Bagaimana Hukum Memutuskan Tali Silaturahmi?

Sumber Foto Dari : makincerdas.com
HIJAZ.ID Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia dari berbagai macam suku, bangsa, dan bahkan berbagai negara. Allah menciptakan beragam perbedaan, menjadikan dunia penuh dengan warna. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an bahwa Allah menciptakan perbedaan tersebut agar manusia dapat saling mengenal (saling memahami).
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)

Untuk tetap saling mengetahui dan mengenal satu sama lain, maka manusia harus menjaga silaturahmi. Berikut anjuran silaturahmi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bersilaturahmi.” (Mutafaqun ‘alaihi).

Baca Juga : Inilah Ciri-Ciri Manusia yang Dicintai Allah Terdapat dalam Al-Qur’an

Adapun hukum bagi mereka yang dengan sengaja memutuskan tali silaturahmi yaitu haram. Hal ini berdasarkan hadits shohih berikut ini:

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا يَدْخُلُ اَلْجَنَّةَ قَاطِعٌ ) يَعْنِي قَاطِعَ رَحِمٍ

Dari Jubair bin Muth’im Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga seorang pemutus, yaitu pemutus tali silaturahmi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan diriwayatkan dari Abu Bakroh radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

Artinya: “Tidak ada suatu dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya di dunia ini -disamping dosa yang disimpan untuknya di akhirat- daripada perbuatan Zholim (melampaui batas) dan memutuskan tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat, pent-).” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Untuk menyikapi sekelompok orang yang memutuskan tali silaturahmi. Maka hadits sebagai pedoman setelah Al-Qur’an menjelaskan dalam hadits shohih berikut ini:
Dari Abdullah bin ’Amr radhiyallahu anhu, ia berkata: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Artinya: ”Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Al-Bukhari)

Dan diriwayatkan pula dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: “Ada seorang pria mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, saya punya keluarga yang jika saya berusaha menyambung silaturahmi dengan mereka, mereka berusaha memutuskannya, dan jika saya berbuat baik pada mereka, mereka balik berbuat jelek kepadaku, dan mereka bersikap acuh tak acuh padahal saya bermurah hati pada mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Kalau memang kenyataannya seperti yang engkau ceritakan, (maka) seolah-olah engkau memberi mereka makan dengan bara api dan pertolongan Allah akan senantiasa mengiringimu selama keadaanmu seperti itu.” (HR. Muslim).
Wallahu A’lam Bish-showab

Baca Juga : Keutamaan Perbuatan Sederhana ini Mampu Melapangkan Rezeki dan Memperpanjang Umur

Originally posted 2017-09-08 21:23:16.