3 Amalan yang Paling Dicintai Allah

Sumber Foto Dari: www.wearehere.eu

HIJAZ.ID – Apa yang menjadi kebanggaan seorang manusia di dunia? Tersebab belimpah harta benda? Tingginya tahta dan kuasa? Prestasi yang menjadikannya masyhur di mana-mana? Hingga di saat yang sama abai pada tugas sesungguhnya. Bahwa pada setiap aktivitas yang dikerjakannya jauh dari niat untuk mencari kebaikan dan ridha dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Penilaian dunia sungguh lebih berharga baginya daripada nilai manusia sesungguhnya di sisi-Nya.

Pantaskah kita ingkar pada dzat yang karena-Nya kita hidup. Karena kasih dan sayang-Nya lah hingga kini kita masih bisa merasakan berlipat kenikmatan. Tersebab Allah yang dengan ke-Maha Kuasaannya masih memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki diri. Apa yang semestinya dilakukan seorang pegawai kepada atasannya? Apa yang lebih baik bagi seorang pekerja dari taatnya pada aturan tempatnya bekerja? Apa yang membuat seorang pekerja disanjung atasannya kecuali prestasi bekerjanya di atas rata-rata?

Begitu pulalah semestinya kita. Mengabdi dengan sebaik-baiknya pada atasan sesungguhnya. Memohon kasih-Nya dengan senantiasa mengerjakan amalan-amalan yang dapat mengundang keridhaan-Nya. Allah cinta pada beberapa amalan yang dikerjakan manusia.

Dalam sebuah riwayat, Imam Bukhari menerangkan, Saya bertanya kepada Nabi, ‘Apakah amal yang paling dicintai oleh Allah?’ (Dalam satu riwayat: yang lebih utama) Beliau bersabda, ‘Shalat pada waktunya’ Saya bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau bersabda, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Saya bertanya, ‘Kemudian apa lagi’? Beliau bersabda, ‘Jihad (berjuang) di jalan Allah.”‘ Ia berkata, “Beliau menceritakan kepadaku. (Dalam satu riwayat: “Saya berdiam diri dari Rasulullah.”) Seandainya saya meminta tambah, niscaya beliau menambahkannya.”

Baca Juga: Bolehkah Menikah Dengan Uang Hasil Utang?

1) Shalat. Tiada yang bisa memungkiri betapa kedudukan shalat amat sangat utama dalam agama ini. Tersebab dengan mengerjakan ibadah shalat, seorang manusia dengan tegas membuktikan ketundukannya pada Allah. Dengan shalat itulah, seorang hamba bisa memperoleh begitu banyak keutamaan. Shalat seakan menjadi tiang bagi kokohnya iman seseorang. Bila baik shalatnya, maka tentu akan baiklah setiap sisi yang ada di dalam dirinya. Tetapi bila buruk shalatnya, maka keburukan-keburukan lain akan mudah melekat kepadanya.

Betapa seorang muslim sangat dituntut untuk senantiasa memperbaiki shalatnya. Sebab kelak di akhirat, shalat itulah yang menjadi amalan pertama yang akan dihisab oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagaimana sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ahmad dan Nasa’i, Sesungguhnya amal ibadah seseorang yang paling pertama kali dihisab adalah shalatnya. Jika shlalatnya di nilai baik, maka bahagia dan tenanglah dia. Namun jika shalatnya rusak, maka rugi dan sengsaralah dia. Adapun jika di antara shalatnya ada yang kurang sempurna, maka Allah Azza wajalla berfirman: periksalah kembali wahai para malaikat, apakah dia suka melaksanakan shalat sunah. Jika ada, sempurnakanlah shalatnya dengannya shalat sunnahnya tersebut. Seperti itulah perhitungan amal ibadahnya yang lain.”

2) Berbakti pada kedua orang tua. Betapa orang tua telah banyak hingga tak terhitung jumlahnya berkorban untuk kita. Sejak saat janin masih bersemayam di rahimnya, hingga hari ini di mana mungkin kita telah banyak melakukan dosa kepada keduanya. Betapa Allah teramat memuliakan ibu dan ayah kita, hingga ridha-Nya terletak pada ridha keduanya, dan murka-Nya pun terletak pada murka keduanya.

Sungguh telah menjadi sebuah kewajiban tanpa syarat bagi setiap anak untuk berbakti dan mengabdi pada kedua orangtuanya. Dalam Al-Qur’an surah ke 31 pada ayat ke 15, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) terhadap kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah, bahkan menyusukan pula selama kurang lebih 2 tahun. Maka dari itu bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku sajalah tempat kamu kembali”.

Bukankah surga kita terletak pada kualitas bakti pada keduanya? Maka upayakanlah yang terbaik, sebab diantara keridhaan keduanya ada pintu-pintu surga yang terbuka. Pada siapa lagi kita hendak mengupayakan surga, sedekat di dalam rumah tanpa harus mencari kemana-mana? Sedang yang dekat itu banyak diabaikan oleh manusia.

Dalam sebuah hadist riwayat Imam Bukhari dijelaskan, Seorang muslim yang mempunyai kedua orang tua yang muslim, kemudian ia senantiasa berlaku baik kepadanya, maka Allah berkenan membukakan dua pintu surga baginya. Kalau ia memiliki satu orang tua saja, maka ia akan mendapatkan satu pintu surga terbuka. Dan kalau ia membuat kemurkaan kedua orang tua maka Allah tidak ridha kepada-Nya.” Maka ada seorang bertanya, “Walaupun keduanya berlaku zhalim kepadanya?” Jawab Rasulullah, “Ya, sekalipun keduanya menzhaliminya.”

3) Jihad di jalan Allah. Makna jihad yang sesungguhnya ialah merelakan segenap tenaga, waktu dan harta yang dimiliki untuk disertakan berjuang di jalan Allah. Tentu perlu dipahami, bahwa jihad bukan dilakukan dengan cara-cara yang bertentangan dengan ketentuan. Bahwa jihad bukan dilakukan dengan cara-cara menyakiti atau membunuh orang lain dengan seenaknya. Islam mengatur dengan jelas bagaimana seorang muslim bisa berjihad di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

Perintah untuk jihad jelas difirmankan Allah dalam surah Al-Hajj ayat ke 78, Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.”

Sebab tidak mudah bagi seorang manusia merelakan sebagian yang ia miliki untuk diberikan pada jalan Allah, maka dengan itu ianya menjadi salah satu amalan yang dicintai oleh Allah. Bahkan para syuhada jelas dijamin surganya kelak di akhirat. Karena itulah tidak heran betapa semangatnya para sahabat Rasulullah ketika terbuka bagianya kesempatan untuk membela agama Allah. Bisa dibayangkan, bila kita yang ada diposisi itu saat ini? Apakah kita juga akan dengan senang hati berjuang di jalan Allah?

Baca Juga: Amalan Penghuni Neraka