2 Kesalahan Kecil yang Mendatangkan Siksa Kubur

Sumber Foto Dari: www.risalah.tv

HIJAZ.ID – Sebagai manusia yang teramat dekat dengan kesalahan dan kekhilafan, dosa dan nista, semestinya kita senantiasa berupaya untuk belajar dan memahami bagaimana sesungguhnya Islam memberikan tuntunan dalam setiap sisi kehidupan. Sudahkah setiap apa yang kita lakukan sesuai dengan yang dituntunkan? Atau justeru sebagiannya bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Tersebab itulah ada sebuah kalimat hikmah, bahwa bila semakin belajar seseorang, maka semakin ia merasa teramat bodohnya. Bahwa semakin memahami ilmu, maka semakin merasa betapa dhaifnya ia. Artinya, ada jauh lebih banyak yang tidak diketahuinya dari yang sudah dipahami. Maka semakin berisinya padi, semakin merunduknya ia.

Belajar dan terus menggali pemahaman tentang ajaran agama sangat penting, dan salah satu kegunaannya ialah mengoreksi kesalahan. Ada sesungguhnya perkara yang amat penting untuk diperhatikan, tetapi seringkali dianggap sebagai sesuatu yang ringan oleh manusia. Ada kesalahan yang sudah menjadi kebaisaan, yang meskipun terlihat sederhana oleh manusia, tetapi berkedudukan amat penting di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sebagaimana dua kebiasaan yang salah dan banyak dilalaikan manusia, ialah membersihkan sisa air kencing sesaat setelah membuangnya, dan perilaku ghibah terhadap sesama manusia.

Sebuah hadist dari Abu Bakrah, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ath-Thabrani, “Ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berjalan di antaraku dan orang lain tiba-tiba beliau mendatangi dua buah kuburan. Beliau bersabda, Sesungguhnya dua penghuni kubur ini sedang di adzab, datangkan sebatang pelepah (kurma) kepadaku”. Berkata Abu Bakrah, “Lalu aku berlomba dengan kawanku (untuk mendapatkannya)”. Maka aku bawakan kepada Beliau sebatang pelepah (korma), lalu Beliau membelahnya menjadi dua potong. Kemudian meletakkan sepotong pada kubur ini dan sepotong yang lain pada kubur itu. Beliau bersabda, “Mudah-mudahan diringankan (adzab) dari keduanya selama kedua potong pelepah itu masih basah. Keduanya diadzab bukan karena sebab perkara besar yaitu ghibah dan air kencing”.

Baca Juga: Cara Cerdas Rasulullah Memperlakukan Lalat yang Masuk ke Dalam Minuman

1) Ghibah. Ialah perilaku membicarakan aib atau keburukan orang lain. Sebagaimana yang banyak terjadi di tengah masyarakat kita. Betapa nikmatnya mencari keburukan saudaranya. Kemudian membicarakan dan menyebarkannya. Betapa pula syaitan sangat kuat menggoda, hingga lebih mudah bagi kita mencari keburukan daripada kebaikan orang lain.

Bukankah dalam sebah riwayat baginda Nabi pernah mengingatkan, bahwa salah satu kewajiban seorang muslim ialah menutup aib saudaranya. Bukan justeru mencari dan membicarakannya. Betapa hati kita gembira, bila ada saudara yang terkemuka aib-aibnya. Tugas kita semestinya membantu menjaganya dengan diam, sebab hanya Allah yang berhak membuka dan menjaga aib seseorang.

Bukankah setiap kita penuh dengan nista dan dosa? Tersebab kasih sayang Allah yang masih berkenan menjaga rapatnya aib-aib kitalah yang membuat orang lain berpandangan baik. Semisal Allah buka semua aib itu, masihkah kita dinilai sebagaimana hari ini oleh orang lain?

Maka sadarilah, bila setiap kita kotor, mengapa terus menghabiskan waktu untuk mencari kotoran orang lain? Sedang kotoran sendiri masih bertumpuk tak pernah surut. Bukankah kedudukan manusia sejatinya hanya diketahui Allah? Lantas mengapa manusia yang berhasil membicarakan aib orang lain merasa lebih baik? Ingatlah sebuah peringatan dalam sebuah riwayat Rasulullah, bahwa ketika seorang manusia mencela saudaranya, maka pahala telah berpindah dan mengalir kepada yang dicela. Sedang pahala yang mencela terus terkikis akibat celaannya.

Maka fokuslah pada dosa masing-masing, pada aib dan kotoran sendiri-sendiri. Meng-ghibah orang lain hanya akan menambah dosa dan menghabiskan pahala. Terlebih lagi, Allah akan turunkan adzab langsung di alam kubur.

2) Air kencing. Perkara istinja, atau cara yang benar dalam menghilangkan najis kecil maupun besar setelah membuangnya memang banyak disepelekan manusia. Seperti membuang hadas kecil di sembarang tempat. Tidak membersihkannya dengan cara yang benar. Masih tersisa najis pada sebagian anggota tubuh.

Tidak bisa dipungkiri, sebagian besar manusia menganggapnya sepele. Sebuah perkara ringan yang tidak memerlukan perhatian. Padahal dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Daruquthniy dan al-Hakim menegaskan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Kebanyakan adzab kubur itu disebabkan dari air kencing”. 

Terkisah pada sebuah perjalanan Rasulullah yang melewati sebuah pemakaman, kemudian beliau berhenti sebab mendengarkan jeritan dari dalam liang pekuburan. Setelah beberapa saat memperhatikan, kemudian beliau berkata pada sahabat yang jalan bersamanya, “tahukan kalian apa sebab dari siksaan di dalam kuburnya?” Para sahabat tak mampu menjawabnya, beliau lantas menjelaskan, “ia di siksa tersebab tidak tuntas dalam membersihkan sisa kencingnya.”

Maka perhatikanlah dengan baik, meski terlihat sederhana, tetapi teramat penting di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jangan hanya tersebab kesalahan dalam menempatkan sesuatu yang penting, kita terjerumus pada siksaan di alam kubur.

Maka sedari sekarang, hindarilah dua perkara yang bisa mendatangkan siksa bagi pelakunya kelak di alam kubur. Kenikmatan yang dirasakan manusia tersebab ghibah bisa dipastikan hadirnya dari tipu daya syaitan. Hasrat ingin menyepelekan istinja juga murni datangnya dari godaan syaitan.

Baca Juga: Rasulullah Tidak Pernah Mengajarkan Kebiasaan yang Sudah Membudaya Ini

 

Originally posted 2017-09-22 02:43:07.