Dengan Amalan Sederhananya, Rasulullah Menjamin Surga Kepada Orang Ini

Sumber Foto Dari: khazanahalquran.com

HIJAZ.ID – Siapa yang tidak ingin dimasukkan pada tempat terbaik? Semua manusia bercita-cita surga, tapi tidak semua benar mengupayakannya. Bila ada yang berkata betapa sulitnya mencapai surga, bukankah Allah dengan segala rahmatnya membentangkan kemudahan? Hanya banyak dari kita yang lebih tergoda pada bujuk rayu syaitan. Terlampau cinta pada dunia sehingga kehilangan banyak kesempatan berbuat kebaikan sebagai bekal menuju kehidupan di hari kemudian.

Tidakkah seharusnya kita terus percaya bahwa kasih sayang Allah tidak akan membiarkan hamba-hamba yang senantiasa menegakkan agaran-Nya masuk ke dalam siksaan api neraka. Sebab itulah, tugas kita hanya sebaik mungkin berusaha menjadi hamba yang taat pada setiap perintah dan larangan-Nya. Selebihnya terus mohonkan ampunan pada tiap dosa-dosa, dan mohonkan pula Allah memberikan kasih dan sayang-Nya pada kita. Sehingga kelak dengan kesungguhan menjalani kehidupan sesuai pedoman, kita akan dihadiahkan surga oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Datang sebuah kisah dari seorang sahabat, yang dengan keistimewaannya Rasulullah menyebutnya sebagai ahli surga. Suatu ketika, saat para sahabat sedang berada di dalam masjid bersama Rasulullah, beliau kemudian berkata, akan tiba seseorang yang masuk dari pintu ini, kelak akan menjadi ahli surga. Betapa penasarannya para sahabat, ingin segera melihat sosok manusia yang dengan keistimewaan ibadahnya membuat Rasulullah menjaminkan surga atasnya.

Tidak lama kemudian, datanglah seorang pemuda Ansar yang masih basar jenggotnya tersebab wudhunya. Masuk melalui pintu yang sebelumnya disebut oleh baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa para sahabat teramat penasaran dengan kualitas ibadah orang ini, sebab tiga kali Rasulullah menyebutkan hal serupa, tiga kali pula orang ini muncul setelahnya.

Baca Juga: Jasad Masih Utuh Setelah 9 Tahun Meninggal Dunia, Ternyata Ini Amalannya

Hingga di suatu waktu, seorang sahabat bernama Amr bin Ash memohon izin untuk ikut bersamanya dan menginap selama tiga hari dirumahnya. Bertanya Amr bin Ash, wahai saudaraku, apakah amalan yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah menyebutmu sebagai ahli surga? Dengan teramat rendah hatinya orang itu menjawab, aku tidak memiliki amalan yang istimewa sebagaimana para sahabat lainnya wahai Amr.

Malam pertama berlalu, Amr bin Ash tidak menemukan orang ini mengerjakan tahajut di sepertiga malamnya. Artinya orang ini tidak rutin mendirikan tahajud di setiap malamnya. Kemudian tiba di hari kedua, orang ini pun tidak mengerjakan puasa sunnah. Artinya ibadah puasa sunnahnya juga tidak rutin dikerjakan. Semakin penasaran Amr bin Ash kepada seorang Anshar yang hingga hari kedua ini belum ditemukannya di mana letak keistimewaannya.

Tibalah Amr bin Ash di malam ketiga. Ia menemukan bacaan Al-Qur’an orang ini yang biasa-biasa saja. Tidak seperti Abdullah bin Mas’ud yang dengan kemerduan bacannya, hingga para malaikat berebut untuk turun ke dunia guna mendengarkan tilawahnya.

Tiga hari berdiam di rumah si Anshar, tiada menemukan tanda-tanda keistimewaan. Amr bin Ash semakin terlihat penasaran. Kembalilah ia bertanya, apa yang membuat Rasulullah menjaminkan surga atasmu wahai Anshar? Orang itu menjelaskan, aku sudah mengatakan kepadamu wahai Amr, aku tidak memiliki amalan yang berat dan istimewa. Aku hanya membiasakan sebelum tidurku, selalu memohonkan kepada Allah agar terhindar dari sifat iri hati dan mudah memaafkan kesalahan orang lain. 

Tiada aku tidur sebelum memohonkan dua hal itu kepada Allah. Terus istiqamah kukerjakan. Tanpa kulewatkan satu malam pun kecuali bermunajat kepada Allah pada setiap sebelum lelapku. Sekiranya itulah yang menjadi amalan pemberatku, hingga Rasulullah menilainya sebagai surga kelak di akhirat.

Betapa kisah ini bisa menjadi sebuah pelajaran bagi kita. Bahwakecil yang istiqamah dikerjakan akan lebih bermakna dari yang besar tapi terputus-putus. Sederhana sesungguhnya apa yang orang ini lakukan. Sebagaimana kebiasaan yang juga dikerjakan oleh orang-orang shalih di setiap sebelum tidurnya. Ialah memohonkan kepada Allah, berdzikir menyebut asma Allah. Kalimat tayyibah tiada pernah jeda membasahi lisannya sebelum kematian singkatnya.

Meski sederhana, apakah mau mampu kita mencontohnya?

Baca Juga: 3 Perkara yang Menghiasi Hari-Hari Orang Shalih Jelang Berakhirnya Tahun Hijriah

 

Originally posted 2017-09-15 12:15:07.