Kisah Umar, Anak yang Ingin Bertemu Ayahnya di Akhirat

Sumber Foto Dari: www.ummi-online.com

HIJAZ.ID – Betapa terhambur manusia yang terlalu sibuk pada dunianya. Mencari dengan susah payah sekumpulan materi yang hakikatnya sementara. Tidakkah kita menyadari bahwa sejatinya hidup ialah selepas kematian. Bila harta dan tahta saja tidak mampu membersamai sesaat setelah jasad dikuburkan, maka apa yang akan kita harapkan dari keduanya kelak di akhirat? Terlampau banyak pendahulu yang menyesal sebab hidupnya hanya habis untuk yang tidak bermanfaat. Usianya dipenuhi oleh aktivitas yang hanya melulu duniawi, hingga sedikit sekali memikirkan yang semestinya penting diperhatikan.

Betapa banyak suami yang lebih memilih sibuk dengan kerjanya dari keluarga. Mencari harta tanpa jeda, hingga waktu dan perhatian yang utama untuk keluarga justeru terabaikan. Berapa banyak anak yang hingga dewasanya hampir tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah? Pergi saat dunia masih gelap, hingga kembali ke rumah pun saat dunia sudah gelap. Sehari-hari hanya melihat pertumbuhan anak lewat tidurnya, sebab ketika pergi belum bangun dan saat pulang sudah lelap.

Apa yang sesungguhnya kita cari sebagai kelapa keluarga? Bukankah pencarian rezeki yang dengan sangat diupayakan itu untuk mengembalikan kita pada keluarga? Lantas apa artinya kaya raya bila keluarga hanya sebentuk rumah dan bukan sebentuk kaish sayang? Bukankah rumah selayaknya surga, keluarga ialah segalanya. Mengapa kemudian banyak di antara manusia yang sibuk pada harta dan kedudukannya, dari upayanya untuk memerhatikan keluarga?

Terkisah sebuah peristiwa yang mengandung ibrah luar biasa. Dari seorang anak bernama Umar, kita semestinya banyak belajar. Tersebab kemapanan ekonominya, kedua orang tuanya memilih sekolah terbaik bertaraf internasional untuk putera tercintanya. Ayah dan ibunya sibuk luar biasa, hingga jarang sekali Umar memiliki kesempatan meski hanya untuk sekadar bertemu, terlebih berbagi cerita keseharian.

Sang ayah benar-benar sibuk. Meski ibunya masih berkesempatan untuk mengantarnya sekolah. Di sekolahnya, ada satu hari yang disebut dengan Father Day, ialah hari di mana setiap anak memberikan penampilan kreativnya dan disaksikan oleh para ayah. Tersebab sibuknya, anak-anak lain selalu didampingi oleh ayahnya, sedang umar selalu oleh ibunya. Ayahnya sungguh tidak bisa meninggalkan sibuknya pekerjaannya.

Baca Juga: Memperlakukan Tamu Dengan Cara Ini Tidak Termasuk Adab yang Diajarkan Islam

Hingga di suatu ketika, sang ibu mengingatkan kepada ayahnya bila di hari ayah kali ini ia harus menepati janjinya untuk bisa hadir menemani Umar. Dengan keterpaksaan, ayahnya hadir dan duduklah pada barisan terbelakang dari para ayah lainnya.

Bergantian anak-anak menunjukkan sebuah penampilan, hingga tibalah waktunya Umar. Tidak sebagaimana kawan-kawannya yang menampilkan nyanyian, tarian dan puisi. Umar seketika berdiri di atas panggung, meminta pemandu acara untuk memanggil Ustadz Ali, gurunya dalam menghalafkan Al-Qur’an. Kagetlah si pemandu, “hendak apa dirimu wahai Umar?” Dengan nadanya yang sendu, Umar berkata, “Saya ingin Ustad Ali mengoreksi bacaan Qur’an saya. Saya ingin membacakan surah An-Naba’.”

Tidak lama berselang, Umar dengan baiknya bacaanya memulai melantunkan surah An-Naba’ di hadapan ustadnya dan semua ayah dari kawan-kawannya. Termasuk ayahnya yang duduk di barisan terbelakang. Hingga sampai pada ayat kelimanya, Ustad Ali kemudian memberikan soal kepadanya untuk membacakan ayat sesuai perintahnya. Hingga di pertanyaan terakhir, Umar selalu berhasil menjawabnya.

Pada akhir kesempatan, ustadnya bertanya kepadanya, “Wahai Umar, mengapa engkau memilih untuk menghafalkan Al-Qur’an sedang kawan-kawanmu memilih menampilkan yang lainnya?” Umar menjawab, “Saya pernah mendengar bahwa di antara keutamaan para penghafal Qur’an, ialah akan mendapatkan kesempatan untuk memberikan syafaat kepada keluarga yang dicintainya untuk berkumpul bersama kelak di dalam surga. Juga diberikan kesempatan untuk memakaikan mahkota di kepala kedua orang tua. Saya ingin, kelak di surga tinggal dan menetap bersama kedua orang tua saya, terkhusus ayah, yang karena sibuknya hingga teramat kurang waktunya untuk bisa menemani saya di dunia. Karena di dunia saya belum mendapatkan kesempatan itu, maka saya ingin kelak di akhirat bisa terus bersama dengan ayah dan ibu.

Kemudian saya ingin pakaikan dengan tangan saya sendiri mahkota di kepala kedua orang tua. Saya ingin melihat mereka berdua bahagia dan mulia di surga-Nya. Itulah alasan mengapa saya bersemangat menghafalkan Al-Qur’an.”

Seketika itu, sang ayah yang sudah berlinangan air mata di pipinya langsung bergegas menjemput Umar di atas panggung. Sang ayah kemudian mendekap erat anaknya yang selama ini telah ia habiskan banyak waktu untuk lebih mengutamakan kerjaannya. Ia dekap Umar cukup lama, kemudian mencium kakinya dan memohonkan maaf atas kesalahannya. Sang ayah pun kemudian erat menggendongnya dan membawa Umar kembali ke rumahnya.

Pelajaran yang harus diambil dari kisah Umar ialah, bahwa bagi seorang ayah, apa yang sesungguhnya kita cari di luar rumah? Bukankah kebahagiaan hakiki ialah bersumber dari harmonisnya keluarga? Bukankah sebuah nikmat luar biasa memiliki anak yang shaleh dan shalehah? Maka mengapa kita seringkali memilih untuk mengajar kuantitas harta dari membangun kualitas bersama keluarga?

Baca Juga: Cara Wudhunya Kaum Adam yang Berjenggot

Originally posted 2017-09-25 09:10:50.