Bagaimana Hukum Jual Beli Burung Berkicau?

Sumber foto dari google.com

HIJAZ.ID Dewasa ini, banyak sekali orang yang beralih hobi menjadi kolektor burung hias atau juga burung berkicau. Hal tersebut semakin menjamur dan secara ekonomi, bisnis ini begitu menjanjikan.

Tetapi, penting untuk diketahui mengenai kedudukan hukum jual beli burung ini. Bahkan, dalam transaksi jual beli, baik binatang maupun benda lainnya, yang lebih diperhatikan adalah status manfaatnnya. Artinya, selama benda itu halal dimanfaatkan maka dia boleh diperjual belikan, kecuali jika ada dalil yang melarang. Jadi, bagaimana hukumnya? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ammi Nur Baits.
Para ulama membuat satu kaidah,

كُلُّ مَا صَحَّ نَفْعُه صَحَّ بَيْعُه إِلَّا بِدَلِيلٍ

“Semua yang boleh dimanfaatkan, boleh diperjualbelikan, kecuali jika ada dalil”

Dalam kaidah ini, benda yang boleh diperjualbelikan adalah benda yang boleh dimanfaatkan. Ada 2 syarat agar benda itu bisa disebut boleh dimanfaatkan:

  1. Benda ini ada manfaatnya.

Benda yang sama sekali tidak ada manfaatnya, tidak boleh diperjualbelikan. Misalnya, serangga kecil, kutu, yang sama sekali tidak ada manfaatnya.

2. Manfaat benda ini hukumnya mubah.

Sehingga benda yang tidak bermanfaat kecuali untuk sesuatu yang haram, tidak boleh diperjual-belikan. Seperti patung, alat musik, rokok, dan benda-benda fasilitas maksiat lainnya.

Burung Manfaatnya Mubah

Burung kecil atau ikan hias, dimiliki tidak untuk dikonsumsi. Nilai dagingnya sangat tidak sebanding dengan harga belinya. Dia dihadirkan di rumah kita sebagai hiasan. Dan ini manfaat mubah.

Baca Juga : Dimanakah Tempat Kembali Orang Gila, Surga Atau Neraka?

Sahabat Anas bin Malik memiliki seorang adik bernama Abu Umair. Abu Umair punya burung piaraan, namanya Nughair. Suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan Abu Umair yang sedang menangisi burungnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyapa,

يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ

“Wahai Abu Umair, apa yang sedang terjadi dengan burungmu?” (HR. Bukhari 6129 & Abu Daud 4971)

Dalam hadis di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan Abu Umair memelihara dan bermain dengan burung yang dia pelihara. Beliaupun tidak memerintahkan orang tuanya agar melepas burung tersebut.

Karena itu, burung termasuk benda halal untuk diperjual belikan. Kecuali jika burung itu diperintahkan untuk dibunuh, seperti burung gagak atau burung hering.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,

إنَّ اللهَ إذا حرَّمَ شيئاً ، حرَّمَ ثَمَنَهُ

Sesungguhnya ketika Allah mengharamkan sesuatu, Dia haramkan uang hasil penjualannya. (HR. Ibn Abi Syaibah 20754).

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Inilah Bahaya yang Mengancam Jika Kita Terlalu Cinta Dunia