Benarkah Ipar itu Bukan Mahram dan Harus Menjaga Aurat?

Sumber Foto Dari : ummi-online.com
HIJAZ.ID Maha suci Allah yang telah menciptakan hukum dan mengatur hubungan manusia dengan teramat baik dan detail, sehingga jauhlah manusia dari bahaya fitnah dan segala musibah yang tidak diinginkan.

Ketika seorang wanita menikah dengan lelaki yang meminangnya. Maka halallah wanita yang telah dinikahinya, namun bagaimana dengan status kakak ipar laki-laki suaminya. Apakah secara otomatis kakak ipar laki-laki menjadi muhrim seperti layaknya adik kakak kandung?

Jauh sebelum umat Rasulullah ada, Allah telah mengabarkan dan memberikan petunjuk sebagai pedoman hidup manusia, termasuk kasus yang dibahas pada paragraf sebelumnya.

Baca Juga : Demi Mencegah Keburukan Terjadi, Inilah 9 Hal yang Diharamkan Terkait Perempuan

Wanita merupakan perhiasan dunia yang berharga. Namun ketika harganya hilang, wanita menjadi fitnah besar bagi dunia dan menjadi faktor utama runtuhnya suatu Bangsa. Sebagaimana hadits berikut ini.

Abu Sa’id Al-Khudri menceritakan dari nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan, sesunguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah (pengatur) di atasnya, hingga Dia melihat bagaimana kalian beramal. Karena itu takutlah kalian kepada dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena awal fitnah yang menimpa Bani Isra’il adalah pada wanitanya.”(HR. Ahmad dan Muslim).

Adapun hukum ipar berlandaskan pada dalil naqli tentang wanita yang mahram. Dalam ayat berikut tidak terdapat saudara perempuan dari istri atau suami. Maka ipar adalah termasuk bukan mahram dan dapat dinikahi. Oleh karena itu, haram hukumnya bagi ipar laki-laki melihat aurat ipar wanita. Berikut dalilnya.
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا 
Artinya : “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisa : 23)
Namun meski saudara perempuan dari istri atau suami halal untuk dinikahi. Namun Allah melarang menikahi dua saudara perempuan sekaligus. Sebagaimana Firman Allah Subhanallahu wa Ta’alla:
وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْن الْأُخْتَيْنِ
“(Kalian tidak boleh) menggabungkan dua perempuan bersaudara…” (QS. an-Nisa: 23)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu, bahwa kekhawatiran terhadap ipar lebih besar daripada orang selainnya. Kejelekan bisa terjadi darinya dan fitnahnya lebih besar. Karena biasanya ia bisa masuk dengan leluasa menemui wanita yang merupakan istri saudaranya atau istri keponakannya, serta memungkinkan baginya berdua-duaan dengan si wanita tanpa ada pengingkaran, karena dianggap keluarga sendiri. Beda halnya kalau yang melakukan hal itu laki-laki ajnabi yang tidak ada hubungan keluarga dengan si wanita. (Al-Minhaj, 14/ 378). Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ . قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita.” Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” Beliau menjawab, “Hamwu (ipar)adalah maut.” (HR. Bukhari & Muslim).

Wallahu A’lam Bish-showab

Baca Juga : Agar Tidak Terperangkap dalam Pujian, Amalkanlah Do’a Berikut Ini!

Originally posted 2017-10-02 04:38:59.