Rasulullah Mengerjakan Amalan-Amalan Ini di Bulan Muharam

Sumber Foto Dari: prelo.co.id

HIJAZ.ID – Sebagaimana bulan-bulan lain, sesungguhnya kedudukan bulan Muharam sama di sisi Allah. Hanya saja, terdapat sedikit keutamaan yang disematkan kepadanya. Sebagai manusia, tiada cara yang lebih baik dalam memaknai keutamaan yang terdapat pada suatu bulan selain dengan berupaya maksimal mencapainya. Bukankah ladang kebaikan yang Allah sedikian merupakan kesempatan berharga untuk memperbanyak bekal?

Salah satu dari kesempatan yang semestinya dimanfaatkan oleh kita ialah ketika tiba di bulan Muharam. Pada bulan ini, Allah menyebutnya juga dengan syahrullah. Sebab di selanya Allah sediakan ganjaran-ganjaran istimewa bagi hamba yang mengerjakan amal kebajikan. Tentu amal ibadah yang telah dituntunkan oleh baginda Nabiullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena begitu banyak pula amalan yang menyebar di tengah masyarakat kita, segala bentuk peringatan yang jauh dari syariat serta nilai-nilai Islam. Tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah, hanya tradisi yang justeru membuka ruang untuk bermaksiat pada Allah.

Maka penting untuk kita ketahui, amalan-amalan yang telah diajarkan dan memiliki ketetapan yang jelas. Sehingga sebagai seorang hamba, kita dapat mengupayakan agar pahala terus bertambah, hingga kelak bekal akan cukup saat tiba waktunya menghadap Sang Maha Pemilik kehidupan.

1) Perbanyak amal kebajikan dan jauhi maksiat. Dalam kitabnya tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan sebuah pendapat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang menerangkan tentang tafsir firman Allah Ta’ala dalam Surat At Taubah ayat ke 36: …maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian…”; Allah telah mengkhususkan empat bulan dari kedua belas bulan tersebut. Dan Allah menjadikannya sebagai bulan yang suci, mengagungkan kemulian-kemuliannya, menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan tersebut lebih besar (dari bulan-bulan lainnya) serta memberikan pahala (yang lebih besar) dengan amalan-amalan shalih.”

Tersebab ganjaran yang berlipat ganda, maka tidakkah meruginya manusia bila melalui bulan ini dengan hanya biasa-biasa saja. Sedang Allah membukakan pintu pahala yang teramat luar biasa. Maka bagi hamba-hamba yang fokus pada persiapan akhiratnya, sungguh tidak akan melewati Muharam tanpa upaya untuk meningkatkan kadar kuantitas pengamalan. Mengikhtiarkan pahala kebaikan dengan memperbanyak mengerjakan amal-amal shaleh, tilawah Al-Qur’an, sedekah, berbuat baik pada orang lain.

Selain itu, yang juga harus diperhatikan ialah ikhtiar untuk menjaga diri dari berbuat maksiat kepada Allah Azza wa jalla. Upayakan agar diri terhindar dari berbuat dosa. Sedang kesalahan yang telah lalu terus dimintakan ampunannya kepada Allah. Sebab dosa yang dikerjakan pada bulan haram juga memiliki nilai yang berbeda di sisi Allah.

Sebagaimana Qatadah rahimahullah pernah berkata, “Sesungguhnya kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kezaliman yang dilakukan di luar bulan-bulan haram tersebut. Meskipun kezaliman pada setiap kondisi adalah perkara yang besar, akan tetapi Allah Ta’ala menjadikan sebagian dari perkara menjadi agung sesuai dengan kehendaknya.”

Baca Juga: Kisah Umar, Anak yang Ingin Bertemu Ayahnya di Akhirat

2) Perbanyaklah berpuasa. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah, Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” 

Betapa hadist tersebut menjelaskan dengan kalimat sebaik-baik puasa. Makna yang terkandung ialah sebuah tuntunan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Sebab di dalamnya terkandung begitu banyak keutamaan, selain ganjaran pahala yang berlipat ganda.

Para ulama salaf pun sangat gembira bila tiba di bulan-bulan haram. Sebab mereka bisa dengan sangat semangat beribadah, sebab kesempatan meninggikan pahala terbuka amat lebar. Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”

3) Puasa Asyura’ (10 Muharam). Sebagaimana tertuang dalam sebuah hadist riwayat Imam Bukhari dan Muslim, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam begitu menjaga keutamaan satu hari di atas hari-hari lainnya, melebihi hari ini (yaitu hari ‘Asyuro) dan bulan yang ini (yaitu bulan Ramadhan).” 

Salah satu dari bentuk penjagaan kita terhadap hari itu ialah dengan berpuasa. Sebuah hadist riwayat Imam Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas menjelaskan, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyuro, mereka mengatakan, ‘Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun. ‘Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang Yahudi), karena itu berpuasalah'”.

Sebagai upaya untuk menyelisih dari amalan kaum Yahudi, maka Rasulullah mensyariatkan untuk mengerjakan puasa sejak hari ke 9-nya.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau mengatakan, Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyura dan menganjurkan para sahabatnya untuk berpuasa, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani”. Maka beliau bersabda, “Kalau begitu tahun depan Insya Allah kita akan berpuasa juga pada hari kesembilan(Tasu’a, untuk menyelisihi Ahli kitab)”. Ibnu ‘Abbas berkata, “Belum sampai tahun berikutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.”

Baca Juga: 2 Keutamaan Bulan Muharam yang Banyak Diabaikan

Originally posted 2017-09-26 07:45:21.