3 Perkara yang Menghiasi Hari-Hari Orang Shalih Jelang Berakhirnya Tahun Hijriah

Sumber Foto Dari: garansizone.blogspot.co.id

HIJAZ.ID – Betapa waktu tak berbau. Beralihnya pun seperti hanya menyisakan rasa penasaran di benak manusia. Mengapa beralihnya tak terasa, hingga hari dengan segera berganti minggu. Bulan berganti tahun. Siang yang seketika menjadi malam. Fajar yang dengan cepat bergeser petang. Tidakkah kita menyadari bila waktu berputar teramat gesitnya?

Tak terasa pula, hanya tersisa beberapa hari lagi, tahun 1438 H akan pergi meninggalkan kita. Tidak akan ada lagi hari, minggu, bulan dan tahun yang serupa di masa kemudian. Satu tahun telah berlalu, menggenapi usia kita yang semakin menipis hakikatnya. Tidakkah kita perlu merasa khawatir, tentang bergesernya waktu yang sejatinya mengikis kesempatan untuk hidup di dunia?

Ada kiranya yang perlu kita pikirkan, tentang sisa kesempatan yang tiada seorang pun tahu kapan berakhirnya. Tentang bekal yang masih jauh dari cukup, sedang dosa telah banyak bertumpuk-tumpuk. Adakah kiranya kita memikirkan, tentang kesiapan jika sewaktu-waktu dipanggil pulang?

Betapa khalifah Umar ibn Khattab, seorang sahabat yang telah jelas surganya, amat ringan hisabnya. Betapa syaitan pun takut pada kilauan pedangnya, tauhid dan aqidahnya. Beliau selalu dihujani air mata pada setiap penghujung tahunnya. Mengingat-ingat yang sudah dikerjakan. Sekiranya dosa lebih banyak dari amal kebajikan.

Para orang-orang shalih pun demikian. Betapa penghujung tahun menjadi salah satu momen penting dalam mengoreksi keseriusan mengumpulkan bekal. Bahwa kelak setiap kita pasti mati. Habis kesempatan di muka bumi, tinggallah kewajiban untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan. Tidakkah teramat merugi manusia, bila kesempatan di hidupnya tidak lantas membuatnya kelak masuk ke dalam surga?

Sekiranya ada 3 perkara yang senantiasa menghiasi hari-hari orang shalih di masa berakhirnya tahun. Ialah momentum untuk muhasabah diri, memperbaiki amal ibadah dan semakin ingat akan kematian.

1. Muhasabah diri. Betapa pentingnya menghisab diri masing-masing di dunia, sebelum kelak menghadapi hari di mana Allah dengan ke-Maha Adilan-Nya berkuasa. Mulailah berhitung, sekiranya semasa hidup di dunia, lebih banyak kebaikan yang dikerjakan atau justeru bertumpuk kemaksiatan.

Bila dosa terus dikerjakan, maka hendaknya segerakan memohonkan ampunan. Bila sekiranya amal masih kurang, maka seharusnya segera berupaya meningkatkan. Sebab betapa banyaknya manusia di dalam kuburnya, yang teramat menyesali perbuatan semasa hidupnya. Bila sudah ajal sampai di kerongkongan, tidak akan ada lagi kesempatan untuk mengerjakan amal shalih, meski sesederhana menebar senyuman.

Tidak akan ada lagi waktu dhuha, tidak akan ada lagi kesempatan bertahajud. Tidak akan ada kesempatan bersedekah, tiada lagi waktu untuk sekadar shalat sunnah. Tidak akan ada tambahan kesempatan untuk memperbaiki shalat fardhu. Tidak akan ada waktu untuk menjalin hubungan baik pada sesama manusia.

Betapa banyak orang-orang di alam kubur yang meronta pada Allah agar diberikan kesempatan memperbaiki amal di dunia. Apalah berartinya yang demikian, bila peringatan semasa hidup tiada pernah dihiraukan? Maka timbang-timbanglah amal sendiri, hindari menghisab orang lain. Sebab tiada kepastian, amalan kita lebih berat dari orang lain. Tiada jaminan dosa kita lebih ringan dari yang lain. Karena kelak setiap manusia akan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Maka sebelum sibuknya kita di hari perhitungan, sibukkanlah dulu dengan menimbang dosa dan amal kebajikan.

Baca Juga: Jika Engkau Terbebas Dari Lima Perkara Ini, Maka Silahkan Bermaksiat

2. Memperbaiki amal ibadah. Bukankah dalam sebuah riwayat Rasulullah telah mengingatkan, bahwa menusia beruntung ialah yang hari ini lebih baik dari kemarinnya. Sedangkan esok lebih baik dari hari ininya. Maka sudah sepatutnya manusia, seorang hamba terus berupaya untuk bisa meningkatkan amal ibadahnya pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Terus memperbaharui keimananya, mengejar derajat taqwanya.

Tidak senantiasa disibukkan oleh urusan dunia, yang sudah pasti sementara. Sedang untuk yang selamanya tidak diikhtiarkan dengan sebaik-baiknya. Untuk yang sementara saja kita rela menghabiskan waktu, tenaga, pikiran dan kesempatan. Lantas mengapa untuk yang selamanya terlampau sulit diupayakan?

Rasulullah dan para sahabatnya saja merasa teramat khawatirnya tentang kecukupan bekal, lantas kita ini siapa? Surga belum jelas, hisab masih menegangkan, dosa berserakan, dengan amat santainya menjalani kehidupan. Bercita-cita surga, tapi lemah dalam berupaya?

3. Semakin mengingat kematian. Sebuah syair mengatakan, berbuatlah sekehendakmu, bermaksiatlah sesukamu, tapi ingatkan bila esok setiap kita akan menghadapi kematian.

Pernahkah kita memikirkan, mengapa Allah rahasiakan jatah kehidupan? Hingga tidak jarang ada kabar mendadak tentang kematian seseorang. Sebab dengan begitulah seharusnya manusia selalu berjaga-jaga. Menjaga ibadahnya agar senantiasa istiqamah mengerjakan perintah-Nya. Menjaga imannya agar tidak mudah tergoda oleh bujuk rayu syaitan.

Esok akan datang suatu hari, di mana badan ini kaku tak berdaya. Harta dan tahta tak lagi berkuasa. Saat Malaikat Izrail datang menjemput, tak akan bisa menolaknya. Setiap kita akan pulang dengan bekal yang telah dikumpulkan. Dan bekal itulah sejatinya akan menentukan, bagaimana nasib kehidupan di masa kemudian. Apakah akan tersenyum tersebab surga, atau justeru menjerit tak berdaya sebab dimasukkan ke dalam siksaan api neraka.

Semua pilihan masa depan ada di tangan manusia. Dengan senantiasa berharap pada pertolongan Allah, semoga setiap jejak langkah kita diridhia oleh Dia. Mohonkanlah selalu ampunan atas setiap dosa-dosa. Karena tanpa kasih dan sayang-Nya, sungguh tiada berarti apa-apa segala ikhtiar kita.

Baca Juga: Jasad Masih Utuh Setelah 9 Tahun Meninggal Dunia, Ternyata Ini Amalannya

Originally posted 2017-09-15 06:27:20.