Bolehkah Menunda Pekerjaan? Islam Menjawab!

Sumber Foto Dari : maxmanroe.com
HIJAZ.ID Manusia diciptakan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’alla dalam sebaik-baiknya bentuk penciptaan. Hal tersebut dikarenakan manusia diciptaan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’alla bersama dengan akal fikiran. Manusia diciptakan dengan akal yang Allah berikan kemampuan untuk memahami, dan mempelajari segala yang ada di bumi.

Dengan setumpuk tugas manusia selama hidup di bumi yang sementara ini. Hampir sebagian besar manusia tidak menyadari tentang sempitnya waktu yang ia miliki. Sehingga munculah penyakit yang sudah menjadi candu dalam diri manusia. Penyakit tersebut adalah kebiasaan buruk menyepelekan tugas sehingga tertundalah tugas sampai pada batas waktu yang ditentukan.

Kebiasaan buruk untuk menunda pekerjaan itu sudah marak beberapa puluh tahun yang lalu. Sehingga banyak para ulama yang menyinggung masalah ini. Berikut beberapa pernyataan para ulama tentang waktu dan menunda pekerjaan.

Ulama yang pertama, Ibnu ‘Atha mengungkapkan, “Sesungguhnya pada setiap waktu yang datang, maka bagi Allah atas dirimu kewajiban yang baru. Bagaimana kamu akan mengerjakan kewajiban yang lain, padahal ada hak Allah di dalamnya yang belum kamu laksanakan!”

Baca Juga : Menunda Nikah, Banyak Keutamaan Tertunda?

Hasan Al Banna juga mengatakan bahwa, ”Alwaajibatu Aktsaru minal Auqoot.” Kewajiban yang dibebankan kepada kita itu lebih banyak daripada waktu yang kita miliki, pada saat kita menunda dari menyelesaikan suatu perkara.

Waktu kita hidup di dunia pada kenyataannya hanyalah sementara. Maka jangan menunda segala urusan, sampai kita terjatuh sebagai orang yang merugi. Allah Subhanallah wa Ta’alla berfirman tentang solusi dari kebiasaan menunda urusan.

Allah Ta’ala berfirman, “Bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhan kalian dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran [3]: 133).

Rasulullah juga bersabda berkaitan dengan pentingnya mempersegerakan suatu urusan. Sabdanya, “Bersegeralah melakukan perbuatan baik, karena akan terjadi fitnah laksana sepotong malam yang gelap.” (HR. Muslim).

Dalam hadits lain, beliau juga menerangkan, “Jadilah engkau di dunia laksana orang asing atau orang yang menyeberangi jalan.” Ibnu umar berkata. “Bila engkau berada di sore hari, maka jangan menunggu datangnya pagi, dan bila engkau di pagi hari, maka janganlah menunggu datangnya sore.” Manfaatkan waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.

Hasan Al-Bashri berwasiat, “Jangan sekali-kali menunda-nunda karena Anda adalah hari ini bukan besok.” Beliau juga berkata ,”Apabila Anda memiliki esok hari, maka penuhilah dengan ketaatan, sebagaimana hari ini yang Anda penuhi dengan ketaatan bila Anda tidak lagi hidup di esok hari, maka Anda tidak akan menyesal atas apa yang Anda lakukan hari ini.”

Ibnu Al jauzi mewanti-wanti kita agar tidak mengulur-ulur waktu. Beliau pernah mengatakan, “Jangan sekali-kali mengulur-ulur waktu, karena ia merupakan tentara iblis yang paling besar.” Penundaan merupakan bekal orang yang bodoh dan lalai. Itulah sebabnya orang yang saleh berwasiat, “Jauhilah ‘saufa (nanti)’, penundaan juga kemalasan, merupakan penyebab kerugian dan penyesalan.”

Wallahu ‘alam bish-shawab

Baca Juga : Akad Nikah di Masjid, Bagaimanakah Hukumnya?

Originally posted 2017-10-02 22:38:55.