Maksiat di Malam Jum’at Dosanya Berlipat Ganda, Benarkah?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Dalam Islam, hari Jum’at merupakan hari yang dimuliakan dan penuh dengan keutamaan. Lalu, pada malam dan hari Jum’at pun, ada beberapa amalan yang disunnahkan dan berdasarkan keterangan, pahala yang didapat bisa berlipat.

Tapi, bagaimana dengan yang berbuat maksiat, apakah dosanya berlipat juga? Berikut ini penjelasan dari UStadz Muhammad Abduh Tuasikal.

Penting untuk kita ketahui bahwa malam Jumat termasuk malam yang mulia karena mengikuti siangnya atau harinya. Ibnu Muflih menyatakan dalam Al-Furu’ bahwa ada pendapat yang menyatakan malam Jum’at itu sama mulia seperti hari Jum’atnya. Beliau berkata sebagai berikut.

Lailatul qadar adalah malam yang lebih afdhal dari malam-malam lainnya. Lailatul qadar lebih afdhal daripada malam Jumat. Hal ini berdasarkan ayat dan disebutkan oleh Imam Al-Khattabi ada ijma’ (kata sepakat ulama) dalam hal ini.

Ibnu ‘Aqil sendiri menyebutkan ada dua pendapat dalam hal ini. Salah satunya yang disebutkan di atas. Sedangkan pendapat lain menyebutkan bahwa malam Jumat lebih utama karena malam Jumat itu terus berulang. Hari Jum’at sebagaimana diketahui adalah hari yang paling utama, maka malam Jum’at adalah ikutan dari hari Jum’at tersebut. Yang menyatakan bahwa malam Jum’at itu lebih utama adalah menjadi pendapat yang dipilih oleh Ibnu Batthah, Abul Hasan Al-Khirzi, Abu Hafsh Al-Barmaki. (Dinukil dari Fatwa Islam Web, no. 48477)

Baca Juga : Inilah Tawriyah, Bentuk Bohong yang Diperbolehkan dalam Islam

Kita diperintahkan untuk memuliakan malam yang mulia seperti malam Jum’at sebagaimana perintah dalam ayat,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Dari sini, Ibnul Qayyim rahimahullah menyimpulkan bahwa maksiat yang dilakukan pada malam Jumat berbeda dengan maksiat yang dilakukan di waktu lainnya. Ini bukan hanya berlaku untuk malam Jumat saja, namun setiap tempat dan waktu yang dimuliakan, maka melakukan dosa atau maksiat pada waktu tersebut dianggap lebih bermasalah. Contohnya mengenai bulan haram, maksiat yang dilakukan pada bulan tersebut lebih besar dosanya dibanding waktu lainnya. Disebutkan dalam ayat,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Kesimpulannya, kita mesti menghormati malam Jumat sebagaimana kemuliaan hari Jumat. Sehingga berhati-hatilah dalam melakukan maksiat pada malam Jumat.

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Makan Sambil Berbicara, Bagaimana Hukumnya Dalam Islam?

Originally posted 2017-11-02 00:11:02.