Jika Boleh Meminta, Aku Ingin Tetap Buta!

Sumber Foto Dari: kisahinspiratifdunia.blogspot.co.id

HIJAZ.ID – Terkisah seorang anak yang tinggal di salah satu negara Islam. Ia terlahir tidak sebagaimana anak biasanya. Sedari kecil Allah mengujinya dengan ujian yang belum tentu setiap orang mampu melewatinya. Si Fulan lahir dengan kebutaan di matanya. Ia tidak mampu melihat sebagaimana teman-temannya. Bisa dibayangkan, dunia bagi si Fulan hanya satu kata, gelap.

Dengan kondisi si Fulan yang demikian, orang tuanya, terlebih ayahnya tiada putus asa merawat dan membesarkan. Sejak kecil Fulan dibimbing untuk taat pada agama dan Tuhannya. Si Fulan dalam banyak kesempatan diperdengarkan ceramah dan kajian.

Hingga tiba pada sebuah pembahasan tentang keutamaan orang-orang yang menghafal Al-Qur’an. Bahwa kelak bagi seorang penghafal Qur’an, akan dimasukkan ke dalam surga dengan sebuah singgasana yang terbuat dari cahaya. Dan diberikan kepada kedua orang tuanya mahkota yang dipasangkan langsung oleh si penghafal Qur’an. Betapa nasihat itu masuk dalam ke relung hatinya. Ditambah dengan janji Allah dalam sebuah riwayat Imam Bukhari, bahwa kelak Allah akan membalas ujian kebutaan seseorang dengan surga apabila ia melaluinya dengan kesabaran.

Sehabis meresapi nasihat tersebut, si Fulan seketika berkata pada ayahnya, “Wahai ayahku, tolong bimbing aku untuk bisa menghafalkan Al-Qur’an.” Di waktu yang sama, betapa detak jantung sang ayah berdetup tak karuan. Haru bercampur bahagia saling bergantian merasuki segenap isi di hatinya. Ia tak tahu bagaimana bisa Allah membimbing anaknya untuk bertekad menghafalkan Al-Qur’an. Sedang kondisi kedua matanya dalam kebutaan.

Dengan yakinnya, sang ayah menjawab, “Baiklah nak, InsyaAllah ayah akan membantumu menghafal Al-Qur’an sebaik yang ayah bisa.”

Beberapa waktu setelahnya, si ayah memikirkan bagaimana metode yang baik untuk membantu anaknya yang baru menginjak 5 tahun ini. Di saat anak seusianya sibuk dengan permainan kesukaan, anaknya justeru bertekad untuk bisa menjadi penghafal Al-Qur’an. Agar lebih dimudahkan, sang ayah kemudian mendaftarkan si Fulan ke madrasah penghafal Qur’an.

Di saat yang sama, sang ayah dengan caranya memodifikasi motornya, kendaraan yang digunakannya untuk mengantar dan menjamput si Fulan, agar bisa menjadi fasilitas bagi si anak dalam mendengarkan ayat-ayat Qur’an, juga menjadi cara baginya dalam mengoreksi kebenaran bacaan si Fulan. Terus setiap hari sang ayah mengantar dan menjemput si Fulan.

Baca Juga: 2 Kesalahan Kecil yang Mendatangkan Siksa Kubur

Dengan sabarnya sang ayah terus mencurahkan kasih dan sayangnya dalam membimbing si Fulan. Hingga tak berjarak lama dari tekad semulanya, si Fulan sudah berhasil menghafal setiap ayar Qur’an. 30 juz mushaf telah sempurna dihafalnya. Tidak cukup sampai disitu, bacaannya pun luar biasa bagusnya. Hingga tiba pada sebuah perlombaan, si Fulan diberikan kemudahan untuk bisa menjadi juaranya. Terkagetlah semua manusia yang menyaksikannya, seorang anak kecil, buta kedua matanya. Tetapi sempurna dan teramat indah bacaan Qur’annya.

Sehabis lombanya, beberapa media berkunjung kepada si Fulan untuk memintakan pendapatnya. Pada suatu ketika, seorang pencari berita bertanya kepadanya, “Wahai Fulan, apa yang membuatmu bertekad kuat untuk menghafalkan Al-Qur’an?” Dengan teduhnya ia menjawab, “saya ingin kelak di akhirat, bisa memakaikan pada kedua orang tua saya mahkota yang terbuat dari cahaya, dan saya sendiri yang akan meletakkannya di atas kepala ibu dan ayah saya.”

Betapa jawaban itu membuat mata pendengarnya berkaca-kaca. Tidak terkecuali orang tuanya, terlebih sang ayah yang dengan sabarnya selama ini membimbing si Fulan. Kemudian ditanyakan kembali kepadanya, “Bila saat ini diberikan kesempatan kepadamu untuk mengajukan satu permintaan kepada Tuhan, maka apa yang hendak kau pintakan wahai Fulan?”

Tanpa jeda, ia pun langsung menjawabnya, “Saya akan meminta kepada Tuhan agar tetap dibutakan.” Siapa yang tidak kaget mendengar jawabannya? Di saat orang lain ingin sembuh dari sakitnya, ingin normal dan lemahnya, si Fulan justeru ingin ditetapkan pada kebutaannya. “Apa alasan permintaanmu itu wahai Fulan?”

Terlintas senyum di wajahnya, si Fulan berkata, “Sebab saya khawatir, bila Allah mencabut kebutaan dari dua mata saya, akan saya gunakan keduanya untuk bermaksiat pada Allah. Saya akan lalai pada perintah dan larangan Allah. Saya akan gagal menjadi anak yang dengan ikhlas menghafal Qur’an. Saya sudah sangat bersyukur, dengan kebutaan ini Allah memudahkan untuk bisa menghalafkan mushaf. Sebab saya yakin pada Allah, bahwa kelak saya akan dimasukkan ke dalam surga-Nya tersebab kesabaran saya menjalani ujian ini.”

Siapa lagi yang bisa berkata-kata mendengar jawaban teramat luar biasa dari seorang anak berusia 5 tahun. Para penanya pun langsung diam tak mampu melanjutkan. Semua pendengar seperti terpukul satu demi satu. Kita yang selama ini dikaruniai mata yang sehat sempurna. Justeru lalai pada untuk apa semestinya dikerjakan. Lebih banyak bermaksiat pada Allah dari menggunakannya untuk menambah amal kebajikan. Lebih banyak menyia-nyiakannya dari memanfaatkannya sebagai fasilitas mencari bekal.

Betapa seperti tertampar kita pada jawaban si Fulan, yang ingin tetap pada kebutaannya sebab ia khawatir pada ketidakmampuannya menjaga kenikmatan Allah. Lantas bagaimana dengan kita, yang selama ini masih belum mampu berbuat banyak pada apa-apa yang dianugerahkan oleh Allah. Seorang anak yang buta matanya saja dengan tekad luar biasanya menghalafkan Al-Qur’an. Kita yang tanpa kekurangan hingga kini masih enggan meski sekadar membuka dan membaca ayat-ayat Qur’an.

Bila dengan kenikmatan masih membuat kita jauh dari Allah, maka perlu dengan cara apa lagi agar kita bisa mengupayakan dengan dengan Allah?

Baca Juga: Walimah Pernikahan yang Dibenci Allah