Jasad Masih Utuh Setelah 9 Tahun Meninggal Dunia, Ternyata Ini Amalannya

Sumber Foto Dari: www.99.co/blog

HIJAZ.ID – Pada sebuah wilayah di sudut pulau Jawa, terdapat satu kisah yang membuat banyak orang terheran-heran. Bagaimana tidak, sebuah makam seorang kakek yang sudah 9 tahun meninggal dunia, tetapi jasad dan semua isi di makamnya masih nampak utuh.

Ialah Mbah Darjo. Sesosok kakek tua yang semasa hidupnya hanya bekerja sebagai kuli angkut. Sehari-harinya ia dikenal tidak lebih dari kuli angkut biasanya. Bekerja mengangkat apa pun yang bisa mendatangkan rezeki baginya. Tiada pilih-pilih. Maka ketika tersiar kabar bahwa makam Mbah Darjo masih utuh hingga 9 tahun lamanya, semua orang nyaris tak percaya. Bahwa karamah Allah turun pada seorang yang semasa hidupnya hanya seorang kuli angkut.

Dimulai saat cucu beliau wafat, dan mewasiatkan kepada keluarganya untuk dimakamkan disebelah makam si mbah. Tersebab tidak cukup jaraknya dengan makam di sebelahnya, maka keluarga memutuskan untuk menggali sedikit bagian dari makam Mbah Darjo. Siapa yang tidak terkejut, hari itu, siapa pun yang melihatnya menjadi saksi, betapa papan, kafan dan jasad Mbah Darjo masih utuh. Tentu bukan perkara yang umum, sebab semestinya makam seusia 9 tahun sudah menyatu dengan tanah.

Kemudian orang mulai ingin mencari tahu apa penyebab makam Mbah Darjo masih amat terawat. Seperti bukan makan yang usianya 9 tahun. Semuanya utuh, seperti penjagaan Allah selalu menyertai jasad si mbah. Dengan niat mengabarkan kebaikan, agar orang bisa meniru amalan si mbah, keluarga pun mulai menceritakan apa-apa yang dikerjakan si mbah semasa hidupnya.

1) Memperjuangkan setiap tetes keringatnya untuk rezeki yang halal. Meski hidup dalam keadaan ekonomi yang biasa-biasa saja, tidak lantas membuat Mbah Darjo kehilangan iman. Pekerjaan yang meski berat terus ia jalani. Bagi si mbah, bekerja amat keras dan mendapatkan rezeki halal jauh lebih baik daripada mudah yang mendatangkan keharaman. Iman telah lekat merasuk ke dalam jiwanya. Rezeki halal lagi baik selalu ia perjuangkan meski seringkali tidak mudah. Tentu tidak setiap orang mampu bekerja sebagaimana pekerjaan si mbah. Tapi terus dilakoninya takdir ini, terus diperjuangkannya setiap tetes keringan untuk mencari rezeki yang diridhai Allah.

Baca Juga: Rasulullah Tidak Melakukan Ini Saat Shalat!

2) Sabar terhadap cela dan hina. Bekerja sebagai kuli angkut membuat si mbah seringkali mendapatkan cemoohan dari orang lain. Hinaan yang datangnya mungkin dari orang-orang yang merasa berada lebih tinggi derajatnya dari si mbah. Meski begitu, Mbah Darjo tetap mengupayakan kesabaran hadir di dalam hatinya. Tiada pernah ia merasa ada dendam yang menggelora. Memaafkan orang yang sudah mencela dan menghina memang tidak mudah. Sebab itulah kesabaran si mbah membawanya pada keistimewaan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

3) Sebelum tidur, Mbah Darjo selalu bershalawat. Bukankah Rasulullah pernah bersabda dalam sebuah riwayat, barang siapa yang bershalawat kepadaku, maka Allah akan membalas shalawatnya 10 kali? Mbah Darjo berupaya untuk mengikuti amalan-amalan orang-orang shalih. Sejak dulu, orang-orang shalih memang selalu punya amalan, yang meski tidak terlalu megah, tetapi teramat istimewanya di sisi Allah.

Mbah Darjo tidak pernah tidur sebelum shalawat mengalir dan membasahi lisannya. Hingga lelah membawanya pada lelap tidurnya. Terus ia amalkan shalawat sebelum tidur itu di setiap malamnya. Hingga pernah suatu ketika, keluarga mencoba menghitungnya. Mbah Darjo bershalawat sebanyak 16.000. Bayangkan, bukan jumlah yang sedikit.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah mengingatkan, bahwa sebaik-baik amalan ialah yang dikerjakan secara terus-menerus meski sedikit. Amalan itulah yang senantiasa diupayakan oleh si mbah. Amalan mudah yang seringkai diabaikan oleh kita. Ternyata membawa si mbah menjadi salah seorang hamba yang istimewa di sisi-Nya. Hingga 9 tahun usia kematiannya, jasad dan semua isi di makamnya masih nampak utuh.

Belajar dari kisah Mbah Darjo, semestinya kita menyadari betapa berartinya amalan-amalan yang mungkin selama ini dianggap sepele. Rasulullah sendiri tidak tidur sebelum memohonkan ampunan kepada Allah atas segala dosanya. Beliau selalu beristigfar, setidaknya dalam kisaran 70 hingga 100 kali. Bagaimana dengan kita? Amalan apa yang akan menjadi andalan kelak saat menghadap Allah?

Kematian semakin dekat, upaya mencari bekal tidak kunjung meningkat? Jika esok waktunya tiba, sudah siapkah kita dengan bekal yang begini-begini saja?

Baca Juga: Jika Engkau Terbebas Dari Lima Perkara Ini, Maka Silahkan Bermaksiat

 

Originally posted 2017-09-13 12:39:41.