2 Keutamaan Bulan Muharam yang Banyak Diabaikan

Sumber Foto Dari: amalandoaislam.blogspot.co.id

HIJAZ.ID – Setiap waktu sesungguhnya sama di sisi Allah Subhanahu Wa ta’ala. Hanya saja, ada sebagian waktu yang istimewa dan memiliki keutamaan yang berbeda. Hakikat dari keutamaan yang tersimpan pada setiap waktu itu ialah kesempatan bagi hamba untuk meninggilan amalan dan pengabdian pada Allah. Agar terbuka kesempatan bagi kita dalam melipatgandakan pahala. Agar dosa-dosa terkubur dan lenyap tersebab amal kebaikan yang maksimal diikhtiarkan.

Salah satu di antara waktu yang istimewa di sisi Allah ialah bulan Muharam. Bulan pertama pada kalender hijriah ini memiliki setidaknya dua keutamaan yang membedakan ia dengan bulan-bulan lainnya.

1) Satu di antara bulan haram. Sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat ke 36, Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” 

Dalam ayat di atas tertera penjelasan bahwa di sisi Allah sesungguhnya terdapat dua belas bulan, yang empat di antaranya merupakan bulan haram. Pada empat bulan itu hendaknya manusia lebih berfokus pada mengerjakan amal-amal kebajikan dan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan dosa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Perihal ini juga dijelaskan oleh Qatadah bin Di’amah Sadusi, Amal shaleh lebih besar pahalanya jika dikerjakan di bulan-bulan haram sebagaimana kezhaliman di bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan dengan kezhaliman yang dikerjakan di bulan-bulan lain meskipun secara umum kezhaliman adalah dosa yang besar.”

Baca Juga: Cara Wudhunya Kaum Adam yang Berjenggot

Tersebab itulah mengapa seorang hamba semestinya lebih mengupayakan mengerjakan amal-amal shaleh di bulan ini. Pada saat yang sama juga terus berupaya memperbaiki diri dengan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan dosa-dosa.

Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim menerangkan,Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada Akhiroh dan Sya’ban.”

Betapa agungnya bulan Muharam, hingga tiada bulan yang lebih agung di sisi Allah selain Muharam dan Ramadhan. Maka tidak ada alasan bagi setiap muslim untuk menyia-nyiakan kesempatan di waktu-waktu ini. Sungguh, tiada satu pun kepastiaan kita akan diberikan kesempatan lagi oleh Allah untuk bertemu pada kesempatan berikutnya.

Imam Hasan Al Bashri rahimahulloh dan beberapa ulama lainnya berkata, “Sesungguhnya Allah telah memulai  waktu yang setahun dengan bulan haram (Muharram) lalu menutupnya juga dengan bulan haram (Dzulhijjah) dan tidak ada bulan dalam setahun setelah bulan Ramadhan yang lebih agung di sisi Allah melebihi bulan Muharram

2) Disifatkan sebagai bulan Allah. Muharam disebut juga sebagai syahrullah (bulan Allah). Di dalamnya terselip ajaran untuk mengerjakan amalan-amalan yang ganjarannya teramat istimewa di sisi Allah. Sebagaimana jelas tertuang dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”.

Al Hafizh Abul Fadhl Al ‘Iraqy rahimahulloh menjelaskan, “Apa hikmah dari penamaan Muharram sebagai syahrulloh (bulan Allah) sementara seluruh bulan milik Allah ? Mungkin dijawab bahwa hal itu dikarenakan bulan Muharram termasuk diantara bulan-bulan haram yang Allah diharamkan padanya berperang, disamping itu bulan Muharram adalah bulan perdana dalam setahun maka disandarkan padanya lafzhul Jalalah (lafazh Allah) sebagai bentuk pengkhususan baginya dan tidak ada bulan lain yang Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam sandarkan kepadanya lafzhul Jalalah melainkan bulan Muharram” 

As Suyuthi mengatakan, Dinamakan syahrullah – sementara bulan yang lain tak mendapat gelar ini – karena nama bulan ini “Al Muharram” nama nama islami. Berbeda dgn bulan-bulan lainnya. Nama-nama bulan lainnya sudah ada di zaman jahiliyah. Sementara dulu, orang jahiliyah menyebut bulan Muharram ini dgn nama : Shafar Awwal. Kemudian ketika islam datanng, Allah ganti nama bulan ini dgn Al Muharram, sehingga nama bulan ini Allah sandarkan kepada dirinya (Syahrullah)”

Baca Juga: Jika Boleh Meminta, Aku Ingin Tetap Buta!

Originally posted 2017-09-25 10:17:42.