Bagaimana Cara Sujud Ketika Shalat Saat Dahi Sedang Terluka?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Shalat wajib merupakan amalan yang tidak boleh ditinggalkan. Jika pun ada udzur yang dibenarkan oleh syariat, seseorang tersebut berhak mendapat rukhshah atau keringanan dalam melaksanakanannya. Entah itu dengan cara berbaring, isyarat atau wudhunya dilakukan dengan cara tayamum atau perkara lainnya yang berkaitan dengan shalat wajib ini.

Lalu, pada pembahasan kali ini adalah akan membahas mengenai cara bersujud orang yang dahinya sedang terluka. Adakah cara khusus yang disyariatkan? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ammi Nur Baits.

Dalam hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungi orang sakit. Beliau melihat sahabat yang sakit melakukan shalat, dan meletakkan bantal di depannya sebagai alas sujud. Nabi-pun mengambilnya. Orang ini mengambil kayu, ditaruh di depannya, Nabi-pun mengambilnya. Lalu beliau bersabda,

صل على الأرض إن استطعت وإلا فأوم إيماء واجعل سجودك أخفض من ركوعك

Jika kamu mampu, kerjakanlah shalat dengan sujud di tanah. Jika tidak mampu, berisyaratlah. Jadikan sujudmu lebih rendah dibandingkan rukukmu. (HR. al-Baihaqi dalam as-Sughra 622, dan statusnya shahih)

Berdasarkan hadis di atas, orang yang tidak bisa meletakkan dahinya ketika sujud, tidak perlu menggunakan alat bantu, seperti bantal atau kursi ketika sujud. Tapi cukup berisyarat, dimana posisi sujud lebih menunduk dibandingkan posisi rukuk.

Al-Hafidz Ibnu Rajab menjelaskan latar belakangnya,

Beliau menjelaskan rincian di kaidah kedelapan,

القاعدة الثامنة من قدر على بعض العبادة وعجز عن باقيها هل يلزمه الإتيان بما قدر عليه؟

Kaidah kedelapan, orang yang mampu melakukan sebagian ibadah, sementara tidak mampu mengerjakan sebagian yang lain, apakah dia harus melakukan yang mampu dia lakukan?

Baca Juga : Bertamu dalam Keadaan Puasa Sunnah, Batalkan Atau Lanjutkan?

Diantara rincian yang beliau berikan,

والثاني ما وجب تبعا لغيره على وجه التكميل واللواحق

Yang kedua, sesuatu yang wajib karena mengikuti lainnya atau sebagai pelengkap lainnya.

Jika orang tidak mampu melakukan yang utama, sementara dia hanya bisa melakukan pelengkapnya, maka dia tidak perlu melakukan pelengkapnya, sementara meninggalkan yang utama.

Diantara contohnya, dalam gerakan sujud. Yang utama adalah meletakkan wajah di lantai. Sementara yang lainnya mengikuti dan sebagai penyempurna. Karena itu, jika tidak bisa meletakkan wajah, dia tidak harus melakukan sujud dengan meletakkan anggota badan lainnya, sementara wajah tidak diletakkan.

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan,

المريض إذا عجز في الصلاة عن وضع وجهه على الأرض وقدر على وضع بقية أعضاء السجود، فإنه لا يلزمه ذلك على الصحيح، لأن السجود على بقية الأعضاء إنما وجب تبعا للسجود على الوجه وتكميلا له

Orang sakit yang tidak bisa meletakkan wajahnya di tanah, sementara mampu meletakkan anggota sujud lainnya, maka tidak wajib baginya untuk sujud menurut pendapat yang shahih. Karena sujud dengan meletakkan anggota selain wajah, statusnya wajib karena mengikuti sujudnya wajah dan sebagai penyempurna sujudnya wajah. (Taqrir al-Qawaid wa Tahrir al-Fawaid, hlm. 10 – 11)

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Bolehkah Kita Meng-qadha Dzikir Pagi dan Petang? Bagaimana Caranya?