Melakukan Sebuah Larangan Tanpa Sengaja, Berdosakah?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Jika seseorang melakukan maksiat maka hal yang harus dilakukan olehnya adalah beratubat dengan taubat yang nasuha, bersungguh-bersungguh memperbaiki diri. Dimana bertekad tidak melakukan maksiat itu untuk yang kedua kalinya.

Berbicara soal maksiat, maka berkaitan dengan segala sesuatu yang tentunya dilarang oleh Allah Ta’alaa. Jika sesuatu perkara dilarang, itu berarti tidak boleh dilakukan oleh kita sebagai wujud taat dan patuh kepada perintah-Nya. Namun, bagaimana jika seseorang melakukan perkara yang dilarang tanpa sengaja, apakah itu berdosa? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal.

Kalau seseorang tidak sengaja melakukan suatu larangan, apakah dikenai hukuman? Kaedah Syaikh As-Sa’di berikut bisa menjawabnya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam bait sya’irnya berkata,

وَالخَطَاءُ وَالإِكْرَاهُ وَالنِّسْيَانُ ** أَسْقَطَهُ مَعْبُوْدُنَا الرَّحْمَانُ ** لَكِنْ مَعَ الإِتْلاَفِ يَثْبُتُ البَدَلُ ** وَيَنْتَفِي التَّأْثِيْمُ عَنْهُ وَالزَّلَلُ

Tidak sengaja, dipaksa dan lupa ** Maka Allah -sesembahan kita yang Maha Pengasih- menggugurkan dosa ** Akan tetapi jika ada penghancuran, mesti ada ganti rugi ** Namun untuk dosa dan kekeliruan tidaklah dikenakan

Hal yang pertama dibahas adalah ketidaksengajaan. Yang dimaksud di sini adalah tidak punya maksud untuk melakukan sesuatu. Bukan yang dimaksud dengan khatha’ di sini adalah lawan dari benar atau berarti salah. Sesuatu ketidaksengajaan tidaklah dikenakan dosa sebagaimana disebutkan dalam ayat,

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tidak sengaja.” (QS. Al-Baqarah: 286). Dalam hadits disebutkan bahwa Allah telah memenuhi hal tersebut.

Dalam hadits disebutkan,

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

Sesungguhnya Allah memaafkan umatku ketika ia tidak sengaja, lupa atau dipaksa.” (HR. Ibnu Majah, no. 2043. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih karena memiliki penguat dari jalur lainnya)

Baca Juga : Membaca Al-Qur’an Tanpa Memahami Maknanya, Bagaimana Hukumnya?

Apakah Kalau Tidak Sengaja Dikenakan Ganti Rugi? Mengenai hal ini, tentu saja perlu dirinci.

Pertama, jika terkait dengan hak sesama manusia. Ada dua hal yang perlu diperhatikan:

  1. Jika memang perbuatan tersebut diizinkan, ia sengaja melakukan, namun tidak sengaja merusak, ketika itu tidak ada dhaman (ganti rugi). Contoh seperti yang dilakukan oleh seorang tabib atau dokter, atau orang yang menjadi wakil (diserahi tanggung jawab) lalu tidak sengaja merusak. Karena kaedahnya, sesuatu yang dibolehkan oleh syari’at mengakibatkan tidak ada dhaman (ganti rugi).
  2. Jika memang perbuatan tersebut tidak diizinkan, maka dikenakan dhaman (ganti rugi). Contoh orang yang tidak sengaja membunuh orang lain walaupun tidak dikenakan qishash (nyawa dibalas nyawa), namun tetap dikenakan dhaman (ganti rugi) yaitu dikenakan diyyat.

Kedua, jika terkait dengan hak Allah, maka tidak ada hukuman had. Namun apakah ada dhaman (ganti rugi)? Hal ini perlu dirinci.

  1. Jika tidak ada itlaf (pengrusakan) seperti seseorang yang tidak sengaja menutup kepalanya saat ihram atau memakai baju saat ihram (padahal tidak boleh mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh seperti baju, pen.), maka tidak ada kafarah
  2. Jika ada itlaf (pengrusakan) seperti memotong kuku saat ihram atau memotong rambut saat ihram atau berburu hewan saat ihram, maka ada beda pendapat jika dilakukan tidak sengaja untuk kasus kedua ini. Pendapat yang lebih kuat adalah tetap dikenakan kafarah.

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Bolehkah Sedekah Kepada Pengemis yang Pura-Pura Miskin?

Originally posted 2017-09-13 05:11:16.