Hindari Hal-Hal Ini Saat Haid Agar Selamat Dunia Akhirat!

Sumber Foto Dari : bangka.tribunnews.com
HIJAZ.ID Haid merupakan rutinitas bulanan setiap muslimah yang belum mengalami masa monopouse. Pada masa ini keadaan muslimah sedang tidak dalam keadaan suci karena terdapat darah yang mengalir dari dalam dirinya.

Sedangkan Islam membolehkan umatnya untuk beribadah dalam keadaan suci, sedangkan ketika keadaan tidak suci maka amalnya tidak akan diterima atau tertolak.

Meskipun wanita muslimah yang sedang haid dalam keadaan tidak suci, namun ada beberapa perintah Allah, yang dapat muslimah lakukan dan setiap perintah Allah yang dilaksanakan tentu dapat mendapatangkan ridha serta pahala dari-Nya.

Adapun perintah Allah untuk para muslimah yang sedang masa haid agar tetap selamat dunia akhirat, maka harus melaksanakan hal-hal berikut ini.

Baca Juga : Benarkah Tidak Boleh Memotong Kuku dan Mencukur Rambut Saat Haid?

Muslimah saat haid, dilarang untuk melaksanakan shalat, dan tidak perlu mengganti (mengodho) shalatnya. Sebagaimana hadits berikut ini.

Dari Mu’adzah, ia berkata bahwa ada seorang wanita yang berkata kepada ‘Aisyah,

أَتَجْزِى إِحْدَانَا صَلاَتَهَا إِذَا طَهُرَتْ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ كُنَّا نَحِيضُ مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَلاَ يَأْمُرُنَا بِهِ . أَوْ قَالَتْ فَلاَ نَفْعَلُهُ

Apakah kami perlu mengqodho’ shalat kami ketika suci?” ‘Aisyah menjawab, “Apakah engkau seorang Haruri? Dahulu kami mengalami haid di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, namun beliau tidak memerintahkan kami untuk mengqodho’nya. Atau ‘Aisyah berkata, “Kami pun tidak mengqodho’nya.” (HR. Bukhari no. 321)

Allah Subhanallahu wa Ta’alla juga melarang muslimah yang sedang haid untuk melakukan hubungan suami-istri. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ

Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari (hubungan intim dengan) wanita di waktu haid.” (QS. Al Baqarah: 222).

Meski muslimah yang sudah menikah dilarang melakukan hubungan suami istri (jima’). Namun, Allah membolehkan suami untuk tetap mencumbu istrinya sebagaimana dalam dua hadits berikut ini.

اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ

Lakukanlah segala sesuatu (terhadap wanita haid) selain jima’ (di kemaluan).” (HR. Muslim no. 302)

Dalam hadits yang lain sebagai berikut.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا ، فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُبَاشِرَهَا ، أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِى فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا . قَالَتْ وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَمْلِكُ إِرْبَهُ

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haid, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?”   (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293).

Wanita haid boleh melaksanakan ritual ibadah haji, namun tidak boleh melakukan thawaf di Ka’bah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah,

فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.”  (HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211)

Muslimah yang sedang haid juga dilarang untuk membawa dan memegang mushaf Al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al Waqi’ah: 79)

Wallahu’alam A’lam Bish-showab

Baca Juga : Wanita Haid Tidak Boleh Berdo’a, Benarkah?

Originally posted 2017-10-12 04:26:57.