Bagaimana Cara Berbakti pada Ibu Yang Tidak Beriman?

Sumber Foto Dari : ayodakwah.com
HIJAZ.ID Kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah adalah berbakti kepada kedua orang tua. Terlebih lagi berbakti kepada seorang wanita yang telah mengandungnya selama sembilan bulan dan melahirkan dengan bertaruh nyawa. Sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa Ta’alla yang berbunyi:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali” [Q.S Luqman : 14]

Adapun berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam berikut ini.

Baca Juga : Inilah Kisah Aminah Ibunda Rasulullah yang Jarang Diketahui

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

“Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Dari dalil naqli dan aqli tersebut dapat disimpulkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua hukumnya wajib, apalagi berbakti kepada ibu. Karena bersama ridha kedua orang tua terutama ibu terdapat ridhanya Allah Subhanallahu wa Ta’alla.

Namun bagaimana kalau ibu atau kedua orang tua yang seharusnya dipatuhi setiap perintahnya, tapi ternyata mereka berbuat ingkar dan tidak beriman pada Allah. Hal ini biasanya terjadi di kalangan orang yahudi dan nasrani yang menjadi mu’alaf tapi kedua orang tuanya enggan.

Persoalan tersebut sudah Allah berikan solusinya jauh sebelum umat Islam ditinggal jauh oleh Rasulullah. Allah berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan apabila keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan apa-apa yang tidak ada ilmu padanya, jangan taati keduanya dan bergaul lah dalam kehidupan dunia dengan perbuatan yang ma’ruf (baik) dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan”. (Q.S Al- Luqman : 15)

Maka sangat jelas, ada beberapa perintah orang tua yang tidak beriman yang tidak perlu ditaati oleh anak yang beriman. Namun anak tersebut tetap memiliki kewajiban untuk berbuat baik terhadap Ibu dan Bapaknya.

Wa’allahu A’lam Bish-showab

Baca Juga : Kisah Umar, Anak yang Ingin Bertemu Ayahnya di Akhirat

Originally posted 2017-09-26 22:36:20.