Bagaimana Sikap Rasulullah Ketika Ditolak Perempuan? Inilah Sikap Mulia Harus Ditiru!

Sumber Foto Dari : sahabatnesia.com
HIJAZ.ID Manusia yang tersohor dengan kebaikan budi pekerti dan ucapannya yang terpelihara. Manusia mulia yang membawa perubahan spetakular di dunia. Manusia yang menjadi teladan bagi umatnya. Inilah sosok mulia baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dalam sebuah kisah sebagaimana manusia biasa pada umumnya. Rasulullah pun memiliki keinginan untuk menikahi seorang wanita. Saat itu masih masa jahiliyah, kala Rasulullah masih remaja.

Fakhitah, wanita Quraisy yakni putri paman Nabi (Abu Thalib Abdu Manaf bin Abdil Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay) dan ibunya Fathimah bintu Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf.

Rasulullah pun pernah memuji wanita Quraish dengan bersabda “Sebaik-baik wanita penunggang unta adalah wanita Quraisy, sangat penyayang terhadap anak-anaknya.”

Baca Juga : Isi Harimu dengan Amalan Ini Agar Terhindar dari Galau

Bersamaan dengan seorang pemuda bernama Hubairah bin Abi Wahb Al-Makhzumi, Rasulullah meminang wanita yang tersohor mulianya. Namun, Abu Thalib menjatuhkan pilihan pada Hubairah. Lahirlah para keturunan Hubairah dari rahim Ummu Hani’.

Singkat cerita Rasulullah pun mendapat pengganti yang jauh lebih mulia, yakni Khadijah radhiyallahu ‘anha. Lahirlah keturunan Rasulullah yang mulia. Sampai tiba masanya ketika Rasulullah diangkat menjadi Rasul.

Ketika Rasulullah diangkat menjadi Rasul banyak kalangan suku Quraisy yang membantahnya, dan melakukan pemboikotan kepada Rasulullah, dan sejumlah kecil pengikutnya. Akhirnya Rasulullah diwahyukan untuk berhijrah dari Mekkah ke Madinah.

Di Madinah berbondong-bondong manusia masuk Islam, maka berkembanglah Islam di Madinah. Singkat cerita Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan untuk kembali ke kota Makkah, maka manusia berbondong-bondong pula masuk Islam, termasuk Ummu Hani` radhiAllohu ‘anha. Sedangkan suaminya, Hubairah enggan masuk Islam dan melarikan diri ke Najran.

Pada hari pembukaan negeri Makkah itu, ada dua kerabat suami Ummu Hani` dari Bani Makhzum, Al-Harits bin Hisyam dan Zuhair bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah, datang kepada Ummu Hani` untuk meminta perlindungan. Waktu itu datang pula ‘Ali bin Abi Thalib radhiallohu ‘anhu menemui Ummu Hani` sambil mengatakan, “Demi Alloh, aku akan membunuh dua orang tadi!” Ummu Hani` pun menutup pintu rumahnya dan bergegas menemui Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam.

Setelah Ummu Hani` berpisah dari suaminya karena keimanan. Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam pun sudah melewati masa duka setelah ditinggal Khadijah tercinta. Maka Rasulullah kembali untuk meminang Ummu Hani’. Namun lamaran Rasulullah kembali ditolak dengan halus, “Sesungguhnya aku ini seorang ibu dari anak-anak yang membutuhkan perhatian yang menyita banyak waktu. Sementara aku mengetahui betapa besar hak suami. Aku khawatir tidak akan mampu untuk menunaikan hak-hak suami.” Maka Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam mengurungkan niatnya. Beliau mengatakan, “Sebaik-baik wanita penunggang unta adalah wanita Quraisy, sangat penyayang terhadap anak-anaknya.”

Maha Suci Allah yang menciptakan teladan sempurna untuk ummat. Itulah sikap Rasulullah setelah dua kali pinangannya ditolak oleh satu perempuan yang sama. Sikap Rasulullah begitu lembut dan tidak menyimpan dendam, bahkan Rasulullah memuji wanita Quraisy karena sikapnya yang penuh kasih sayang.

Wallahu A’lam Bisshowab

Baca Juga : Inilah Kisah Aminah Ibunda Rasulullah yang Jarang Diketahui