Rasulullah Tidak Pernah Mengajarkan Kebiasaan yang Sudah Membudaya Ini

Sumber Foto Dari: fimadani.com

HIJAZ.ID – Haji merupakan satu dari ibadah yang termasuk ke dalam rukun Islam. Artinya barang siapa yang mengaku berkeyakinan pada Islam, maka menunaikan ibadah haji menjadi sebuah kewajiban. Meski terdapat sedikit perbedaan dengan rukun lain, menunaikan ibadah haji diletakkan pada rukun terakhir sebab tidak semua manusia mampu melaksanakannya. Dalam beberapa riwayat disebutkan, bahwa ibadah haji hanya diwajibkan bagi yang mampu, baik secara financial, spiritual, maupun kesanggupan lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadahnya.

Di Indonesia, dengan semakin berkembangnya tingkat perekonomian masyarakat, didukung dengan semangat spiritual yang meninggi, jumlah jamaah haji di setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Pada sebagian daerah bahkan ada yang harus menunggu hingga 20 tahun waktu antrian keberangkatan. Ini membuktikan bila semangat menunaikan rukun Islam kelima terlihat sangat baik.

Tetapi di antara kuantitas yang terus meningkat itu, pada sisi yang berbeda terdapat beberapa hal yang perlu diluruskan. Tersebab haji ialah ibadah, yang hakikatnya sama dengan ibadah fardhu lainnya. Sebagaimana shalat wajib, yang peruntukkannya hanya untuk Allah. Sebagai bukti penghambaan yang sejati. Hanya berharap pada ridha dan ganjaran dari Allah. Bukan harapan-harapan lain yang justeru akan menyia-nyiakan amalan istimewa ini.

Ibadah haji menjadi begitu sakralnya tersebab pada rukunnya kita diundang langsung untuk hadir di rumah Allah. Berhadapan langsung dengan kiblat, arah di mana semua muslim menghadapkan sujudnya. Bergabung dengan jutaan muslim dari seluruh penjuru dunia, menapaki langkah demi langkah perjalanan para Nabi serta Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hanya saja, pada sebagian manusia di sekitar lingkungan kita, terdapat satu kebiasaan yang telah membudaya berkenaan dengan pelaksanaan ibadah haji. Ialah gelar haji yang disematkan pada nama orang-orang yang telah menunaikannya.

Baca Juga: Begini Cara Rasulullah Merapatkan Shaf Saat Shalat Berjamaah

Pada sebagian keadaan yang terkisahkan di tengah masyarakat, bahkan ada orang-orang yang setelah ibadah hajinya, tidak berkenan dipanggil bila tidak disertakan gelar haji di depannya. Sungguh, yang demikian ini tiada dibenarkan. Bukankah ibadah haji berkedudukan sama sebagai rukun dengan empat yang lainnya? Lantas mengapa perlu menempatkan gelar sebagai sesuatu yang teramat pentingnya? Bukankah sebaik-baik gelar ialah mabrur di sisi Allah? Bukan panggilan haji yang tersemat dari sesama manusia?

Betapa banyaknya, dan mungkin hanya di Indonesia, siapa pun yang sepulang hajinya terdapat gelar H. di depan namanya. Perlu diperhatikan kembali, bahwa pelaksanaan ibadah apa pun jenisnya, terlebih yang fardhu, ialah semata-mata karena menjalankan perintah Allah. Hanya berharap kepada balasan dari Allah. Jangan sampai salahnya niat kita menjadi sebab rusaknya amal ibadah. Keberangkatan haji yang tidak mudah teramat sia-sia bila harus pulang dengan kehampaan pahala. Hanya tersebab ada sematan ingin dipuji oleh sesama manusia di dalam hati kita.

Sebuah dilema memang menyematkan gelar haji, setiap manusia memiliki kadar keimanan masing-masing. Hanya yang harus diwaspadai, ada godaan syaitan yang meniupkan harapan akan adanya pujian dan harapan agar dilihat oleh sesama manusia. Sungguh yang demikian itu bagian dari tanda-tanda riya, penyakit hati yang bisa menghanguskan pahala-pahala.

Bila kita menengok Rasulullah, uswatun hasanah, seorang teladan yang semestinya dicontoh segala sesuatu yang datang darinya. Apakah beliau memberikan anjuran untuk mencantumkan gelar haji di depan nama? Apakah Rasulullah sendiri mencantumkan gelar tersebut di depan namanya? Apakah para sahabat yang derajat dan kualitas hajinya jauh di atas manusia biasa sebagaimana kita menitipkan gelar haji di depan namanya?

Maka bila orang-orang mulia saja tidak demikian, mengapa kita bersikukuh ingin mencantumkan? Bukankah kenikmatan beribadah hadirnya di dalam hati tersebab kekhusyu’an dan kerendahan hati? Bukankah sebaik-baik balasan dan pujian ialah dari Allah azza wa jalla? Mengapa kemudian banyak orang yang seperti mewajibkan gelar haji tercantum pada sebelum namanya. Hingga beberapa marah bila ada kesalahan dalam penulisan maupun penyebutan?

Sungguh, berhati-hatilah pada hati. Sebab betapa halusnya syaitan bermain pada perasaan manusia. Meski kita tidak merasa demikian, bukan berarti Allah lalai dalam memberikan penilaian. Janganlah sia-siakan amalan hanya karena ingin dan rindu pada pujian-pujian. Rindulah pada ganjaran yang telah Allah janjikan. Jagalah amalan dengan sebisa mungkin merahasiakan, Hiasi hati dengan senantiasa merendah diri. Mohonkan ampunan tersebab kesombongan, keangkuhan, hasrat ingin memperoleh pujian. Semoga kita tergolong kepada hamba-hamba yang sukses dalam menjaga nilai dari setiap amalan.

Baca Juga: Cara Cerdas Rasulullah Memperlakukan Lalat yang Masuk ke Dalam Minuman

Originally posted 2017-09-20 07:47:51.