Meninggalkan Shalat Jumat Karena Harus Menangani Pasien, Bagaimana Hukumnya?

Sumber foto dari google.com
HIJAZ.ID Seorang dokter mempunyai kewajiban untuk menangani pasien. Hal tersebut merupakan sudah menjadi suatu keharusan karena tuntutan profesinya memang seperti itu. Tetapi, sebagai seorang muslim, seorang dokter juga mempunyai kewajiban terhadap Allah Ta’alaa, salah satunya adalah shalat.

Lalu, bagaimana jika seorang doter meninggalkan shalat Jumat hanya karena harus menangani pasie, apa hukumnya? Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ammi Nur Baits.

Ada beberapa sebab yang membolehkan seseorang meninggalkan jumatan. Dalam kitab al-Asybah wa an-Nadzair, as-Suyuthi – ulama Syafiiyah – menyebutkan beberapa udzur yang membolehkan seseorang tidak shalat jamaah dan tidak jumaatan. Diantara udzur yang beliau sebutkan adalah menangani orang sakit (al-Asybah wa an-Nadzair, hlm. 439).

Keterangan yang lain disampaikan Ibnu Abidin – ulama Hanafiyah –, beliau menyebutkan beberapan udzur untuk meninggalkan shalat jamaah dan jumatan,

وقيامه بمريض أي يحصل له بغيبته المشقة والوحشة

Atau menangani orang sakit, maksudnya ketika si sakit bisa mendapat kesulitan dan merasa kesepian ketika yang menunggu tidak ada. (Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/556)

Ini berlaku, jika tidak ada orang lain yang bisa menggantikan. Jika ada orang lain yang bisa menggantikan, misalnya ada perawat wanita atau dokter wanita yang tidak wajib jumatan, maka wajib digantikan mereka yang tidak wajib jumatan.

An-Nawawi mengatakan,

قال أصحابنا: من الأعذار في ترك الجماعة : أن يكون مُمَرِّضاً لمريض يخاف ضياعه

Ulama kami – syafiiyah – mengatakan bahwa termasuk udzur meninggalkan shalat jamaah adalah posisi dia sebagai perawat orang sakit, yang dikhawatirkan akan membahayakan pasiennya. (al-Majmu’, 4/100).

Di sini mereka berbicara tentang udzur meninggalkan shalat jamaah, namun aturan ini juga berlaku untuk jumatan. Dalam Hasyiyah Ibnu Abidin dinyatakan,

قال الحسن: أفادت هذه الرواية أن الجمعة والجماعة في ذلك سواء

Al-Hasan mengatakan, riwayat ini menunjukkan bahwa udzur jumatan maupun shalat jamaah, itu sama. (Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/555)

Baca Juga : Bertamu dalam Keadaan Puasa Sunnah, Batalkan Atau Lanjutkan?

Inilah yang menjadi pertimbangan fatwa Lajnah Daimah, yang membolehkan meninggalkan jumatan karena udzur menangani orang sakit. Lajnah ditanya tentang dokter yang jaga di rumah sakit bertepatan dengan waktu jumatan. Apa yang harus dilakukan dokter ini?

Jawaban Lajnah,

الطبيب المذكور في السؤال قائم بأمر عظيم ينفع المسلمين ، ويترتب على ذهابه إلى الجمعة خطر عظيم ، فلا حرج عليه في ترك صلاة الجمعة ، وعليه أن يصلي الظهر في وقتها، ومتى أمكن أداؤها جماعة وجب ذلك ؛ لقول الله سبحانه: ( فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ ) ، فإذا كان من الموظفين من يتناوب معه وجب عليهم أن يصلوا الظهر جماعة

Dokter tersebut sedang melakukan tugas besar yang manfaatnya besar bagi kaum muslimin. Yang jika dia tinggal untuk jumatan, bisa mengancam bahaya besar. Karena itu, tidak masalah baginya untuk meninggalkan jumatan. Namun dia wajib shalat dzuhur di waktunya. Dan selama memungkinkan untuk mengerjakan dzuhur secara berjamaah, wajib untuk dia lakukan. Berdasarkan firman Allah (yang artinya), “Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian.” Jika ada beberapa karyawan yang mendapat tugas bersamanya, maka mereka semua wajib shalat dzuhur berjamaah. (Fatwa Lajnah Daimah, 8/190).

Kesimpulannya, ada beberapa tahapan yang bisa dilakukan ketika jadwal jaga bertabrakan dengan jumatan:

  1. Mencari dokter pengganti yang tidak wajib jumatan

2. Jika tidak ada, boleh tidak jumatan, namun nanti shalat dzuhur setelah dokter lain sudah pulang jumatan

3. Jika ada beberapa dokter dan karyawan yang juga tidak jumatan, maka mereka tetap wajib shalat jamaah di mushola rumah sakit atau di ruang shalat yang disediakan.

Wallahu a’lam bish shawab.

Baca Juga : Bolehkah Kita Meng-qadha Dzikir Pagi dan Petang? Bagaimana Caranya?

Originally posted 2017-12-15 05:54:45.