Inilah Manusia yang Akan Membersamai Kita Pada Hari Kiamat!

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Manusia dan jin diciptakan, pada hakikatnya adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’alaa. Namun, banyak diantaranya yang lalai dalam beribadah dan melakukan banyak sekali perkara yang telah dilarang oleh Allah Ta’alaa.

Pun, dalam hal mencintai atau menyukai sesuatu, banyak manusia yang salah kaprah dalam memahaminya hingga mereka merasakan penyesalan di akhir atas apa yang telah mereka perbuat. Karena, hal yang penting untuk diketahui adalah manusia akan bersama orang yang dicintai atau disukainya kelak di hari kiamat. Berikut ini penggalan hadits yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Abdulla Tuasikal.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits,

فَقُلْتُ هَلْ سَمِعْتَهُ يَذْكُرُ فِى الْهَوَى شَيْئًا قَالَ نَعَمْ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ فَبَيْنَا نَحْنُ عِنْدَهُ إِذْ نَادَاهُ أَعْرَابِىٌّ بِصَوْتٍ لَهُ جَهْوَرِىٍّ يَا مُحَمَّدُ. فَأَجَابَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى نَحْوٍ مِنْ صَوْتِهِ هَاؤُمُ وَقُلْنَا لَهُ وَيْحَكَ اغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ فَإِنَّكَ عِنْدَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَقَدْ نُهِيتَ عَنْ هَذَا. فَقَالَ وَاللَّهِ لاَ أَغْضُضُ. قَالَ الأَعْرَابِىُّ الْمَرْءُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ. قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ».

Saya berkata lagi, “Apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan tentang masalah hawa nafsu (cinta)?” Dia menjawab, “Iya pernah. Suatu ketika kami bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan. Di kala kami berada di sisi beliau, tiba-tiba ada seorang Arab Badui (pegunungan) memanggil beliau dengan suara keras sekali. Ia berkata, “Hai Muhammad!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab dengan suara yang sama kerasnya, “Mari ke mari.” Saya pun berkata kepada Arab Badui tersebut, “Celaka engkau ini, perlahankanlah suaramu. Sebab engkau ini benar-benar berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan aku dilarang seperti itu.” Namun Arab Badui itu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memelankan suaraku.” Kemudian ia berkata kepada beliau, “Ada seseorang mencintai suatu golongan, tetapi ia tidak dapat bertemu (menyamai) mereka.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat.”

Faedah dari penggalan hadits di atas:

  1. Orang yang jauh dari ilmu biasa jauh dari adab atau akhlak yang baik seperti yang terdapa pada Arab Badui yang memanggil Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dengan suara keras.
  2. Seseorang harus pintar meladeni orang yang jahil (bodoh) dengan cara yang baik.
  3. Jika seseorang mencintai suatu kaum dan amalnya tidak bisa menggapai amal mereka, masih bisa ia bersama mereka karena setiap orang akan bersama dengan siapa yang ia cintai pada hari kiamat kelak. Semoga kita dapat bersama dengan Rasul, bersama dengan para khulafaur rosyidin, bersama dengan para sahabat karena kecintaan kita pada mereka dan mau mengikuti jalan mereka.
  4. Keutamaan berkumpul dan berteman dengan orang baik dan sholih. Setiap orang akan tergantung pada teman baiknya. Karena disebutkan dalam pepatah Arab,

الصاحب ساحب

“Sahabat itu akan mudah mempengaruhi temannya.”

Baca Juga : Membaca Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah di Malam Hari Mencukupi dari Shalat Malam, Benarkah?

5. Setiap orang wajib membenci orang kafir agar ia tidak dikumpulkan bersama dengan mereka di hari kiamat kelak.

Berdasarkan uraian hadits tersebut, maka sudah sepantasnya kita mencintai sesuatu hal yang akan membuat kita lebih dekat kepada Allah Ta’alaa, bukan sebalaiknya. Pun, sebagai seorang muslim, kita harus sangat selekstif terhadap perkara-perkara yang akan kita sukai dan kita cintai. Karena, bersama orang yang kita cintailah kelak kita di hari kiamat.

Wallahu a’lam bish shawab.

Referensi:

Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Sholihin, Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 49-52.

Syarh Riyadhish Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan tahun 1426 H, 1: 108-115.

Baca Juga : Tak Ingin Syaithan Masuk ke Dalam Rumah? Bacalah Do’a Berikut Ini!

Originally posted 2017-09-15 01:11:35.