Ketika Allah Menginginkan Kebaikan Pada Diri Seorang Hamba

Sumber Foto Dari: www.youtube.com

HIJAZ.ID – Betapa kehidupan ini penuh dengan tipu daya, godaan yang dengannya manusia gagal menjalani titah sesungguhnya. Bukankah Allah hidupkan manusia untuk mematikannya? Bukankah Allah berikan kesempatan kepada manusia untuk kemudian mengambilnya? Lantas mengapa manusia seringkali lupa pada rumah sejatinya. Kampung yang ia akan tinggal disana selamanya. Sebagian kita justeru sibuk dengan dunia yang hanya sejarak pandangan mata.

Apa guna hidup bila kemuliaan hilang dari setiap jejak perjalanannya? Apa guna di dunia bila kelak mati penuh dosa? Bukankah Allah telah karuniakan kepada kita begitu banyak nikmat. Hingga tiada satu pun manusia sanggup menghitungnya. Tetapi mengapa dengan tumpukan kenikmatan membuat kita semakin jauh dari Allah. Lalai untuk bersyukur dengan sebaik-baiknya menghamba kepada-Nya.

Kepada siapa kita akan mengadukan setiap masalah bila tidak kepada-Nya? Kepada siapa kita memohonkan pertolongan dari ketidakberdayaan selain kepada Rabb semesta alam? Kepada siapa kelak kita akan berhadapan untuk mempertanggungjawabkan setiap pengamalan, bila tidak dengan Allah, Dzat yang Maha Menghidupkan, juga Maha Mematikan?

Sejauh usia ini, sudahkah kita menyadari bila semakin hari, usia semakin bertambah. Jatah hidup di dunia semakin terkikis habis. Kesempatan semakin menipis, kematian hanya tinggal menunggu kapan. Adakah sudah niat di dalam hati kita untuk berusaha hijrah, memperbaiki diri di hadapan Allah? Sudahkah kita sadar pada tumpukan dosa-dosa, dan memohonkan ampun kepada-Nya. Apa yang sejatinya manusia cari di dunia, bila setelah kematian ia hanya menjadi bangkai yang kembali ke semulanya. Apa yang kelak akan tetap menyertai, selain amal dan pahala kebajikan yang dikerjakan semasa kehidupan.

Janganlah berputus asa pada rahmat Allah. Sekalipun dosa telah berlumur selayak darah mengalir pada tubuh. Meski dosa telah bertumpuk selayak gunung, meluas selayak samudera. Teruslah memohon pada Allah agar dilimpahkan rahmat-Nya kepada kita. Yakinlah selalu bahwa Allah akan menerima setiap taubat dan permohonan semua hamba. Selagi di dalam hatinya tertancap iman, yang disertai dengan kesungguhan melakukan perubahan.

Ciri utama dari betapa Allah menyayangi manusia, Allah menginginkan kebaikan hadir pada diri manusia, ialah dimudahkannya kita dalam mengerjakan amal shaleh. Diberikan kepada kita kesempatan untuk beramal, dilembutkan oleh-Nya hati kita untuk menerima nasihat-nasihat baik. Bila dengan kemudahan-kemudahan itu masih membuat kita enggan memperbaiki diri, menuju jalan yang jauh lebih baik, mendekat pada Allah, maka harus dengan cara apalagi.

Baca Juga: Bolehkah Berpuasa Asy-Syura’ di Tanggal 10 Muharam Saja?

Terkisah seorang pendosa, yang dari tangannya 99 nyawa terbunuh. Ada hasrat di dalam hatinya untuk kembali pada jalan semestinya. Gerah ia dengan dosa-dosa yang telah menggunung tingginya. Datanglah ia pada seorang alim. Kemudian diceritakannya tentang 99 nyawa yang telah dibunuhnya. Kaget sang tokoh mendengar kesaksian lelaki itu. Dengan tanpa berhati-hati, diucapkannya lah kata-kata tidak menyenangkan. Keluar dari lisannya sebuah caci maki, bahwa lelaki itu tidak lagi bisa mendapat ampunan dari Allah tersebab dosanya yang begitu banyak. Seperti neraka sudah pantas menjadi tempatnya kelak di akhirat.

Tak sabar mendengar untaian kata kasar itu, si lelaki menggenapi nyawa bunuhannya menjadi 100. Ikutlah dibunuh sang guru yang menurutnya pantas dijadikan tempat menimba ilmu. Berjalanlah ia kembali mencari tempat belajar. Bertemulah ia dengan seseorang, yang darinya diketahui bila di sebuah negeri, ada seorang guru yang tepat untuk tempatnya menimba pelajaran.

Bergegaslah si lekaki pendosa ini berjalan mendekati negeri yang disarankan. Tidak lama sedari dimulainya, Allah ambil nyawanya. Meninggal ia di pertengahan jalan, belum lagi sampai ke hadapan guru tujuannya. Datang kemudian dua malaikat memperdebatkan kemana lelaki ini akan ditempatkan kelak, surga ataukah neraka. Malaikat azab dengan tegasnya berpendapat bahwa lelaki ini di neraka. Malaikat rahmat dengan baiknya menghargai tekad kuat si lelaki untuk kembali pada jalan kebenaran. Meski belum sampai pada gurunya, setidaknya niat kuatnya untuk mengambil jalan taubat harus dinilai sebagai amalan yang memberatkan pahalanya.

Tiada lama, Allah memerintahkan keduanya untuk mengukur jarak langkahnya, dari dimulainya perjalanan dan sisa langkah yang ia butuhkan untuk sampai kepada tujuannya. Dengan takdir Allah, ternyata jumlah sisa langkahnya lebih sedikit dari yang sudah ia jalankan. Artinya sudah lebih dari setengah perjalanan ia tempuh untuk menimba ilmu dan memperoleh jalan taubat. Dan dengannya, Allah berikan ia tempat di surga-Nya.

Bisa kita ambil hikmah dari kisah ini, bahwa bagi yang 100 nyawa terbunuh di tangannya saja Allah berikan balasan surga atas tekad hijrahnya. Bagaimana kita yang tidak pernah menghabisi nyawa manusia, masih diberikan iman hingga bisa mengerjakan amalan-amalan. Masih diberikan kemudahan untuk beramal shaleh.

Maka jangan pernah putus asa terhadap rahmat Allah. Sungguh, bila Allah kehendaki kebaikan pada diri manusia, sejuta tanda tersebar di antara pagi hingga petangnya dunia. Ada hati yang dilembutkan, ada mata yang dijaga dari melihat yang menjadi larangan-Nya. Ada kaki yang dilangkahkan pada kebaikan-kebaikan. Ada waktu yang dilonggarkan, ada rezeki yang menjadi berkah.

Bila dengan yang demikian masih membuat kita lalai, maka harus dengan cara apalagi agar kita sadar bahwa perbaikan mesti segera dilakukan?

Baca Juga: Makanlah Ini 7 Butir Setiap Pagi Agar Terhindar Dari Racun dan Sihir

Originally posted 2017-09-30 07:11:12.