Benarkah Amal Tidak Diperhitungkan Ketika Usia Memasuki Angka 70-an?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Sebagai seorang muslim, kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan, dimanapun dan pada saat kapanpun. Jenis amalan banyak sekali tetapi kita terpaut usia. Haidup kita berbatas, meskipun banyak sekali yang bisa kita lakukan tetapi umur kita ditentukan oleh Allah Ta’alaa. Maka, sudah seharusnya, kita memanfaatkan dengan sebaik-baiknya jatah umur yang telah diberikan oleh Allah ini.

Pun, sebagai seorang muslim, kita ketahui bahwa setiap amalan seperti shalat dan beberapa perkara wajib lainnya memiliki syara-syarat tertentu seperti halnya baligh dan berakal sehat. Tetapi, ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa muslim yang lanjut usia, di atas umur 70-an, amal perbuatannya tidak dicatat sebagai pahala, benarkah? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ammi Nur Baits.

Allah mewajibkan kita untuk beramal sampai mati. Allah berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Beribadah-lah kepada Rab-mu sampai datang kepadamu yakin.” (QS. al-Hijr: 99)

Berdasarkan keterangan Salim bin Abdullah bin Umar, Mujahid, Hasan al-Bashri, Qatadah, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, mereka mengatakan, yang dimaksud yakin pada ayat ini adalah kematian (al-Maut).

Dan diantara makna kata yakin dalam al-Quran adalah kematian. Seperti firman Allah,

لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ

“Kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, (44) dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, (45) dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, (46) hingga datang kepada kami yakin.” (al-Muddatsir: 44 – 46)

Baca Juga : Ingin Mendapatkan Pakaian Hijau dan Buah di Surga? Amalan Inilah Rahasianya!

Yakin dalam ayat di atas, maknanya adalah kematian. Dan selama perintah beribadah itu masih melekat, amal kita pasti dicatat. Karena itu, tidak benar jika ada yang menyatakan bahwa amal manusia yang diperhitungkan hanya sampai usia 70 tahun. Lebih dari itu tidak dihitung. Siapapun manusia yang beramal, akan terus dicatat amalnya, kecuali bagi 3 orang: orang gila, orang tidur, dan anak kecil sampai baligh.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يُفِيقَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

“Pena catatan amal itu diangkat (tidak dicatat amalnya, pen.), untuk tiga orang: orang gila sampai dia sadar, orang yang tidur sampai dia bangun, dan anak kecil sampai dia baligh.” (HR. Nasai 3432, Abu Daud 4398, Turmudzi 1423, dan disahihkan Syuaib al-Arnauth)

Usia 70 tahun, selama akalnya masih sehat, amalnya dicatat. Namun jika dia sudah pikun, sehingga akalnnya hilang, amalnya tidak dicatat.

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Adakah Waktu yang Tepat Untuk Walimah Menurut Islam?

Originally posted 2017-09-12 23:04:00.