Tidak Perlu Mengangkat Tangan dalam Berdo’a Ketika Jum’atan, Benarkah?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Hari Jum’at merupakan salah satu hari yang dimuliakan dalam Islam serta memiliki banyak keutamaan. Ada beberapa amalan yang disyari’atkan untuk dilakukan, juga bernilai pahala berlipat.

Lalu, bagi laki-laki yang sudah baligh dan berakal, ada satu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Apa itu? Shalat Jum’at. Ya, shalat ini merupakan kewajiban yang harus dipenuhi dan bagi yang meninggalkan tanpa suatu udzur yang dibenarkan dalam Islam maka berdosalah hukumnya.

Terkait shalat Jum’at, ada salah satu hal yang penting untuk dibahas yaitu mengenai boleh atau tidak mengangkat tangan ketika berdo’a dalam shalat Jum’at? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ammi Nur Baits.

Ada cara yang berbeda dalam berdoa antara khatib dan makmum. Kita akan mencoba merinci masing-masing.

Pertama, cara berdoa yang benar bagi khatib jumatan

Dianjurkan bagi khatib untuk mengangkat jari telunjuk tangan kanan ketika mulai berdoa. Ada beberapa hadis yang menunjukkan hal ini, diantaranya,

Pertama hadis dari Hushain bin Abdurrahman, bahwa beliau pernah bersama sahabat Ammarah bin Ruaibah Radhiyallahu ‘anhu mengikuti jumatan. Ketika itu khatibnya adalah Bisyr bin Marwan. Pada saat berdoa, Bisyr mengangkat kedua tangannya. Spontan sahabat Ammarah mengatakan,

قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا

Semoga Allah menghinakan kedua tangan ini. Sungguh aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa ketika berkhutbah, tidak lebih dengan mengangkat tangannya seperti ini.

Lalu beliau berisyarat dengan jari telunjuk tangannya. (HR. Muslim 2053, dan Abu Daud 1106).

Hadis kedua, dari sahabat Sahl bin Sa’d Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- شَاهِرًا يَدَيْهِ قَطُّ يَدْعُو عَلَى مِنْبَرِهِ وَلاَ عَلَى غَيْرِهِ وَلَكِنْ رَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا؛ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَعَقَدَ الْوُسْطَى بِالإِبْهَامِ

Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya ketika berdoa di atas mimbar maupun yang lainnya. Namun saya melihat beliau melakukan seperti ini.

Lalu beliau berisyarat dengan jari telunjuknya dan menggenggam jari yang lain. (HR. Abu Daud 1107).

As-Syaukani menuliskan,

والحديثان المذكوران في الباب يدلان على كراهة رفع الأيدي على المنبر حال الدعاء

Dua hadis yang disebutkan dalam masalah ini menunjukkan dibencinya mengangkat kedua tangan ketika berdoa di atas mimbar. (Nailul Authar, 3/322).

Penegasan lain juga disampaikan Syaikhul Islam,

ويكره للإمام رفع يديه حال الدعاء في الخطبة وهو أصح الوجهين لأصحابنا لأنَّ النبي صلى الله عليه وسلم إنَّما كان يشير بأصبعه إذا دعا

Dibenci bagi imam untuk mengangkat kedua tangan ketika berdoa pada saat khutbah. Inilah pendapat yang kuat dalam madzhab hambali. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya berisyarat dengan telunjuknnya ketika berdoa. (al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyah, hlm. 440).

Kedua, cara makmum ketika mendengar doa imam

Bagi makmum, dibolehkan untuk mengaminkan imam. Dr. Abdul Aziz al-Hujailan mengatakan,

لا إشكال في جواز التأمين على دعاء الخطيب في خطبة الجمعة ، والجهر به عند من يقول بعدم حرمة الكلام حال الخطبة وهم الشافعية في القول الصحيح عندهم

Kita meyakini, boleh mengaminkan doa khatib ketika khutbah jumat. Dan boleh mengeraskannya, menurut pendapat yang menyatakan tidak haram berbicara ketika khutbah, yaitu madzhab Syafiiyah berdasarkan pendapat yang kuat dalam madzhabnya.

Baca Juga : Ingin Terbebas dari Pikiran Kotor yang Bisa Mengundang Murka Allah Ta’alaa? Lakukanlah Amalan Berikut Ini!

Dr. Abdul Aziz juga menyebutkan pendapat hambali,

وأما من قال بتحريم الكلام حال الخطبة مطلقا فلم أطلع على قول لهم في ذلك إلا الحنابلة في الصحيح عندهم فإنهم قالوا : يسن التأمين سرا ، وهو اختيار شيخ الإسلام

Sementara menurut ulama yang mengharamkan bicara secara mutlak bagi makmum ketika mendengar khutbah, saya tidak menjumpai satu pendapat mereka selain madzhab hambali menurut pendapat yang kuat dalam madzhabnya. Mereka menyatakan, ‘Dianjurkan bagi makmum membaca amin dengan pelan.’ Dan ini merupakan pendapat Syaikhul Islam.

(Khutbah al-Jumu’ah wa Ahkamuha al-Fiqhiyah, hlm. 341).

Apakah harus mengangkat tangan?

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Dan yang benar tidak disyariatkan. Mengingat tidak dijumpai adanya riwayat bahwa para sahabat mengangkat tangan ketika mengaminkan doa khatib.

Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

وأما بالنسبة لمن يؤمن خلف دعاء الخطيب فقد اختلف فيه: هل يرفع يديه أم لا ؟ فمنهم من منعه وحجتهم في ذلك أنه لم يثبت الرفع ولو ثبت لنقل إلينا

Untuk makmum yang mengamini doanya khatib, ada perbedaan pendapat, apakah harus mengangkat tangan ataukah tidak? Ada yang berpendapat, tidak perlu mengangkat tangan. Alasan mereka, tidak adannya riwayat yang menganjurkan angkat tangan ketika berdoa. Andaikan ada riwayat, akan ada nukilan yang sampai ke kita. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 4095)

Sehingga untuk makmum, dia mengaminkan doa imam, namun dengan suara pelan dan tidak perlu mengangkat tangan.

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Berapa Jumlah Rakaat Shalat Dhuha yang Disyari’atkan?

Originally posted 2017-11-02 22:07:07.