Ternyata Inilah Hukum Orangtua Memeriksa HP Anaknya

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Sebagai orangtua, tentu harus melakukan pengawasan terhadap anak-anaknya. Mengingat, di zaman yang serba modern ini, banyak sekali hal yang terjadi diluar sepengetahuan orangtua. Seperti kenakalan remaja di lingkungan sekolah atau di lingkungan luar rumah.

Namun, berbicara soal pengawasan, sikap orangtua bermacam-macam. Ada yang berlebihan dan ada juga yang mengawasi tapi dilakukan dengan cara yang lebih lembut dan bersahabat sehingga tidak menimbulkan perselisihan yang berarti antara orangtua dan anak.

Dewasa ini, banyak anak yang merasa kesal jika diawasi, baik secara langsung atau tidak langsung. Rata-rata mereka berdalih bahwa pengawasan itu sebagai tangda ketidakpercayaan orangtua terhadap anak, padahal kita ketahui bersama bahwa kekhawatiran orangtua terhadap pergaulan anak menjadi salah satu alasan terjadinya pengawasan tersebut.

Lalu, hal yang paling dekat dengan anak, di zaman sekarang ini adalah HP. Lalu, apakah boleh orangtua memeriksa HP anaknya dengan tujuan mengawasi pergaulan anak? Apakah Islam melarang tindakan semacam ini atau bagaimana? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ammi Nur Baits.

Memeriksa HP orang lain, anaknya atau temannya, dst. Untuk mencari tahu apa yang dia rahasiakan, termasuk bentuk tajassus (memata-matai). Allah melarang perbuatan semacam ini dilakukan kepada sesama kaum muslimin.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang lain… (QS. al-Hujurat: 12)

Baca Juga : Tetap Mendapatkan Pahala Meskipun Dalam Kondisi Uzur, Bagaimana Caranya?

Lalu bagaimana dengan tanggung jawab orang tua terhadap anak, yang harus selalu diawasi. Berikut keteragan dari lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah,

فلا يجوز التجسس على الولد، ولا على أحد من المسلمين، ولا تتبع عوراتهم، إلا في حالات خاصة وضيقة، تحقيقا لمصلحة أو دفعا لمفسدة ـ إذا لم يمكن فعل ذلك إلا بالتجسس.

Tidak boleh memata-matai anak, atau kaum muslimin secara umum. Tidak boleh mencari-cari aib mereka. Kecuali dalam kondisi tertentu dengan batasan ketat, yang tujuannya untuk kemaslahatan atau menghindari madharat, sementara untuk mewujudkan tujuan itu kecuali dengan cara memata-matai.

فإذا رأى الوالد من ولده ريبة، وخشي عليه من الوقوع في ما لا تحمد عقباه، ولم يجد وسيلة لتقويمه إلا بمعرفة ما خفي من حاله، فيمكنه التجسس عليه في حدود الحاجة دون زيادة

Ketika orang tua melihat gelagat mencurigakan pada anaknya, dan dia khawatir anaknya terjerumus ke dalam perbuatan yang tidak terpuji, sementara tidak ada cara lain untuk menegurnya kecuali dengan mencari tahu keadaan yang dia sembunnyikan, maka boleh dilakukan tajassus, dalam batas yang dibolehkan, dan tidak lebih.

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=212821

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Inilah 3 Perkara yang Tersisa Setelah Meninggal Dunia

Originally posted 2017-10-04 23:32:22.