Gerakan Shalat yang Begini Bukan Termasuk Ajaran Rasulullah!

Sumber Foto Dari: www.alkhoirot.net

HIJAZ.ID – Shalatlah kalian sebagaimana aku (Rasulullah) mengerjakan shalat. Penegasan dalam hadist tersebut jelas mengarah pada keharusan sesuainya pelaksanaan ibadah shalat kita dengan shalatnya Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apakah kita sudah merasa benar dengan shalat yang dikerjakan? Sedang salah seorang sahabat yang shalat bersama Nabi pun berkemungkinan berbuat salah. Lantas mengapa kita dengan teramat percaya diri merasa aman dengan yang sudah dikerjakan?

Salah satu dari sekian kebiasaan yang perlu setidaknya diluruskan ialah melamakan sujud di setiap akhir shalat. Bukan menjadi sesuatu yang asing di kalangan masyarakat kita, bahwa sujud terakhir biasanya lebih lama dari sujud-sujud yang lainnya. Sebagian orang menempatkan sujud terakhir sebagai saat di mana permohonan di panjatkan.

Perlu di pahami, bahwa esensi shalat ialah do’a. Pada setiap bagian dari shalat mengandung do’a-do’a yang sejatinya ialah mencakup seluruh kebutuhan manusia. Tersebab itulah, Rasulullah tidak pernah secara khusus berdo’a selepas shalatnya. Karena di dalam shalat itulah sesungguhnya waktu yang baik untuk memunajatkan pengharapan.

Pada poin ini jelas, bahwa Rasulullah semestinya do’a tidak secara khusus di tempatkan hanya pada sujud terakhir saja. Sebab pada setiap bagian shalat terkandung kesempatan yang sama untuk memanjatkan do’a. Rasulullah pun tidak pernah mengkhususnya sujud terakhir sehingga lebih lama dari sujud yang lainnya.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim diterangkan, Shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam antara rukuknya, i’tidalnya, sujudnya, duduk diantara dua sujud, lamanya hampir sama.”

Baca Juga: Begini Cara Rasulullah Merapatkan Shaf Saat Shalat Berjamaah

Tiada sedikit pun keraguan pada bagaimana kualitas shalatnya baginda Nabi. Dalam hadist di atas digambarkan, bahwa beliau tidak pernah melamakan sujud terakhirnya, sebab pada setiap gerakan shalat kualitas tuma’ninahnya hampir sama.

Syakh Muhammad bin Salih Al-Ustsaimin dalam kitabnya Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, ditanya tentang sikap orang yang memperlama sujud terakhir untuk berdo’a dan istigfar. Ia menjawab, “Memperlama sujud terakhir bukanlah termasuk dari sunnah Rasulullah. Karena yang sesuai sunnah, setiap gerakan shalat itu mendekati sama; rukuk, i’tidal., sujud, duduk di antara dua sujud. Sebagaimana yang dinyatakan Al-Barra bin Azib rhadiallahu ‘anhu, ‘aku melihat berdirinya, rukuk, sujud, dan duduk di antara dua sujud mendekati sama.’ Inilah cara yang lebih utama. Hanya saja, ada tempat berdo’a di selain sujud, yaitu tasyahud. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan tasyahud kepada Ibnu Mas’ud, beliau bersabda, ‘Kemudian pilihlah do’a yang dia sukai.”

Maka Rasulullah tempatkan do’a, baik sedikit maupun banyak, setelah tasyahud akhir, sebelum salam.

Melengkapi penjelasan tentang apakah melamakan sujud terakhir di dalam shalat merupakan bagian dari sesuatu yang diajarkan oleh Rasulullah, Syekh Abdullah Al-Jibrin mengatakan dalam Fatawa Ibnu Jibrin, “Saya tidak mengetahui adanya dalil yang menunjukkan anjuran memperlama sujud terakhir ketika salat. Hanya saja, mungkin maksud sebagian ulama melakukan hal itu adalah dalam rangka mengingatkan rakaat akhir salat atau gerakan terakhir ketika salat. Kemudian mereka memperlama. Sehingga makmum teringat untuk melakukan duduk tasyahud akhir. Meskipun alasan ini tidak cukup untuk menyatakan diterimanya memperlama sujud terakhir.”

Baca Juga: 5 Hewan Yang Disunnahkan Untuk Dibunuh, Meski di Tanah Haram Sekalipun