Orang Ini Terlihat Baik di Dunia, Tetapi Kelak Akan Disiksa di Neraka

Sumber Foto Dari: nazrie5799.blogspot.co.id

HIJAZ.ID – Betapa pandangan manusia hanya sebatas jarak antara mata dengan objek yang dilihatnya. Teramat dhaifnya kita dalam melihat dan menilai sesuatu. Menerka baik atau buruknya suatu perkara hanya tersebab bentuk fisiknya. Maka penilaian siapakah yang lebih hakiki? Ialah Allah yang Maha Adil menilai setiap jengkal amalan manusia. Menimbang setiap dosa dan kesalahan. Mengadili apa-apa yang telah dikerjakan di dunia.

Bila kebaikan sejati hanya bersumber dari Allah, maka mengapa sebagian besar manusia masih betapa sibuknya mencari kebaikan di mata sesamanya? Mengerjakan amalan-amalan hanya dengan tujuan mencari sanjungan dan pujian. Bersikap seolah shalih meski sesungguhnya salah. Bertopeng kebikan untuk menutupi keburukan-keburukan.

Maka Rasulullah memberikan peringatan dengan sebuah gambaran, bahwa kelak di akhirat ada sebagian manusia yang ketika di dunia dikenal sebagai seorang yang baik, tetapi di akhirat akan disiksa di api neraka. Dalam sebuah hadist riwayat Imam Muslim diterangkan, Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan ahli Surga menurut pandangan manusia, padahal sebenarnya ia penduduk Neraka.” 

Bukankah sabda baginda itu menjelma menjadi sindiran bagi kita semua. Bahwa apakah yang kita cari di dunia ini sudah sesuai dengan yang semestinya? Bahwa apakah tiap-tiap amalan yang kita kerjakan sudah semata-mata tertuju pada berharap ridha Allah. Atau masih terselip banyak hasrat untuk mencari penilaian baik dari sesama manusia?

Pada riwayat yang berbeda, Imam Bukhari menegaskan dalam riwayatnya. Sebuah hadist dari Abu’ Abdirahman Abdullah bin Mas’ud “…..Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.”

Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan maksud hadits ini, “Amalan ahli surga yang dia amalkan hanya sebatas dalam pandangan manusia, padahal amalan ahli surga yang sebenarnya menurut Allah, belumlah ia amalkan. Jadi yang dimaksud dengan ‘tidak ada jarak antara dirinya dengan surga melainkan hanya sehasta’ adalah begitu dekatnya ia dengan akhir ajalnya.”

Semakin kita terpana menyadari, betapa nilai kebaikan di mata manusia belum berarti apa-apa di sisi Allah. Bahwa hakikat kehidupan ialah semata-mata mencari kebaikan di sisi Sang Maha Baik. Bahwa terlihat miskin di dunia tiada masalah, yang terpenting ia menjadi kaya raya di akhirat. Bahwa terlihat lusuh di dunia tiada mengapa, yang terpenting ia menjadi suci dan bersih di dalam surga.

Baca Juga: 5 Amalan Pembuka Pintu Surga

Seketika manusia setuju, bahwa baik menurut pandangan kita ialah seseorang yang hidup dengan kemewahan hartanya, tinggi pangkat dan kedudukannya. Lahir dari keluarga berada, beradat, berlembaga. Turunan darah biru, ningrat dan moderat. Meski di balik itu semua tiada sejengkal pun kakinya di langkahkan untuk mengerjakan perintah-Nya. Ingkar ia pada Rabb-Nya. Hidup dengan sesukanya, pada perintah ia abai, pada larangan ia lalai.

Maka apakah yang demikian itu baik pula di sisi Allah? Tidak. Bukankah iman dan taqwa seseorang letaknya di dalam hati. Tiada terpengaruh oleh berapa banyak materi yang dimiliki. Berapa tinggi jabatan di duduki. Terbuka amat besar peluang si miskin lebih tinggi derajat kebaikannya di sisi Allah dari si orang kaya. Mungkin justeru dengan ujian dunia yang berat menimpanya, kelak telah Allah siapkan rumah indah di surga-Nya.

Tiada manusia mampu menyangka, siapa di antaranya yang lebih bertaqwa. Hanya Allah yang Maha Mengetahui isi hati. Maka berhati-hatilah, jangan sampai kiranya kita termasuk ke dalam orang-orang yang baik di hadapan manusia, tetapi sebaliknya menurut pandangan Allah. Maka pandai-pandailah menakar pandangan manusia. Bila ia berisi nasihat kebaikan, tiada ragu bagi kita untuk mengambilnya. Namun bila adanya hanya menjauhkan kita dari mengabdi pada Allah, sudah wajib bagi kita untuk meninggalkannya.

Kebaikan di mata manusia hanya racun berselimut madu. Pujian hanya bumbu yang bila tidak baik menggunakannya, justeru akan merusak cita rasa. Maka betapa pandangan manusia fana – hakikinya hanya pandangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Baca Juga: Tersebab Seekor Kucing, Wanita Ini Diancam Siksa di Dalam Neraka

Originally posted 2017-10-05 13:45:11.