Bagaimana Adab Tersenyum Ikhwan dan Akhwat yang Bukan Muhrim?

Sumber Foto Dari : photography173c.wordpress.com
HIJAZ.ID Wajah yang dihiasi dengan senyuman merupakan akhlak Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Sahabat Jarir bin Abdillah Radhiallahu’anhu berkisah:

مَا حَجَبَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ أَسْلَمْتُ، وَلاَ رَآنِي إِلَّا تَبَسَّمَ فِي وَجْهِي

Sejak aku masuk Islam, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah menghindari aku jika aku ingin bertemu dengannya, dan tidak pernah aku melihat beliau kecuali beliau tersenyum padaku” (HR. Bukhari, no.6089).

Adapun dalam sabda Rasulullah yang lainnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

تبسمك في وجه أخيك لك صدقة

Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah” (HR. Tirmidzi 1956, ia berkata: “Hasan gharib”. Di-shahih-kan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib)

Menurut ulama Ushul Fiqih saudara dalam hadits tersebut adalah semua saudara yang muhrim yakni saudara kandung dan perempuan/ laki-laki kerabatnya yang muhrim. Lalu bagaimana dengan senyum seorang wanita kepada pria yang bukan muhrim atau sebaliknya?

Baca Juga : Mau Tampil Selalu Cantik? Cukup Lakukan Kebiasaan Rutin Ini Di Pagi Hari

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Telah kita ketahui bersama bahwa perempuan merupakan cobaan terbesar untuk laki-laki yang masih lajang maupun yang sudah beristri. Hal tersebut sejalan dengan sabda nabi, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء

tidaklah aku tinggalkan fitnah (cobaan) yang paling berat bagi laki-laki selain cobaan wanita” (HR. Al Bukhari 5069, Muslim 2740)

Dalam hadits yang membahas hal yang serupa. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

المرأةُ عورةٌ ، فإذا خرَجَتْ اسْتَشْرَفَها الشيطانُ

wanita adalah aurat, jika ia keluar, setan akan menghiasinya” (HR. At Tirmidzi, 1173, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

Adapun untuk menjawab pertanyaan dalam paragraf sebelumnya. Merunjuk pada sebagian ulama berpendapat bahwa muslimah boleh tersenyum pada lelaki. Menurut ulama, dengan syarat selama tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari, ketika menjelaskan judul dari Shahih Al Bukhari :

(باب تسليم الرجال على النساء والنساء على الرجال): والمراد بجوازه أن يكون عند أمن الفتنة

“(Bab ucapan salam seorang lelaki kepada wanita dan wanita kepada lelaki), maksudnya kebolehannya dengan syarat selama aman dari fitnah”.

Syaikh Sulaiman Al Majid menjelaskan: “yang nampak bagi kami, tidak ada pertentangan antara dua sisi pandang tersebut. Hukum asalnya boleh bercengkrama dan tersenyum antara wanita dan lelaki, jika tidak dikhawatirkan fitnah. Dan dalam hal itu hendaknya memperhatikan keadaan si wanita dari sisi kencantikannya dan sisi usianya. Juga perlu memperhatikan bagaimana penduduk setempat dan kebiasaannya. Karena hal-hal ini memberi pengaruh yang besar. Disebagian negeri atau sebagian lingkungan, jika ada wanita muda dan lelaki bercengkrama maka umumnya akan menimbulkan keburukan, diantaranya terpikatnya hati antara keduanya, sementara di negeri atau lingkungan yang lain tidak terjadi demikian. Maka tergantung bagaimana adat penduduk setempat, maka prakteknya sesuai dengan keadaan.”

Hukum boleh tersebut menjadi haram, jika senyum muslimah menimbulkan penyakit dalam hati muslim. Oleh karena itu, muslimah maupun muslim boleh saling berbagi senyum hanya sekedar menghormati, bukan dengan senyum yang berlebihan.

Wallahu A’lam Bisshowab

Baca Juga : Meraih Pahala Surga Hanya dengan Senyuman

Originally posted 2017-09-14 02:01:18.