Delapan Pintu Surga, Ada di Pintu Manakah Amalan Kita?

Sumber Foto Dari: www.salamdakwah.com

HIJAZ.ID – Siapa yang tidak menginginkan kelak di masukkan oleh Allah ke dalam nikmatnya alam surga? Siapa pun, baik yang taat ibadahnya atau ahli maksiatnya, ada di dalam hatinya harapan untuk dihadiahkan surga oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Untuk sampai kesana, telah jelas ditunjukkan oleh Allah dan Rasul-Nya jalan dan upaya yang seharusnya dikerjakan. Bukankah pertanda bahwa hidup ibarat ladang untuk mencari bekal penghidupan di hari kemudian telah ditegaskan lewat hakikat penciptaan? Bahwa tiada tujuan Allah menciptakan manusia, selain untuk senantiasa menyembah kepada-Nya.

Hanya dalam perjalanan kehidupan ini, ada orang-orang yang sadar betul apa yang harus dikerjakannya sebagai wujud persiapan diri. Dan sebagian yang lain justeru terus nyaman dengan capaian duniawi, menghabiskan waktu dengan melulu menikmati kehidupan sesaat. Dibutakan oleh yang hanya sementara, hingga lupa hakikat kehidupan sesungguhnya. Sampai kapan kita akan tetap berbuat maksiat? Sampai kapan kita akan terus menunda perbaikan diri? Sampai kapan kita enggan berbuat kebajikan? Sampai kapan kita akan terus nista dan bertumpuk dosa? Sedang semakin hari, semakin dekat manusia pada liang kuburnya.

Sudah siapkah kita dengan pasti datangnya kematian? Siap yang bukan dengan banyaknya harta benda, bukan pula dengan tingginya harta dan strata. Bernilainya seorang manusia di sisi Allah tersebab taqwanya, bukan yang lainnya. Sudahkah kita semasa hidup ini mengupayakan agar Allah lihat sebagai hamba yang sungguh-sungguh mengupayakan bekal? Atau seusia ini kita masih belum apa-apa, habis waktu berpuluh tahun sia-sia. Lantas, apa yang menjadi alasan kepantasan kita mendapatkan surga?

Dalam sebuah riwayat Imam Bukhari, hadist dari Shal bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Ar-Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.

Rasulullah menjelaskan pada hadist di atas, bahwa surga terdiri dari delapan buah pintu, yang di setiap pintunya akan dimasuki oleh orang-orang yang berbeda kualitas amalannya. Dan pada satu pintu bernama Ar-Rayyan, akan dimasuki oleh segolongan manusia yang teramat baik puasanya.

Pada hadist yang berbeda, riwayat dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”

Baca Juga: Bolehkah Wanita Ikut Shalat Jum’at?

1) Pintu shalat. Orang-orang yang termasuk ke dalam golongan ahli shalat akan dipanggil lewat pintu ini. Tentu shalat yang secara kuantitas dan kualitas teramat istimewa. Bukan hanya biasa-biasa saja. Terlebih yang mengerjakannya sebatas rutinitas dan penggugur kewajiban. Orang-orang yang akan dipanggil lewat pintu ini ialah yang merasakan shalat sebagai kebutuhannya. Tidak perlu ditanya lagi berapa kuantitasnya, sebab mereka telah sampai pada derajat kualitas luar biasa.

2) Pintu jihad. Orang-orang yang mengabdikan diri di jalan Allah, menyedekahkan jiwa dan raganya untuk membela agama Allah, akan dimasukkan lewat pintu ini. Sebagaimana janji Allah, bahwa para mujahid akan masuk ke dalam surga tanpa hisab. Sebab mereka telah dengan rela melepaskan kepentingan dunianya, untuk semata-mata mengejar keridhaan Allah. Mengorbankan nyawanya untuk menegakkan agama Allah.

3) Pintu puasa (Ar-Rayyan). Orang-orang yang baik puasanya akan dimasukkan ke dalam surga lewat pintu ini. Tentu bukan hanya mengerjakan yang fadhu, tetapi sudah sampai pada derajat tegakknya sunnah-sunnah, senin-kamis, tiga hari di setiap tengah bulan, hingga puasa daud yang sehari puasa sehari tidak. Selain kuantitas yang amat baik, kualitasnya pun sudah tidak perlu diragukan. Tersebab itulah Allah menjanjikan surga bagi yang mengabdikan hidupnya sebagai ahlul siyam. 

4) Pintu Sedekah. Orang-orang yang merelakan sebagian hartanya untuk diberikan di jalan Allah akan masuk pada pintu ini. Meski sedekah erat kaitannya dengan harta benda, tetapi tidak ada jaminan orang yang berlebih hartanya akan dipanggil dari pintu ini. Sebab ibadah murni datangnya dari dasar hati, bukan dari keadaan materi. Begitu banyak orang yang teramat berlebihan harta bendanya, tetapi justeru enggan bersedekah, apalagi melebihkan sedekahnya. Sungguh berbeda dengan Rasul dan para sahabatnya, yang dengan kekayaannya, justeru berlomba-lomba menginfaqkannya di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

5) Pintu Al-Ayman. Dalam sebuah riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, Wahai Muhammad, suruhlah umatmu (yaitu) orang-orang yang tidak dihisab untuk masuk ke dalam surga melalui pintu Al-Ayman yang merupakan di antara pintu-pintu surga. Sedangkan pintu-pintu yang lain adalah pintu surga bagi semua orang.”

6) Pintu Al-Kazhimina Al-Ghaizha wa Al-Afina ‘an An-Naas (mudah menahan amarah dan memaafkan orang lain). Terdapat nash dari hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, “Sesungguhnya Allah memiliki sebuah pintu di surga, tidaklah yang masuk melaluinya kecuali orang-orang yang memaafkan kedzaliman.”  Sungguh betapa Allah teramat memuliakan orang-orang dengan sifat sabar dan mudah memaafkan.

Untuk dua pintu lainnya, para ulama beragam berpendapat. Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim berkata, “Al-Qadhi berkata, pintu-pintu surga lainnya disebutkan dalam hadits lain yaitu pintu taubat, pintu Al-Kazhimina Al-Ghaizha wa Al-Afina ‘an An-Naas, Pintu Ridha. Inilah jadinya ada tujuh pintu yang ada dalam berbagai hadits. Sedangkan 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab akan masuk melalui pintu Al-Ayman. Itulah pintu kedelapan.” 

Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, “Dalam hadits disebutkan ada empat pintu surga. Di awal-awal bab jihad sudah diterangkan pula bahwa pintu surga itu ada delapan. Rukun Islam yang tersisa adalah haji, tentu ada pintu khusus untuk orang yang berhaji. Itulah pintu kelima. Adapun tiga pintu lainnya, ada di situ pintu Al-Kazhimina Al-Ghaizha wa Al-Afina ‘an An-Naas terdapat dalam riwayat Imam Ahmad, dari Rawh bin ‘Ubadah dari Asy’ats, dari Al-Hasan Al-Bashri secara mursal, “Sesungguhnya Allah memiliki sebuah pintu di surga, tidaklah yang masuk melaluinya kecuali orang-orang yang memaafkan kezaliman.”

Pendapat lain juga muncul dari kitab Fath Barri, “Ada juga pintu Al-Ayman (pintu ketujuh), yaitu pintu orang yang bertawakkal pada Allah yang masuk dalam surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Adapun pintu kedelapan adalah Pintu Dzikir sebagaimana yang diisyaratkan dalam riwayat Tirmidzi. Bisa jadi pula adalah Pintu Ilmu.”

Maka pertanyaan besarnya kemudian, siap masuk lewat pintu yang manakah kita? Dengan amalan-amalan yang sudah dikerjakan. Dari tak terhitung kesempatan yang disia-siakan. Ada hal yang harus ditanamkan pada setiap manusia, bahwa kelebihan yang Allah titipkan pada kita hakikatnya ialah kesempatan untuk memperbanyak bekal lewat yang lebih itu. Semisal kelebihan harta, maka sungguh Allah telah beri kesempatan kepada kita untuk memperbanyak bersedekah. Semisal lain kelebihan waktu, maka hakikatnya Allah telah melapangkan kesempatan kepada kita untuk memperbanyak mengerjakan ibadah shalat, memperbanyak berbuat kebaikan-kebaikan.

Jangan justeru memaknai kelebihan itu dengan mengerjakan hal yang tiada artinya di sisi Allah. Sungguh merugilah ayam, bila ia akhirnya mati di lumbung padi. Maka demikianlah pula manusia, sungguhlah merugia ia bila mati dalam keadaan bekal tak cukup, padahal Allah berikan kesempatan teramat luas semasa hidup.

Baca Juga: Para Wanita Muslim Wajib Hati-Hati Dalam Memilih Model dan Jenis Bahan Berbusana, Ada Motif Tak Terduga!

 

 

 

Originally posted 2017-09-09 04:28:02.