Dua Rakaat Dhuha di Pagi Hari Merupakan Wasiat Nabi, Benarkah?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan menjadi suatu keharusan bagi kita sebagai seorang muslim, mengingat jatah hidup yang kita miliki terbatas. Selain amalan wajib, banyak diantaranya amalan sunnah yang bisa kita lakukan juga dan bahkan dianjurkan, salah satunya adalah shalat dhuha. Shalat dhuha merupakan shalat sunnah yang dianjurkan bagi seorang muslim dan memiliki banyak keutamaan.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa shalat dhuha merupakan wasiat nabi, benarkah? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ammi Nur Baits. Perihal wasiat, kita perhatikan beberapa hadits yang mengungkap keutamaan dari shalat dhuha berikut dallil mengenai shalat dhuha yang merupakan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap kita selaku umatnya.

Pertama, shalat dhuha merupakan salah satu wasiat Nabi, dalilnya adalah hadits dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Kekasihku (Nabi Muhammad) mewasiatkan kepadaku untuk berpuasa tiga hari dalam tiap bulan, melakukan dua rakaat shalat dhuha dan melakukan sholat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari Muslim)

Kedua, shalat dhuha dapat mencukupi sebagai sedekah bagi tiap ruas tulang bani Adam. Hal ini berdasarkan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Tiap pagi ada kewajiban sedekah bagi tiap ruas tulang kalian, Setiap tasbih adalah sedekah, Setiap tahmid adalah sedekah, Setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan untuk melakukan kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat tercukupi dengan melakukan dua rakaat shalat dhuha.” (HR. Muslim)

Baca Juga : Nabi Nuh ‘Alaihissalam dan Banjir Terdahsyat Sepanjang Masa

Ketiga, shalat dhuha merupakan shalatnya orang-orang yang bertaubat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatnya orang-orang yang bertaubat adalah pada saat berdirinya anak unta karena teriknya matahari.” (HR. Muslim). Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahumallah dalam Penjelasan Riyadush Shalihin menjelaskan bahwa shalat yang dimaksud adalah sholat Dhuha. Hadits ini juga menjelaskan bahwa waktu paling afdhol untuk melakukan shalat dhuha adalah ketika matahari sudah terik.

Mengenai surat-surat yang dibaca setelah surat Al Fatihah, maka sepanjang pengetahuan kami, tidak ada dalil-dalil yang menyatakan tentang surat-surat khusus yang dibaca pada sholat ini. Jadi, kesimpulannya adalah boleh membaca surat apapun dalam Al Quran pada shalat Dhuha. Semoga kita bisa istiqomah dan senantiasa berada dalam pertolongan Allah Ta’alaa agar bisa melaksanakan dan menjaga shalat dhuha di pagi hari.

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Wanita Ahli Ibadah Tapi Masuk Neraka, Bagaimana Bisa?