Memarahi Orang Tua yang Berbuat Dosa, Bolehkah?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Orangtua merupakan harta berharga yang tiada duanya. Selagi mereka masih hidup, sudah seharusnya kita memaksimalkan diri untuk berbakti kepadanya. Namun, seringkali kita dihadapkan pada kenyataan dimana anak lebih berani dari anaknya.

Maka, penting sekali kita sebagai muslim belajar banyak tentang akhlak, baik itu kepada sesama, kerabat dan khususnya kepada orangtua. Karena, ciri utama seorang muslim adalah dilihat dari akhlaknya. Tapi, bagaimana jika orangtua berbuat dosa, bagaimana kita mengingatkannya? Bolehkah memarahinya? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ammi Nur Baits.

Salah satu adab terhadap orang tua yang Allah ajarkan kepada kita adalah berkata lembut dan tidak boleh menghardiknya atau membentaknya.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut di dekatmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. (QS. Al-Isra: 23)

Baca Juga : Menahan Kencing dan Kentut Ketika Shalat, Bagaimana Hukumnya?

Sampaipun orang tua memaksa anaknya untuk berbuat syirik, Allah perintahkan agar kita tetap bersikap lembut kepadanya, tanpa harus mentaatinya,

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Jika keduanya memaksamu untuk berbuat syirik dengan mempersekutukan aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik (QS. Luqman: 15).

Dan tentu kita tahu, syirik adalah dosa dan maksiat terbesar secara mutlak. Sekalipun dalam kondisi mereka melakukan kesyirikan dan bahkan memaksa kita untuk berbuat syirik, Allah tidak mengizinkan kita untuk bersikap kasar kepada orang tua, terutama ibu.

Nabi Ibrahim dan Ayahnya

Cerita ini mungkin sudah sangat akrab di telinga kita. Seorang nabi pemimpin ahli tauhid memiliki ayah penyembah berhala. Sekalipun sang ayah mengancam hendak melempari batu Ibrahim, beliau tetap memperlakukan ayahnya dengan sopan.

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?

Pada ayat di atas, Ibrahim memanggil ayahnya dengan panggilan: ’Ya Abati’ [يَا أَبَتِ], itu panggilan lembut untuk sang ayah. Ibrahim tidak memanggil ayahnya denagn ’Ya Abi’, karena lebih kasar dari pada yang pertama.

Anda lihat, bagaimana sikap ayahnya kepada Ibrahim,

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

Berkata bapaknya: “Apakah kamu benci kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. (QS. Maryam: 46)

Nabiyullah Ibrahim ‘alaihis shalatu was salam tetap mengingatkan ayahnya, mendakwahi ayahnya yang melakukan rajanya maksiat, untuk bertaubat dan kembali kepada Allah. Namun bukan dengan cara membentak, memarahi, tapi dengan cara lembut. Karena mereka memiliki jasa besar kepada anaknya.

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Jika Diberikan Kesempatan Menjadi Orang Kaya, Jangan Abaikan 5 Perkara Ini!

Originally posted 2017-10-21 23:35:13.