

Baca Juga : Adakah Batas Penyimpanan Daging Qurban?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menerangkan, “Yang lebih afdhol adalah tidur pada sisi kanan. Sedangkan tidur tengkurap adalah tidur yang tidak pantas kecuali dalam keadaan butuh. Sedangkan tidur dalam keadaan terlentang adalah tidak mengapa selama menjaga aurat tidak terbuka. Namun jika khawatir akan tersingkapnya aurat yaitu ketika mengangkat kedua kaki dan tidak memakai celana di bagian dalam jubah misalnya, maka itu tidaklah pantas. Namun kalau aman, maka tidaklah mengapa.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 346).

Imam Nawawi rahimahullah menerangkan dalam Syarh Shahih Muslim mengenai hadits yang kita bawakan di atas bahwa para ulama berpandangan mengenai larangan hadits tidur terlentang dengan mengangkat kaki dimaksud untuk tidur yang sampai menyingkap aurat atau sebagian aurat. Adapun perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas tidak membuka aurat sama sekali. Seperti itu tidaklah masalah dan tidak pula dikatakan makruh.

Berdasarkan paparan di atas, maka penting kiranya bagi kita sebagai seorang muslim untuk memperhatikan posisi tidurnya, selain karena faktor kesehatan, juga karena alasan sunnah yang dianjurkannya seperti apa dan bagaimana.

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Membunuh Cicak Bernilai Pahala, Benarkah?

Originally posted 2017-09-06 12:38:52.