Bolehkah Berpuasa Asy-Syura’ di Tanggal 10 Muharam Saja?

Sumber Foto Dari: www.madinah-iman.com

HIJAZ.ID – Puasa Asy-Syura’ merupakan salah satu ibadah sunnah yang dituntunkan oleh Nabi. Bukan hanya tersebab diajarkan, ibadah puasa pada hari Asy-Syura’ mengandung berbagai keutamaan yang di antaranya ialah diberikannya ampunan atas dosa-dosa selama setahun belakangan. Karenanya setiap hamba sangat dianjurkan untuk melaksanakan ibadah ini. Sebab dengan cara apalagi kita sempat memohonkan ampunan atas dosa-dosa yang mengalir di setiap waktunya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tuntunan dalam menjalankan puasa sunnah Asy-Syura’. Pada mulanya, beliau memberikan tuntunan untuk melaksanakannya pada tanggal 10 di bulan Muharam. Kemudian beberapa waktu sebelum wafatnya, Rasulullah mewasiatkan agar umat muslim menambah satu hari sebelum atau setelahnya. Agar sebagai sebuah ajaran, ibadah ini berbeda dengan yang telah dikerjakan oleh umat Yahudi yang juga berpuasa di tanggal 10-nya.

Dalam riwayat Imam Muslim, Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan, Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan, “Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” 

Bahwa Rasulullah pernah mewasiatkan kepada para sahabat dan umatnya, agar dalam menjalankan syariat puasa Asy-Syura’, sebagai pembeda dari umat Yahudi dan Nasrani, bisa melengkapinya dengan menyertakan puasa pada hari ke-sembilannya. Kemudian bila tidak berpuasa pada hari sebelumnya, maka bisa menyertai dengan hari setelahnya (11 Muharam).

Kemudian muncul sebuah pertanyaan, bagaimana bila hanya mengerjakan pada 10 Muharamnya saja, sedang tidak menyertainya dengan berpuasa pada hari 9 atau 11-nya?

Baca Juga: Rasulullah Mengerjakan Amalan-Amalan Ini di Bulan Muharam

Terjadi perbedaan pendapat dari para ulama berkaitan dengan hal ini. Ulama Hanafiyah menegaskan bahwa makruh hukumnya jika berpuasa pada tanggal 10 saja dan tidak menyertainya dengan tanggal 9 atau 11 Muharamnya. Sedangkan ulama Hambali tidak menganggap makruh bila hanya berpuasa di tanggal 10 saja. Sebagaimana pendapat ini menjadi pendapat dalam madzhab Imam Malik, tertuang dalam kitabnya Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah.

Imam An-Nawawi juga menjelaskan, bahwa Imam Asy-Syafi’i dan ulama Syafi’iyah, seperti Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan, bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari ke-sembilan dan ke-sepuluh sekaligus; karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ke-sepuluh dan berniat (berkeinginan) untuk berpuasa juga pada hari ke-sembilan.

Menurut Imam An-Nawawi, terdapat hikmah dari ditambahkannya puasa pada hari ke-sembilan. Dalam Syarh Shahih Muslim, beliau menjelaskan, bahwa sebagian ulama mengatakan hikmahh pertama yang bisa diambil ialah agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi, yang hanya berpuasa pada hari ke-sepuluh saja. Dalam hadist Ibnu Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal tersebut.

Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, bila ada kemungkinan salah dalam menentukan hari Asy-Syura’ (tanggal 10 Muharam). Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari ke-sembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat.

 

Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah berpendapat sunnahnya berpuasa tanggal 11 bagi yang tidak sempat berpuasa tanggal 9-nya. Bahkan dijelaskan oleh Asy Syarbini Al Khatib, Imam Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm dan Al-Imla’ mengatakan bahwa disunnahkan berpuasa tiga hari sekaligus, yaitu 9, 10 dan 11 Muharam.

Berdasar pada pendapat para ulama di atas, maka bisa disimpulkan bahwa tidaklah makruh hukumnya bila melaksanakan puasa Asy-Syura hanya di tanggal 10-nya saja, tanpa disertai dengan 9 atau 11-nya. Namun lebih baik bila dua hari tersebut diambil salah satunya untuk menyelisihi amalan umat Yahudi. Selagi bisa maka upayakanlah. Sebab cara mengambil dalam urusan ibadah ialah yang terbaik yang bisa dikerjakan. Bukan diambil berdasar pada kemudahan-kemudahan yang sesungguhnya hanya bagian dari cara syaitan dalam menggoda agar tidak maksimal manusia dalam ibadahnya.

Baca Juga: Rahasia 3 Keutamaan Puasa Asy-Syura’

 

Originally posted 2017-09-30 01:32:33.