3 Penyebab Pahala Hangus Tak Tersisa

Sumber Foto Dari: kuantum-relativistik.blogspot.co.id

HIJAZ.ID – Apakah manusia merasakan amannya bekal, sedang sedikitnya ibadah yang dikerjakan? Apakah manusia merasa telah terjamin surganya, sedang dosa dan maksiat masih terus berpeluang dikerjakan? Apakah manusia merasa telah terbebas dari siksaan api neraka, sedang teramat dhaif untuk tahu apakah amalan dihitung sebagai bekal atau hanya terbuang sia-sia?

Betapa syaitan terus bekerja menggoda manusia. Bila gagal mereka menjadikan manusia lalai terhadap kewajibannya, maka akan digodanya manusia untuk tak bernilai amal perbuatannya. Dengan macam tipu daya, penyakit-penyakit hati yang Allah teramat tidak menyukainya. Hingga kelak saat tiba di hari perhitungan, betapa menyesalnya manusia dengan apa yang sudah dikerjakannya di dunia. Akhlak serta amalan yang bukan justeru menambah pahala baiknya, tetapi hangus tak tersisa sebagaimana api yang membakar batang kayu.

Maka berhati-hatilah dalam berperilaku. Koreksilah selalu isi hati kita. Sudahkah amalan benar-benar diniatkan hanya untuk Allah. Sudahkah tujuan dari ibadah hanya mengharap keridhaan Allah? Sudahkah predikat dunia bisa dijauhi, atau masih melakat erat pada hati yang selalu ingin disanjung dan dipuji?

Perhatikanlah, sungguh terdapat beberapa penyakit yang bisa membuat amalan manusia menjadi sia-sia. Hangus tak tersisa.

1) Syirik. Ialah perbuatan menyekutukan Allah. Mengharap dan menyembah selain kepada Allah. Percaya akan kekuatan selain Allah, menyandarkan segala urusan kepada dzat selain Allah. Perilaku syirik merupakan salah satu dosa yang paling besar, dan diancam oleh Allah akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Bahkan semua dosa berpeluang diampuni, kecuali dosa syirik. Betapa Allah murka pada manusia yang memalingkan diri dari kekuasaan-Nya. Di dalam Al-Qur’an surah Adz-Zumar ayat ke 65 disampaikan, “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” 

Baca Juga: Gerakan Shalat yang Begini Bukan Termasuk Ajaran Rasulullah!

2) Riya’. Dalam sebuah riwayat Rasulullah menyebutkan, bahwa riya’ ialah syirik kecil yang setiap manusia harus berhati-hati terhadapnya. Hasrat ingin mendapatkan pujian dari amalan yang dikerjakan. Hasrat ingin diketahui orang pada ibadah yang dilakukan. Tidak semata-mata mengerjakan tersebab kepatuhan pada Allah. Tidak menujukan segala ibadah sebagai bentuk pengabdian pada Allah. Ada sifat di dalam hati yang terus ingin diketahui oleh sesama manusia. Bukankah telah disampaikan sebuah anjuran, bila tangan kanan memberi, maka sembunyikanlah dari tangan kirinya.

Betapa perilaku riya seperti virus yang sulit mendeteksinya. Bisa jadi kita merasa tidak sedang melakukannya, tetapi dari lisan dan perilaku tercatat sebagai dosa yang menghanguskan pahala-pahala. Maka berhati-hatilah. Sembunyikanlah amal ibadah. Sungguh kebahagiaan hakiki ialah kelak di akhirat, bukan tersebab pujian oleh sesama manusia.

Dalam sebuah hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “”Aku paling kaya, tidak butuh tandingan dan sekutu. Barangsiapa beramal menyekutukan-Ku kepada yang lain, maka Aku tinggalkan amalannya dan tandingannya.”

3) Menyebut-Nyebut Sedekah. Terkisah tentang seorang kakek yang pada suatu waktu berjalan bersama cucunya. Secara kebetulan keduanya melintasi sebuah masjid nan megah bangunannya. Sesaat tepat di depannya, sang cucu berkata kepada kakeknya, “Indah sekali masjid ini kek, bagus nan megah bangunannya.” Tak lama berselang, sang kakek menjawabnya, “Ia nak, sebagian dari dana pembangunan masjid ini kakek yang memberinya.”

Tanpa sadar, sang kakek telah menceritakan, memberitahukan amalan sedekah yang pernah dikerjakannya semasa dahulu. Bertahun-tahun ia berusaha merasahiakannya, menyembunyikannya dari siapa pun. Hanya tersebab perkataan si cucu, syaitan telah menjelma sebagai bentuk yang gagal dihindari oleh sang kakek. Kemudian dicritakannyalah kepada sang cucu perihal sedekahnya. Sungguh betapa amat halusnya syaitan bermain pada setiap keadaan manusia.

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat ke 264, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan, “”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang seperti itu bagaikan batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

Baca Juga: Lebih Baik Makan Ingat Shalat Dari Shalat Ingat Makan?

 

Originally posted 2017-09-19 10:10:32.