Bidadari yang Cantik Diberikan Pada Orang yang Pandai Menahan Amarah, Benarkah?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Emosi merupakan salah satu hal yang perlu usaha pengendalian ekstra. Jika tidak bisa  mengendalikannya, maka merugilah kita karena banyak sekali sebenarnya energi yang terbuang sia-sia. Pun, dalam Islam telah diajarkan bahwa setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan yang dapat menahan amarahnya meskpin sebenarnya dia mampu untuk meluapkan, maka pahal besar untuknya.

Selain itu, adapula banyak keutamaan lainnya daripada menahan amarah ini, salah satunya adalah penawaran mengenai bidadari surga bagi orang yang mampu meredam amarah, benarkah? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal.

Keutamaan menahan marah disebutkan dalam hadits dari Mu’adz bin Anas, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا – وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ – دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ

Siapa yang dapat menahan marahnya padahal ia mampu untuk meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari kiamat sehingga orang itu memilih bidadari cantik sesuka hatinya.” (HR. Abu Daud no. 4777 dan Ibnu Majah  no. 4186. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, jika ada yang ingin mengobarkan amarah sampai dalam hati penuh dendam, inginnya membalas dengan perkataan dan perbuatan, maka mereka yang dipuji dalam ayat ini tidak mempraktikkan apa yang diinginkan hawa nafsu mereka. Mereka berusaha menahan amarah. Mereka berusaha sabar ketika disakiti oleh orang lain. (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 148)

Baca Juga : Shalat Berdua dengan yang Bukan Mahram, Bagaimana Hukumnya?

Dalam puasa pun kita diajarkan untuk bisa menahan amarah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ

Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata-kata kotor, dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari, no. 1904; Muslim, no. 1151)

Lihatlah balasan untuk orang yang ingin mencela kita sehingga bisa membangkitkan amarah adalah dengan sabar dan balas dengan tutur kata yang baik.

Ibnu Batthal mengatakan, “Ketahuilah bahwa tutur kata yang baik dapat menghilangkan permusuhan dan dendam kesumat. Lihatlah firman Allah Ta’ala,

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

Tolaklah (kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat: 34-35). Menolak kejelekan di sini bisa dengan perkataan dan tingkah laku yang baik.” (Syarh Al-Bukhari, 17: 273)

Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergelut. Yang kuat, itulah yang kuat menahan marahnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Yang namanya kuat bukanlah dengan pandai bergelut. Yang disebut kuat adalah yang dapat menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari, no. 6114; Muslim, no. 2609)

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Benarkah Menikah Menjadi Jalan Terbukanya Pintu Kemudahan Rezeki?

Originally posted 2017-09-09 05:23:36.