Rahasia 3 Keutamaan Puasa Asy-Syura’

Sumber Foto Dari: blog.ebaba.co.id

HIJAZ.ID – Puasa Asy-Syura’ ialah puasa yang dikerjakan pada hari ke 10 di bulan Muharam, dan lebih baik bila ditambahkan dengan hari ke 9-nya sebagai pembeda dari umat Yahudi. Selama ini kita seperti kurang memahami amalan-amalan sunnah yang sejatinya mengandung nilai teramat istimewa. Di antara amalan sunnah yang berlipat ganda ganjarannya di sisi Allah ialah menjalankan puasa Asy-Syura’.

Tersebab sunnah itulah, kebanyakan manusia justeru menyepelakan untuk dengan mudah meninggalkannya. Bukankah sebagian besar manusia lebih menyukai sesuatu yang secara nyata ada dihadapannya? Sedang pahala hanya akan diketahui kelak saat sudah berada di akhirat.

Maka tidak heran bila amalan-amalan sunnah banyak kali luput dari perhatian kita. Padahal di dalamnya Allah sediakan tumpukan pahala sebagai pemberat amal kebaikan. Mengerjakannya ialah bukti bahwa kita sungguh ingin dimasukkan ke dalam surga. Pada puasa Asy-Syura’, terdapat beberapa keutamaan yang sekiranya bisa kita jadikan sebagai semangat untuk dengan sungguh mengerjakan.

1) Puasa di bulan Muharam ialah sebaik-baik puasa. Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah menerangkan, “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”

Bulan Muharam juga disebut sebagai syahrullah, ialah bulan Allah. Ath Thibiy mengatakan bahwa yang dimaksud dengan puasa di syahrullah yaitu puasa Asyura. Sedangkan Al Qori dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi mengatakan bahwa hadits di atas yang dimaksudkan adalah seluruh bulan Muharram. Imam Nawawi dalam kitabnya Sharah Shahih Muslim berkata, bahwa bulan Muharam adalah bulan yang paling afdhol untuk berpuasa.

Dalil di atas menunjukkan keutamaan berpuasa di bulan Muharam, termasuk di dalamnya puasa di hari Asy-Syura’.

Baca Juga: Rasulullah Mengerjakan Amalan-Amalan Ini di Bulan Muharam

2) Puasa Asy-Syura’ menghapuskan dosa setahun yang lalu. Betapa Allah membukakan pintu ampunan yang teramat luas bagi manusia. Tidak sadarkah kita bila dosa terus bertambah tak berjeda. Sedang amalan tak masih biasa-biasa saja. Pada kesempatan Asy-Syura’, dengan hanya berpuasa 1 hingga 2 hari, Allah sediakan kesempatan untuk bisa mendapatkan ampunan dari dosa dan kesalahan yang dikerjakan setahun belakangan.

Sebagaimana tertuang dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”

Imam An-Nawawi menjelaskan, bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah dosa kecil sebagaimana beliau penerangkan masalah pengampunan dosa ini dalam pembahasan wudhu. Namun diharapkan dosa besar pun bisa diperingan dengan amalan tersebut. Jika tidak, amalan tersebut bisa meninggikan derajat seseorang.

Sedangkan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu’ Al Fatawa berpendapat secara mutlak, bahwa setiap dosa bisa terhapus dengan amalan seperti puasa Asyura.

3) Rasulullah memiliki keinginan untuk berpuasa di hari ke 9, tasu’ah. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dijelaskan, Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, ‘Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.’ Lantas beliau mengatakan, ‘Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.’ Ibnu Abbas mengatakan, ‘Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.’”

Menambahkan berpuasa pada hari ke 9 ialah bertujuan untuk menyelisihkan amalan dengan yang dikerjakan oleh kaum Yahudi. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, “Para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. Itulah yang ditunjukkan dalam hadits di atas.”

Baca Juga: 7 Amalan yang Tidak Pernah Diajarkan Rasulullah di Bulan Muharam