Apakah Kita Harus Mengeraskan Bacaan Jika Masbuq Shalat Jahriyah?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Shalat merupakan ibadah yang terdiri dari yang sunnah dan wajib. Mengenai shalat wajib, kita ketahui bersama bahwa ada 5 waktu yang ditentukan, yaitu: Shalat Shubuh, Shalat Dzuhur, Shalat Ashar, Shalat Magrib dan Shalat Isya.

Lalu, shalat tersebut akan sangat afdhal jika dilaksanakan dengan berjamaah, khususnya bagi kaum Adam. Lalu, dalam hal shalat berjamaah pun ada beberapa hal yag memang harus dipelajari lagi mengenai kaidah fikihnya. Seperti salah satunya adalah masalah masbuq, jika masbuq shalat jahriyah, apakah sang makmum itu harus mengeraskan bacaannya? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ammi Nur Baits.

Syariat menyamakan yang sama dan membedakan yang beda. Kaidah mengatakan,

لا يجمع بين متفرق ولا يفرق بين مجتمع

“Tidak boleh menyamakan dua hal yang berbeda dan membedakan dua hal yang sama”.

Kaidah ini disebutkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya, ketika membuat judul bab untuk hadis tentang surat Abu Bakar yang isinya rincian nishab zakat hewan ternak.

Ketika orang masbuq mengikuti shalat jamaah, ada 2 keadaan yang dia alami

1. Pada saat dia bergabung bersama jamaah, statusnya adalah makmum. Sehingga berlaku hukum sebagai makmum.

2. Pada saat dia menambahi kekurangan rakaatnya, statusnya adalah munfarid (orang yang shalat sendiri), sehingga berlaku hukum munfarid (orang yang shalat sendirian).

Baca Juga : Bertamu dalam Keadaan Puasa Sunnah, Batalkan Atau Lanjutkan?

Karena statusnya berbeda, hukum yang berlaku juga berbeda.

لا يشترط في التابع ما يشترط في المتبوع

Ketentuan yang berlaku untuk tabi’ (yang mengikuti) tidak sebagaimana ketentuan yang berlaku untuk matbu’ (yang diikuti)

Berangkat dari pemahaman di atas, maka makmum masbuq untuk shalat jahriyah, seperti shalat jumat, shalat subuh, shalat masghrib dan isya untuk dua rakaat pertama, tidak perlu mengeraskan bacaannya, karena ketika masbuq status mereka seperti orang yang shalat sendirian.

Dalam al-Fatawa al-Kubro, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, disebutkan,

مسألة: فيمن أدرك ركعة من صلاة الجمعة، ثم قام ليقضي ما عليه، فهل يجهر بالقراءة أم لا؟

Pertanyaan, untuk orang yang mendapatkan 1 rakaat shalat jumat, lalu menambahi kekurangannya, apakah dia harus mengeraskan bacaannya?

Jawaban Syaikhul Islam,

الجواب: بل يخافت بالقراءة، ولا يجهر ؛ لأن المسبوق إذا قام يقضي فإنه منفرد فيما يقضيه، حكمه حكم المنفرد، وهو فيما يدركه في حكم المؤتم

Makmum memelankan bacaannya, dan tidak mengeraskannya. Karena ketika masbuq berdiri ke rakaat berikutnya, menambahi kekurangannya maka statusnya orang yang munfarid. Sehingga aturan yang berlaku adalah aturan munfarid. Dan ketika dia ikut imam, statusnya sebagai makmum.

Kemudian beliau melanjutkan,

والجمعة لا يصليها أحد منفردا، فلا يتصور أن يجهر فيها المنفرد.  والمسبوق كالمنفرد فلا يجهر، لكنه مدرك للجمعة ضمنا وتبعا، ولا يشترط في التابع ما يشترط في المتبوع

Jumatan tidak mungkin dikerjakan sendirian. Sehingga tidak tergambar, orang yang shalat sendirian mengeraskan bacaannya. Dan orang yang masbuq seperti munfarid, sehingga tidak perlu mengeraskan bacaan. Namun dia mendapatkan jumatan, karena digabungkan dan mengikuti. Sementara aturan untuk yang mengikuti, tidak sebagaimana aturan untuk yang diikuti. (al-Fatawa al-Kubro, 2/361)

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Bolehkah Kita Meng-qadha Dzikir Pagi dan Petang? Bagaimana Caranya?

Originally posted 2017-12-13 06:03:25.