Membeli Beras dengan Berutang, Bolehkah?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Beras adalah kebutuhan yang tergolong dalam kebutuhan primer, khususnya di Indonesia. Karena, di dunia ini, ada beberapa negara yang dalam hal makanan pokoknya bukan beras.

Perihal beras, ada sebuah keterangan yang menyebutkan bahwa tidak boleh berutang dalam membeli beras, benarkah demikian? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ammi Nur Baits. Beras adalah salah satu dari enam benda ribawi. Sebagaimana kurma, gandum halus, gandum kasar dan garam.

Ada aturan khusus yang berlaku pada enam benda ribawi tersebut. Sehingga wajar bila muncul keraguan, apakah boleh membeli beras dengan cara berutang. Mengingat ada hadis yang menyinggung, bahwa transaksi benda ribawi harus tunai atau kontan.

Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,

الذهب بالذهب والفضة بالفضة والبر بالبر والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح مثلاً بمثل سواء بسواء يدا بيد، فإذا اختلفت هذه الأصناف فبيعوا كيف شئتم إذا كان يداً بيد.

Jika emas dibarter dengan emas, perak dibarter dengan perak, gandum bur (halus) dibarter dengan gandum bur, gandum sya’ir (kasar) dibarter dengan gandum sya’ir, kurma dibarter dengan kurma, garam dibarter dengan garam, maka takarannya harus sama dan harus tunai. Jika benda yang dibarterkan berbeda, maka takarannya boleh sesuka hati kalian, asalkan tunai/kontan.” (HR. Muslim)

Aturan Baku Dalam Benda Ribawi

Dari hadis di atas, disimpulkan aturan baku yang berlaku dalam enam benda ribawi :

Pertama, jika tukar menukar itu dilakukan untuk barang yang sejenis, maka ada 2 syarat yang harus dipenuhi, yaitu wajib sama kuantitas dan tunai.

Misal emas dengan emas, perak dengan perak, rupiah dengan rupiah, atau kurma jenis A dengan kurma jenis B, dst, dalam transaksi di atas Nabi shallallahualaihi wa sallam menegaskan,

مثلاً بمثل سواء بسواء يدا بيد

Takarannya harus sama, ukurannya harus sama dan dari tangan ke tangan (tunai).

Dan jika dalam transaksi itu ada kelebihan, statusnya riba. Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda,

فمن زاد أو استزاد فقد أربى، الآخذ والمعطي فيه سواء

Siapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah melakukan transaksi riba. Dia yang mengambil maupun yang memberinya, sama-sama berada dalam dosa..

Baca Juga : Bebas Kimia, Ini Dia Ragam dan Manfaat Beras Organik yang Harus Diketahui

Kedua, jika barter dilakukan antar barang yang berbeda, namun masih satu kelompok, syaratnya satu : wajib tunai.

Misal: Emas dengan perak. Boleh beda berat, tapi wajib tunai. Termasuk rupiah dengan dolar, Sama-sama mata uang, boleh beda nilai, tapi harus tunai. Termasuk juga barter antara kurma dengan gandum atau beras dengan tepung.

Dalam hadis di atas Nabi menegaskan,

فإذا اختلفت هذه الأصناف فبيعوا كيف شئتم إذا كان يداً بيد

Jika benda yang dibarterkan berbeda, maka takarannya boleh sesuka hati kalian, asalkan dari tangan ke tangan (tunai).

Ketiga, jika barter dilakukan untuk benda yang beda kelompok. Tidak ada aturan khusus untuk hal ini. Sehingga boleh tidak sama dan boleh tidak tunai.

Baca Juga : Jika Seseorang Diancam Agar Murtad, Apa yang Harus Dilakukan Olehnya?

Misal jual beli beras dengan dibayar uang atau jual beli garam dibayar dengan uang. Semua boleh terhutang selama saling ridha.
(Referensi: Buku: Ada Apa dengan Riba, Ust. Ammi Nur Baits, hal.68-69).

Kasus membeli beras dengan cara berutang, hakikatnya adalah tukar menukar benda ribawi dengan benda ribawi lainnya yang beda kelompok. Yaitu antara beras dengan uang. Para ulama menggolongkan uang ke dalam benda ribawi, diqiyaskan dengan emas dan perak.

Sehingga aturan yang berlaku dalam ini adalah poin ketiga, yakni boleh tidak sama dan boleh tidak tunai atau hutang. Namun ada syarat yang harus terpenuhi, yaitu barang yang terhutang tersebut harus jelas takarannya, harganya jelas dan waktu pelunasan juga jelas.

Nabi shallallahualaihi wasallam menegaskan,

من أَسْلَفَ في شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه

“Barang siapa yang berhutang dalam membeli sesuatu, maka jumlah takaran barang harus jelas, beratnya jelas, dan hingga tempo yang sudah ditentukan (melalui kesepakan kedua belah pihak).” (Muttafaqun ‘alaih)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, pernah ditanya tentang hukum beli kurma dengan cara hutang, beliau menjawab,

…فلا حرج في ذلك، إذا كان المبيع معلوماً، والثمن معلوماً، والأجل معلوماً – إن كان مؤجلاً

Tidak masalah membeli kurma dengan cara hutang, asal barangnya jelas, harganya jelas dan waktu pelunasan juga jelas…

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Memandang Wajah Ustadz Ketika Mencari Ilmu, Bagaimana Hukumnya?